Tautan-tautan Akses

Penanaman Pohon Sukun di Lereng Gunung Kelud, Upaya Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat


Sejumlah anak muda membawa tanaman Sukun untuk ditanam di lereng Gunung Kelud, Kediri. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Letusan Gunung Kelud, di Kediri, Jawa Timur, membuat sebagian kawasan baik permukiman maupun lahan pertanian mengalami kerusakan. Beberapa wilayah yang rusak dan gundul perlu dihijaukan kembali melalui upaya penanaman tanaman yang mampu menjaga kawasan supaya tidak longsor.

Ratusan orang dari berbagai komunitas melakukan aksi tanam pohon di lereng Gunug Kelud, di wilayah Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Lebih dari seribu pohon sukun ditanam di lereng Gunung Kelud, yang sempat gundul akibat tertimpa material letusan Gunung Kelud pada Februari 2014 lalu. Gerakan ini dimotori Gubug Lazaris, wadah pengembangan pertanian organik yang ada di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Menurut penanggungjawab Gubug Lazaris, Romo Hardo Iswanto, CM, selaku penggerak aksi penghijauan, dilakukannya penghijauan di lereng Gunung Kelud untuk mengembalikan fungsi lingkungan hidup yang ada di kawasan itu.

“Kelud kan sering meletus, dan berkali-kali Kelud itu dampak letusan gunung itu pasti juga akan merusak alam, merusak lingkungan. Maka kita bukan soal obyeknya yang penting, tetapi lingkungan yang membutuhkan penghijauan itu yang kita utamakan, dan kita juga mendekati masyarakat supaya kerja sama. Itu mengapa milih Kelud, karena Kelud itu lebih membutuhkan dari pada tempat lain,” ujar Romo Hardo Iswanto.

Aksi penghijauan dengan menanam seribu pohon sukun di lereng Gunung Kelud, diapresiasi warga Desa Sugih Waras. Menurut Kepala Desa Sugih Waras, Sukemi, wilayahnya memang memerlukan penghijauan dengan menanami tanaman keras atau pohon tegakan, yang mampu menjadi pelindung sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Dengan kegiatan ini tentunya kita sebagai warga itu dituntut ikut handarbeni (memiliki), ikut antusias dalam rangka menjaga lingkungan. Tentunya untuk penghijauan itu tidak ada batas waktunya, karena di sana sendiri tidak adanya tanaman terutama yang ada di atas, itu juga mungkin sudah banyak yang mati, terus juga mungkin karena setiap kali meletus itu kan pasti terbakar, tapi kalau kita tidak dari kita-kita yang berpikit ke situ (penghijauan), itu nantinya dampaknya juga bisa ke kita semuanya,” papar Sukemi.

Para relawan menanam Sukun di lereng Gunung Kelud untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus sebagai investasi ekonomi bagi warga. (Foto: VOA/Petrus Riski)
Para relawan menanam Sukun di lereng Gunung Kelud untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus sebagai investasi ekonomi bagi warga. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Tanaman sukun dipilih karena tidak mungkin ditebang kayunya untuk kebutuhan industri. Selain itu, tanaman sukun dapat menghasilkan buah sukun yang bernilai ekonomis bagi warga desa. Sukemi berharap, masyarakat dapat memanfaatkan tanaman penghijauan ini untuk menambah penghasilan keluarga, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

"Sukun sendiri itu kan tanaman keras, yang mungkin tidak bisa ditebang tapi dimanfaatkan untuk buahnya. Yang jelas nanti selain itu untuk juga penghijauan, juga untuk menahan erosi, manfaatnya buahnya juga bisa untuk olahan kripik, terutama di sini kan daerah wisata, itu memang sangat bagus sepali prospeknya ke depan, itu biar dari UMKM sendiri nanti bisa semakin menambah ekonominya, dengan mungkin dari kripik sukun itu. Kalau di sini yang paling sering diharapkan masyarakat itu untuk tanaman seperti buah-buahan, seperti duren, ada alpukat, harapannya nanti desa sendiri juga akan memprogramkan kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat,” tambah Sukemi.

Penanaman Pohon Sukun di Lereng Gunung Kelud, Upaya Pelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:30 0:00

Romo Hardo menambahkan, pelestarian lingkungan adalah tujuan utama dari gerakan penghijauan ini, karena manfaat sesungguhnya gerakan ini akan dirasakan di masa mendatang.

“Harapan kami itu, tanaman-tanaman itu selamanya hidup tidak ditebang, maka kita cari tanaman yang tidak bisa dipakai kayunya untuk industri, sukun tidak biasa dipakai untuk kayu industri. Maka harapannya tanaman itu lestari, memberi nilai tambah, menghasilkan buah yang bisa untuk gantinya makanan. Tetapi kan ini, istilahnya orang nanam yang tanaman keras itu kan hanya orang-orang yang memikirkan masa depan, bukan kita yang memanen, tapi mungkin orang lain yang memanen bahkan generasi berikutnya yang memanen. Dan kita ingin menghadirkan semangat mencintai lingkungan, mencintai alam itu, bukan kita yang ingin mendapat hasil, tetapi biarlah alam nanti yang mengatur hasilnya itu untuk siapa,” imbuhnya. [pr/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG