Tautan-tautan Akses

Tingkat Positif Covid-19 Indonesia 3 Kali Lipat Standar WHO


Para perawat tiba di sebuah hotel di Karawaci, provinsi Banten yang ditunjuk untuk merawat pasien tanpa gejala (OTG) dan menjemput pasien yang telah pulih dari virus Covid-19, 5 Oktober 2020. (Foto:ADEK BERRY / AFP)

Kasus terkonfirmasi positif virus corona di Tanah Air terus melonjak, bahkan kini tiga kali lipat dari standar Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO).

Juru bicara satuan tugas (Satgas) penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan jumlah kasus COVID-19 di Indonesia terus naik dari waktu ke waktu. Hal ini dibuktikan dengan tingkat positif COVID-19 di Indonesia yang mencapai 16,11 persen.

“Hal yang menjadi tantangan adalah positivity rate atau tingkat positif. September positivity rate di Indonesia mencapai 16,11 persen atau tiga kali lebih besar dari standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu lima persen,” ungkap Wiku dalam telekonferensi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/10).

Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Istana Presiden , Jakarta, Selasa (6/10) mengatakan positivity rate di Indonesia tiga kali lipat dari standar WHO (Setpres RI)
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Istana Presiden , Jakarta, Selasa (6/10) mengatakan positivity rate di Indonesia tiga kali lipat dari standar WHO (Setpres RI)

Angka tersebut, kata Wiku harus terus ditekan dengan cara tiga T yakni memperbanyak testing, treatment, dan juga tracing. Tidak lupa ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan.

Wiku menjelaskan, jika dibandingkan dengan dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-137 dari 216 negara dengan jumlah kasus di atas 1.120 per satu juta penduduk.

“Artinya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, jumlah kasus di Indonesia masih lebih sedikit dari 78 negara lainnya di dunia,” katanya.

Sedangkan untuk jumlah kematian, Indonesia berada di peringkat 102 dari 216 negara dengan jumlah kematian di atas 41 per satu juta penduduk. Meskipun peringkat ini dinilai Wiku cukup baik, namun pemerintah terus berupaya keras untuk menekan angka kematian.

“Untuk kasus sembuh, Indonesia menduduki peringkat 19 dari 216 negara dengan total keseluruhan mencapai 232.593 orang. Kesembuhan ini harus terus kita tingkatkan. jangan berpuas diri dengan peringkat yang baik,” imbuhnya.

Kasus Aktif Corona di Indonesia di Bawah Rata-Rata Global

Jumlah kasus aktif COVID-19 di Indonesia sampai dengan saat ini mencapai 63.365 atau 20,4 persen. Angka tersebut sedikit di bawah rata-rata kasus aktif global yang mencapai 21,8 persen.

Untuk kasus sembuh, sejauh ini sudah mencapai 236.437 atau 76 persen. Jumlah ini sudah di atas rata-rata kasus sembuh global yang mencapai 75,2 persen.

Namun, rata-rata kasus meninggal masih terus naik. Tercatat angka kematian kumulatif mencapai 11.374 atau 3,7 persen. Jumlah ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata kematian dunia yang mencapai 2,92 persen.

Kasus Corona Turun 7,4 Persen Dalam Sepekan

Dalam kurun waktu satu minggu, kasus COVID-19, kata Wiku turun 7,4 persen. Beberapa wilayah dengan kenaikan kasus positif mingguan pun berbeda dengan pekan sebelumnya.

Tingkat Positif Covid-19 Indonesia 3 Kali Lipat Standar WHO
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:38 0:00

Adapun lima provinsi dengan penambahan kasus positif terbesar selama sepekan adalah Maluku (152 kasus), Riau (131 kasus), Gorontalo (107 kasu), Sulawesi Barat (99 kasus) dan Aceh (97 kasus).

“Ini artinya bagi Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan Jawa Tengah yang minggu lalu masuk ke dalam lima besar seluruhnya dapat menekan angka kasusnya dengan baik bahkan mengalami penurunan jumlah kasus mingguan. kami apresiasi kepada lima provinsi ini dan jangan berpuas diri, tetap tekan kasus terus angka kasusnya hingga tidak ada penambahan kasus sama sekali,” jelasnya.

Sejalan dengan perkembangan kasus positif, jumlah kematian pada pekan ini juga menurun 7,7 persen dari pekan sebelumnya. Adapun provinsi yang sudah berhasil menekan angka kematian adalah Jawa Tengah, Banten, dan Riau.

Meski kasus positif dan angka kematian menurun dalam pekan ini, angka kesembuhan juga menurun sebanyak 0,9 persen.

Lima provinsi dengan kenaikan angka kesembuhan terbanyak adalah Sulawesi Selatan (894), Riau (471), Sumatera Utara (294), Sumatera Selatan (207) dan Bali (180).

Zona Risiko Tinggi COVID-19 Menurun

Berdasarkan peta zonasi risiko per 4 Oktober,telah terjadi penurunan jumlah zona risiko tinggi atau merah dari 62 menjadi 54 kabupaten/kota. Sedangkan untuk zona risiko sedang atau orange naik tipis menjadi 307 dari semula 305 kabupaten/kota.

Zona kuning atau daerah dengan risiko rendah juga mengalami kenaikan dari 112 menjadi 121 kabupaten/kota.

“Sedangkan untuk zona hijau atau wilayah dengan tidak ada kasus baru semakin menurun, dari sebelumnya 19 menjadi 17 kabupaten/kota,” paparnya. Wilayah yang tidak terdampak virus corona juga menurun dari semula 16 menjadi 15 kabupaten/kota.

Jumlah Testing PCR Mendekati Standar WHO

Perlahan namun pasti, jumlah testing PCR per minggunya terus meningkat. Wiku mengungkapkan pada pekan pertama di Oktober ini, jumlah testing PCR di tanah air sudah mencapai 70,13 persen dari target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Kita harus kejar terus sehingga benar-benar dapat mencapai 100 persen target dari WHO yakni 267.000 orang yang dites per minggu,” kata Wiku.

Sepuluh Kandidat Vaksin COVID-19 di Dunia Masuk Tahap III Uji Klinis

Perkembangan uji coba vaksin COVID-19 di seluruh dunia terus dilakukan. Berdasarkan informasi dari WHO Draft Landscape of Covid-19 Vaccine Candidate yang diperbarui per (2/10), ujar Wiku,sudah ada sepuluh vaksin corona di dunia, yang masuk dalam tahap III uji klinis.

“Yang masuk fase III tersebut adalah Sinovac, Wuhan Institute of Biological Products atau Sinopharm, Janssen Pharmaceutical Companies (Johnson & Johnson Group), Cansino Biologics Incorporation atau Beijing Institute of Biotechnology, Gamaleya Research Institute, BioNtech atau Fosun Pharma Pfizer, University of Oxford atau AstraZeneca, Novavax, Moderna atau NIAID, Beijing Institute of Biological Products atau Sinopharm,” jelas Wiku.

Adapun kandidat vaksin yang sudah mengadakan kerja sama dengan Indonesia di antaranya adalah Sinovac yang bekerja sama dengan PT Bio Farma (persero) yang telah memasuki uji klinis tahap III di Bandung, Jawa Barat. Kemudian, Sinopharm yang saat ini sedang mengadakan kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA).

“Di mana uji klinis fase III sedang berlangsung dengan target subjek 22.000 orang. Kerja sama dengan pemerintah Indonesia melalui PT Kimia Farma yang bekerja sama dengan G42 di UEA,” jelasnya.

Ketiga, Genexine di Korea yang bekerja sama dengan PT Kalbe Farma dan telah memasuki uji klinis fase I dan IIA di Korea.

“Selain kerja sama multilateral, pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan vaksin dalam negeri seperti konsorsium pengembangan vaksin merah putih yang dipimpin lembaga biologi molekuler Eijkman dan Kemenristek,” paparnya. [gi/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG