Tautan-tautan Akses

Sudan Selatan Lanjutkan Produksi Minyak di Bekas Wilayah Pemberontak


Menteri Perminyakan Sudan Selatan, Ezekiel Lul Gatkuoth (kanan) dan Menteri Perminyakan Sudan, Azhari Abdel Qader menghadiri dibukanya kembali produksi minyak di Unity, Sudan Selatan (21/1).

Minyak kembali dipompa dari ladang-ladang di bekas negara bagian Unity, Sudan Selatan, lima tahun setelah produksi dihentikan karena pertempuran antara tentara pemerintah dan pemberontak.

Awow Daniel Chuang, Dirjen Otoritas Minyak, yang merupakan bagian dari Kementerian Perminyakan Sudan Selatan, mengatakan produksi dilanjutkan di daerah-daerah negara bagian itu pada akhir 2018, setelah para pekerja memperbaiki beberapa ladang minyak yang rusak selama bentrokan.

"Kami juga berusaha memulihkan kembali ladang-ladang lainnya, karena memiliki lima ladang di daerah itu. Jadi sekarang kami punya dua ladang yang sudah berfungsi dan sisanya adalah ladang Amanga, Naar lalu Alhar akan segera beroperasi," kata Chuang.

Ia mengatakan produksi masih terbatas sekitar 20.000 barel minyak per hari di negara bagian itu.

Ekspor minyak diperkirakan menjadi sebagian besar pendapatan luar negeri Sudan Selatan ketika negara itu meraih kemerdekaan dari Sudan pada 2011. Tetapi perang saudara yang pecah pada akhir 2013 membuat produksi minyak hampir berhenti total.Chuang mengatakan begitu pembangkit listrik baru dibuka di Juba, maka hal itu akan memungkinkan pemerintah meningkatkan produksi minyak hingga 60.000 barel per hari menjelang akhir tahun.

"Jika kami memiliki listrik yang cukup, kami bisa membuka lebih banyak ladang minyak dan kami mengharapkan lebih banyak minyak dari negara bagian Unity," tambah Chuang.

Kelangkaan energi dan terbatasnya kapasitas di kilang minyak Khartoum menurut Chuang mempengaruhi jumlah minyak mentah yang diekstrak di bekas negara bagian Unity. (my)

Recommended

XS
SM
MD
LG