Tautan-tautan Akses

Sedikitnya 37 Orang Tewas Akibat Campak di Samoa


Dalam gambar dari video ini, seorang wanita berdoa di depan potret anaknya yang tewas karena campak di Apia, Samoa. Samoa menutup semua sekolahnya, 18 November 2019, dan mengamanatkan agar semua orang mendapat vaksinasi. (Foto: AP)

Organisasi Kesehatan Dunia WHO, Rabu (27/11), mengatakan wabah campak di Samoa telah membunuh sedikitnya 37 orang, WHO menyalahkan anti-vaksin yang membuat negara di Kepulauan Pasifik itu rentan terhadap meluasnya virus tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) memperingatkan penurunan tajam tingkat vaksinasi di Samoa. Negara kepulauan di Samudera Pasifik yang terletak di antara Hawaii dan Selandia Baru itu telah membuka peluang terjadinya “wabah besar.” Saat ini ada 2.500 kasus campak di negara berpenduduk hanya 200 ribu orang itu.

Jumlah korban tewas terus meningkat sejak negara itu mengumumkan adanya wabah campak pada pertengahan Oktober lalu. WHO mengatakan lima orang lainnya meninggal hari Rabu, sehingga total korban meninggal hingga saat ini mencapai 37 orang.

Berita yang dilansir dari AFP mengatakan campak disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk radang paru-paru dan radang otak yang dapat menimbulkan kerusakan permanen dan mematikan, terutama pada anak-anak.

Hanya 31% Balita di Samoa yang Sudah Divaksin Campak

Direktur Departemen Imunisasi WHO, Kate O’Brien, mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa “sangat kecilnya cakupan vaksin campak” merupakan penyebab meluasnya penularan penyakit itu di negara tersebut.

Pada tahun 2018 hanya 31% anak di bawah usia lima tahun yang diimunisasi campak. “Ketika campak memasuki negara seperti itu, ada sekelompok besar orang yang tidak kebal,” ujarnya.

Yang membuat hal ini menjadi tragedi, tambahnya, karena tingkat imunisasi di Samoa sebelumnya jauh lebih tinggi. Empat tahun lalu jumlah orang yang diimunisasi campak mencapai 84%, ujar O’Brien.

Para pejabat mengatakan rendahnya tingkat imunisasi saat ini sebagian dikarenakan kekhawatiran warga akibat meninggalnya dua bayi setelah divaksinasi campak tahun lalu. Hal ini memicu penangguhan sementara program imunisasi dan menurunkan kepercayaan orang tua pada vaksin tersebut, meskipun kemudian terbukti bahwa kedua bayi itu meninggal bukan karena vaksin campak, tetapi karena obat-obatan yang diberikan secara tidak tepat.

Seorang anak laki-laki bereaksi ketika menerima vaksin difteri di sebuah rumah sakit di Sanaa, Yaman, 9 September 2019. (Foto: AP)
Seorang anak laki-laki bereaksi ketika menerima vaksin difteri di sebuah rumah sakit di Sanaa, Yaman, 9 September 2019. (Foto: AP)

Kelompok Anti-Vaksin Sebarkan Informasi Palsu

O’Brien mengatakan kelompok anti-vaksin telah menyulut kekhawatiran warga lebih jauh dengan melakukan kampanye di media sosial.

Misinformasi tentang keamanan vaksin itu, tambahnya, ‘’memiliki dampak sangat besar pada program imunisasi di Samoa.’’

Secara terpisah, Unit Tim Medis Darurat WHO Ian Norton, mengingatkan bahwa wabah itu telah menelan banyak korban jiwa. “Peningkatannya sangat luar biasa,” ujarnya kepada wartawan, merujuk pada 200 kasus baru yang dirawat di rumah sakit setiap hari.

Unit Perawatan Intensif ICU di RS Apia, yang hanya memiliki empat tempat tidur, kini harus merawat 14 anak-anak dengan ventilator. “Ini menimbulkan beban yang sangat besar,” ujar Norton.

Menurutnya vaksinasi massal adalah satu-satunya cara mengatasi wabah campak ini.

UNICEF, WHO dan Beberapa Negara Siap Kirim Tim Medis

Badan PBB Urusan Anak-Anak UNICEF telah mengirim lebih dari 110 ribu dosis vaksin campak. Tim medis dari Australia dan Selandia Baru membantu mengelola pemberian vaksin ini.

Norton mengatakan Inggris juga sedang bersiap mengirim tim medis pendukung.

WHO juga telah menyampaikan permohonan kepada negara-negara lain di kawasan itu untuk segera mengirim tim medis.

Samoa bukanlah satu-satunya negara yang sedang berupaya keras mengatasi wabah campak.

Menurut data WHO, enam bulan pertama di tahun 2019 menunjukkan jumlah kasus campak tertinggi di seluruh dunia sejak tahun 2006. Wabah campak terparah saat ini tengah melanda Republik Demokratik Kongo, sementara ada beberapa wabah besar lain yang juga melanda negara-negara seperti Madagaskar dan Ukraina.

WHO telah memperingatkan pentingnya vaksinasi di seluruh dunia karena gerakan anti-vaksin terus mendapat dukungan, terutama karena klaim palsu yang mengaitkan vaksin MMR dengan campak, gondok dan rubella, yang katanya berpotensi membuat anak-anak menjadi autis. [em]

XS
SM
MD
LG