Tautan-tautan Akses

AS

Trump Lancarkan Serangan di Twitter Terkait Buku John Bolton


Presiden AS Donald Trump bersama penasihat keamanan nasional AS John Bolton (kanan) pada konferensi pers di markas NATO di Brussels, Belgia 12 Juli 2018 (foto: dok).

Presiden Amerika Donald Trump melancarkan serangan besar hari Kamis (18/6) terhadap mantan penasihat keamanan nasionalnya John Bolton setelah Bolton dalam buku barunya menyebut pemimpin Amerika itu sebagai panglima tertinggi yang “tidak menentu” dan “luar biasa tidak berpengetahuan.”

Trump, dalam serangkaian komentar yang pedas lewat Twitter, menyebut buku Bolton itu sebagai “kumpulan kebohongan dan cerita karangan, semua dimaksudkan untuk membuat saya kelihatan buruk. Banyak pernyataan konyol yang dikatakan tentang saya sama sekali tidak pernah ada, fiksi murni. Hanya berusaha membalas dendam karena saya memecatnya seperti anak anjing yang sakit!”

Presiden Amerika itu juga menyebut Bolton “orang bodoh membosankan yang tidak puas dan yang hanya ingin pergi berperang. Tidak tahu apa yang terjadi. Dia telah disingkirkan dan dengan senang hati dibuang. Dasar tolol! ”

Trump jarang mengakui kesalahan selama 3 ½ tahun masa kepresidenannya. Tetapi, dia mengirim cuitan bahwa pada satu waktu dalam awal masa jabatan Bolton selama 17 bulan di

Gedung Putih tahun 2018 dan tahun lalu dia “seharusnya sudah memecatnya saat itu juga!” Dia mengatakan Bolton “dengan bodohnya” berkomentar tentang pandangan Amerika tentang masa depan Korea Utara dalam sebuah acara bincang-bincang berita sehingga mempersulit Trump ketika dia memulai perundingan dengan diktator Korea Utara, Kim Jong Un.

Gedung Putih sedang sedang berusaha memperoleh perintah pengadilan untuk memblokir buku setebal 577 halaman itu yang dijadwalkan akan diterbitkan minggu depan.

Gedung Putih mengklaim buku berjudul, “The Room Where It Happened,” itu berisi informasi keamanan nasional yang harus dirahasiakan meskipun beberapa kantor berita Amerika telah memperoleh salinannya, dan pada hari Rabu mulai menulis laporan luas tentang tuduhan Bolton itu.

Bolton, yang mendapat persekot $ 2 juta untuk bukunya, mengatakan bahwa Trump meminta Presiden China Xi Jinping untuk membeli lebih banyak hasil pertanian dari daerah pertanian Amerika untuk membantu Trump memperoleh dukungan dalam pemilihan di daerah pedesaan di berbagai negara bagian. [lt/ii]

XS
SM
MD
LG