Tautan-tautan Akses

Populasi Orangutan Turun Drastis sampai 100.000 Sejak Tahun 1999


Orangutan dengan bayinya di Ekosistem Batang Toru di Tapanuli, Sumatra Utara, Indonesia. (James Askew / Program Konservasi Orangutan Sumatera via AP)

Studi paling komprehensif tentang orangutan di Kalimantan memperkirakan jumlah populasi orang melorot lebih dari 100.000 sejak tahun 1999, karena perkebunan kelapa sawit dan perindustrian kertas menyusutkan habitat mereka di hutan dan konflik-konflik fatal dengan penduduk meningkat.

Temuan tersebut akan dimuat di jurnal Current Biology, sejalan dengan temuan International Union for Conservation (IUCN) (Persatuan Internasional Konservasi Alam) tahun 2016 yang mengklasifikasi orangutan Kalimantan sangat terancam.

Tim periset dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology dan beberapa institusi lainnya menyatakan populasi semula kera-kera besar berambut pirang yang sifatnya lemah –lembut ini ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya tapi demikian juga angka penurunan jumlahnya.

Angka penurunan paling dramatis ditemukan di daerah-daerah dimana banyak hutan tropis ditebang dan dijadikan perkebunan kelapa sawit, yang digunakan dalam sebagian besar produk konsumen, dan juga untuk kayu.

Tetapi penurunan signifikan pada populasi orangutan terjadi di beberapa daerah penebangan hutan-hutan tertentu.

“Di daerah hutan-hutan seperti itu tekanan manusia, seperti pembunuhan akibat konflik, perburuan liar, dan pengumpulan bayi orangutan bagi perdagangan hewan peliharaan barangkali merupakan faktor-faktor utama menurunnya populasi orangutan” kata tim penulis studi tersebut."

Awal bulan ini, seekor orangutan mati di Kalimantan, wilayah Indonesia, setelah ditembak sedikitnya 130 kali dengan senapan angin, ditikam dan dipukuli, pembunuhan seekor orangutan kedua yang diketahui tahun ini di wilayah Kalimantan.

Erik Meijaard, seorang pakar pelestarian konservasi yang terlibat dalam studi tersebut, mengatakan populasi orangutan di Kalimantan saat ini diperkirakan berkisar antara 75.000 sampai 100.000.

Baca juga: Orangutan Albino Perlu Hutan Khusus

Dia mengatakan perkiraan tersebut bervariasi karena ketidakpastian tentang seberapa banyak satwa yang hidup di sejumlah habitat yang asing bagi mereka seperti perkebunan dan hutan-hutan yang sudah terbakar habis.

Menurut IUCN, jumlah orangutan ini bisa turun menjadi 47,000 pada tahun 2025 dari estimasi populasinya tahun 2016 sekitar 105,000.

Orangutan Sumatra, spesies yang berbeda dari yang di Kalimantan, bahkan lebih terancam kepunahannya, yang populasi diperkirakan sekitar 12.000 ekor.

Dalam suatu perkembangan positif, studi baru itu mendapati seekor orangutan Kalimantan lebih tangguh dan mudah beradaptasi dari perkiraan semula. Orangutan Kalimantan ternyata lebih sering berjalan-kaki di atas tanah daripada perkiraan sebelumnya dan bisa makan tumbuh-tumbuhan yang tak pernah menjadi bagian makanan alami mereka.

Beberapa penulis berpendapat hal ini memungkinkan orangutan bertahan hidup di hutan-hutan kecil dan di lokasi-lokasi di mana hutannya sudah terpisah-pisah.

“Namun, ada satu hal yang tidak dapat mereka atasi, adalah tingginya angka pembunuhan yang terlihat dewasa ini, '' kata salah seorang peneliti, Serge Wich dari Liverpool John Moores University.

“Orangutan merupakan spesies satwa yang pembiakannya sangat lambat,” kata Segie Wich dalam sebuah pernyataan. “Jika hanya satu dalam 100 orangutan dewasa dipindahkan dari satu populasi per tahun,populasi ini kemungkinan besar akan punah.” [mg/is]

XS
SM
MD
LG