Tautan-tautan Akses

Studi: Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja


Pelajar SMU menggunakan ponsel mereka saat sedang bersantap di sebuah restoran di Seoul, 15 Desember 2006. (Foto:dok)

Setidaknya satu dari empat remaja menerima pesan pendek atau sms dan email yang jelas berisi pesan seksual eksplisit, dan setidaknya satu dari tujuh remaja mengirim pesan bernuansa seksual atau dikenal dengan istilah sexts, menurut sebuah studi.

Bahayanya, bila pesan-pesan ini dikirim secara paksa atau dibagikan tanpa izin, akan terasa seperti perisakan siber atau cyber bullying, yang sering menimbulkan konsekuensi kesehatan mental yang berbahaya, kata penulis utama riset tersebut, Sheri Madigan, dari Institut Riset Rumah sakit Anak-anak Alberta dan Universitas Calgary di Kanada, Reuters melaporkan.

Baca: Survei: Pelecehan Online Bungkam Perempuan dan Picu Kekerasan

Lebih dari satu di antara 10 remaja membagikan pesan-pesan seksual ini tanpa persetujuan, menurut hasil studi. Dan satu dari 12 remaja memiliki pesan seksual yang dibagikan ke pihak lain tanpa persetujuan mereka.

“Remaja sekarang sering kali tidak memisahkan kehidupan online dan offline mereka. Buat mereka semuanya sama,” kata Madigan melalui e-mail. “Ini yang sulit dimengerti oleh para orang tua.”

Sebagian besar remaja tidak melaporkan pesan-pesan seksual itu. Bahkan mereka yang mengirimkan atau menerima pesan-pesan seksual, baik dalam bentuk teks, video, atau gambar-gambar, cenderung lebih berani, kata para peneliti dalam laporan yang diterbitkan di jurnal JAMA Pediatrics.

Para periset meneliti kebiasaan mengirim pesan dari 39 hasil studi yang telah diterbitkan dengan melibatkan total 110.380 remaja. Para peserta berusia rata-rata 15 tahun, meski mereka berusia antara 12-17 tahun.

Karena anak-anak sekarang biasanya sudah menggunakan ponsel sejak usia 10 tahun, orang tua harus memperlakukan pesan-pesan seksual atau sexting sebagai pembicaraan sejak dini mengenai seks secara aman dan melindungi kerahasian pribadi mereka secara online, saran Madigan.

Seorang remaja perempuan memegang dua ponsel saat berfoto di pusat kota Shanghai, 22 Oktober 2012.
Seorang remaja perempuan memegang dua ponsel saat berfoto di pusat kota Shanghai, 22 Oktober 2012.

Ketimbang serta-merta melarang sexting, para orang tua juga harus mengajarkan anak-anak mempertimbangkan konsekuensi melakukan sexting dan membantu anak-anak untuk menolak tekanan agar melakukan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman, saran Elizabeth Englander, pengarang tajuk yang menyertai tulisan dan direktur Pusat Pengurangan Agresi di Universitas Bridgewater.

“Remaja sering menganggap orang dewasa sebagai pencemas dan terlalu berlebihan memperkirakan risiko, terutama untuk hal-hal yang melibatkan teknologi. Banyak remaja yang akan berhenti memperhatikan orang dewasa yang mengatakan “jangan lakukan ini,” kata Lisa Jones, seorang peneliti, pada Pusat Riset Kejahatan Pada Anak, di Universitas New Hampshire, di Durham.

“Tapi sexting berisiko dan pastinya membagikan gambar-gambar eksplisit tanpa persetujuan bisa merugikan dan bahkan berpotensi tindakan criminal,” kata Jones, yang tidak terlibat dalam studi itu, melalui email.

Riset ini bukanlah percobaan terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah atau bagaimana sexting bisa mengakibatkan masalah kesehatan bagi remaja. Kekurangan lain dari studi ini adalah studi-studi yang lebih kecil menggunakan definisi sexting yang berbeda dalam definisi masing-masing dan itu menyulitkan upaya menentukan seberapa sering para remaja membagikan pesan pendek atau sms, video atau foto yang berisi pesan seksual secara eksplisit.

Baca: Untung Rugi Perkembangan Digital untuk Anak

Namun hasil penelitian menekankan pentingnya diskusi terbuka mengenai sexting, kata Jones.

“Remaja butuh orang dewasa yang bisa memberikan informasi yang akurat,” kata Jones menambahkan. “Pesan-pesan peringatan mengenai sexting akan menjadi sangat efektif, jika disertakan dalam pendidikan remaja mengenai hubungan romantis, memperlakukan satu sama lain dengan hormat, menghadapi tekanan seksual dan membuat keputusan yang sehat mengenai perilaku seksual.”

Cara paling aman untuk para remaja adalah hindari mengirim gambar-gambar yang mereka tidak ingin tersebar luas di sekolah, kata Dr. Matthew Davis, seorang peneliti di Rumah Sakit Anak Ann & Robert H. Lurie Chicago dan Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern.

“Ketika para remaja membagikan foto-foto, video-video atau pesan-pesan seksual secara eksplisit, mereka memaparkan subyek pengirim sexts dengan risiko perisakan dan perisakan siber serta risiko kesehatan,” kata Davis menambahkan. “Dan ini menjadi nyata ketika sexts disebarkan tanpa seizing yang bersangkutan.” [ft]

XS
SM
MD
LG