Tautan-tautan Akses

Studi: Pesan yang Salah pada Anak dan Remaja Pengaruhi Kehidupan

  • Carol Pearson

Anak remaja perempuan berdandan pada pameran kecantikan dan fashion terinspirasi oleh acara "Beautycon", acara kumpul blogger fashion dan tokoh YouTube, 28 Mei 2016, di Paris.

Pada awal kehidupan, anak-anak mendapat pesan bahwa anak laki-laki itu kuat dan mampu melakukan apapun, sementara anak perempuan rentan dan memiliki keterbatasan melakukan sesuatu. Itulah hasil penelitian terbaru, yang untuk pertama kalinya mengkaji remaja dan pesan yang diserap dari masyarakat dan orangtua mereka.

Di mana pun mereka tinggal, anak-anak dengan cepat mempelajari apa yang diharapkan dari mereka ketika tumbuh dewasa. Di sebagian besar negara di seluruh dunia, harapan-harapan ini secara kaku dikaitkan dengan peran gender.

Dr. Bob Blum dari John Hopkins Medicine mengatakan, "Ketika kami memulai pekerjaan ini, tidak ada penelitian sama sekali atau pemahaman tentang remaja belia. Ada anggapan bahwa mereka hanya anak-anak, dan mereka tidak mengalami kekerasan berlatar-gender, pesan-pesan gender, pemerkosaan dan hal-hal semacam itu. Apa yang kita lihat adalah di seluruh dunia, remaja memiliki kesadaran yang tinggi dan sangat ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi."

Anak laki-laki belajar bahwa mereka harus kuat, dan bahwa mencari pertolongan berarti lemah. Mereka didorong untuk menjelajahi dunia luar. Sementara anak perempuan mendapat pesan bahwa mereka sepatutnya terlihat baik, menarik, tetapi tidak terlalu baik atau terlalu menarik. Mereka harus menjauhi anak laki-laki supaya tidak mempermalukan keluarga.

Para peneliti menilai pesan-pesan ini bisa merugikan kesehatan mental dan fisik remaja. Hal ini meningkatkan resiko terpapar HIV, pembunuhan, bunuh diri dan kecanduan alkohol.

Para peneliti mewawancarai sejumlah remaja berusia 10 hingga 14 tahun, dan orangtua mereka. Wawancara dipusatkan pada anak-anak miskin di daerah pedalaman di 15 negara, termasuk Amerika.

Menurut Chandra-Mouli dari WHO, "Kemiskinan memiliki dampak yang sangat kuat dalam segala hal."

Pada banyak komunitas, kemiskinan membuat anak laki-laki dikeluarkan dari sekolah dan disuruh bekerja. Sementara anak perempuan dikeluarkan dari sekolah untuk dinikahkan.

"Jika saya melihat seorang anak perempuan di rumah saya sebagai beban, dan beban itu adalah saya harus mengawasinya dengan sangat hati-hati karena saya tidak ingin ia berhubungan seks sebelum menikah, karena jika ia melakukannya maka ia tidak bisa menikah; lalu apa yang harus saya lakukan? Saya mengeluarkannya dari sekolah segera setelah ia mendapat menstruasi. Saya mengawasinya dengan sangat ketat dan saya menikahkannya secepat mungkin," tambah Chandra-Mouli.

Padahal jelas anak perempuan menginginkan hal yang lebih dari itu. Di Nigeria, para peneliti mendapati bahwa anak perempuan ingin bisa menjadi apapun yang bisa dicapai anak laki-laki.

"Terlepas dari jenis kelaminnya, mereka ingin menjadi dokter, profesor. Mereka memiliki aspirasi sangat besar dan ingin mencapainya," kata Bamidele Bello, seorang peneliti.

Di China, anak perempuan dididik dan hampir 90% perempuan memiliki pekerjaan. Tetapi norma budaya bisa membatasi karir mereka. Perempuan juga diharapkan bisa merawat orangtua mereka di rumah, sementara beban ini tidak ada pada anak laki-laki.

Xiayan Zuo, seorang koordinator lapangan penelitian mengatakan, "Budaya tradisional kami mengharuskan perempuan menjadi bawahan laki-laki."

WHO dan Johns Hopkins Medicine bekerjasama melakukan penelitian ini. WHO ingin menggunakan temuan ini untuk merancang program guna mengubah kesalahpahaman tentang norma gender bagi anak-anak di dunia sebelum mencapai usia 15 tahun. [em/al]

XS
SM
MD
LG