Tautan-tautan Akses

Upaya Atasi Limbah Plastik, Manfaatkan Material Pembuat Jalan dan Inovasi Masyarakat

  • Petrus Riski

Workshop Inovasi Pengurangan Limbah Plastik untuk Hilirisasi Industri dan Masyarakat di kampus ITS Surabaya, 31 Agustus 2017. (Foto: VOA-Petrus Riski).

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar seminar dengan tema Inovasi Pengurangan Sampah Plastik untuk Hilirisasi Industri dan Masyarakat. Dalam diskusi ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) juga menyampaikan berbagai upaya pengurangan sampah plastik.

Limbah plastik saat ini telah menjadi ancaman bagi lingkungan hidup yang pada gilirannya akan berimbas pada kehidupan manusia, karena sifatnya yang tidak dapat hancur dengan sendirinya, dan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk hancur secara alami.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mulai melakukan inovasi dengan memanfaatkan limbah plastik untuk material pembuat jalan. Menurut Kepala Balai Perkerasan Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Nyoman Suaryana, bahan dari limbah plastik saat ini telah diuji coba untuk dipakai sebagai bahan pembuat jalan, salah satunya di Bali, Jakarta dan dalam waktu dekat akan dibuat juga di Pasuruan dan Makassar.

“Kalau misalkan jalannya satu kilometer, dengan lebar tujuh meter, kemudian kalau tebal kurang lebih empat centimeter, itu bisa menyerap kurang lebih dua ton sampai empat ton limbah plastik,” kata Nyoman Suaryana.

Dalam uji coba yang telah dilakukan di Bali, Nyoman Suaryana memastikan kondisi jalan beraspal dengan menyertakan material dari limbah plastik tidak kalah kuat dibandingkan dengan jalan aspal murni. Nyoman mengatakan, bahan plastik khusus sudah sejak lama dipakai sebagai campuran aspal jalan, namun kali ini pemerintah mulai memakai material plastik dari sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.

“Dari sisi kekakuan lebih bagus, jadi memang sebenarnya untuk memperbaiki kekuatan aspal sudah biasa pakai polimer, tapi polimer yang terkontrol, misalkan produk khusus memang untuk aspal polimer. Kalau dibalik, plastik ini kan polimer juga, hanya bedanya plastik ini kan tidak homogen, plastik kresek pun ada yang warna merah, ada yang warna putih, ada yang warna hitam. Jadi secara prinsip sebenarnya dia memperbaiki, tapi kita harus hati-hati karena ketidak homogenannya tadi, sehingga kita harus batasi pemakaiannya,” lanjutnya.

Terkait pemanfaatan limbah plastik atau kantong kresek sebagai bahan material pembuat jalan, Nyoman berharap ada aturan yang dibuat oleh pemerintah untuk menyikapi potensi sampah plastik sebagai material penunjang pembangunan.

Nyoman berharap, pihak industri juga terlibat dengan membuat alat-alat penunjang untuk pengolahan sampah plastik sebagai material pendukung pembangunan.

“Industrinya harus diperbaiki dulu. Sekarang itu kan bank-bank sampah atau pengelolaan sampah masyarakat itu kan belum punya alat pencacahnya untuk tas kresek ini, kalau untuk botol (plastik) sudah ada, sudah biasa, tapi untuk tas kresek belum punya yang kecil-kecil itu. Nah mungkin kita harus siapkan dulu itu, sehingga nanti harapannya kan kalau sudah banyak di masyarakat nanti juga harganya (sampah plastik) bisa naik,” jelas Nyoman Suaryana.

Sementara itu, peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sigit Tri Wicaksono mengatakan, sampah plastik jangan hanya dipandang sebagai beban, melainkan potensi yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bernilai.

Sigit mengatakan, dirinya bersama tim di ITS telah mulai memanfaatkan limbah plastik sebagai material untuk konstruksi, seperti paving, dinding, atap dan aspal. Sigit berharap, limbah plastik dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang bernilai guna.

“Rencana kami sih, target akhirnya itu bisa membuat prototype rumah, rumah beneran, seluruhnya dari limbah plastik. Mulai dari lantai, dinding, atap, terus konektor-konektornya, pintu itu, engsel-engsel, semua dari plastik, rencananya begitu,” jelas Sigit Tri Wicaksono.


Peneliti ITS, Freddy Kurniawan mengatakan, penggunaan kemasan plastik pada produk makanan sudah saatnya berganti dengan menggunakan bioplastik. Memanfaatkan bahan dari alam Indonesia, Freddy berharap plastik kemasan bisa dikurangi dan diganti dengan bioplastik atau plastik yang dibuat menggunakan zat yang diambil dari bahan pangan nasional.

“Dari bahan alam, bahan alam macam-macam, kalau misalnya kemasan yang kita pakai ini dari Porang, tapi bisa juga dari Jagung, dari Singkong, dari macam-macam bahan alam yang kita punya bisa. Kalau yang porang ini untuk kapsul dan kemasan permen bisa, kemasan lain kita belum coba untuk aplikasinya. Sebenarnya, bahannya sama sebenarnya, tinggal modifikasi fillernya,” kata Freddy Kurniawan. [pr/lt]

XS
SM
MD
LG