Tautan-tautan Akses

Saluran Irigasi Rusak, Ribuan Hektare Sawah di Sulteng Belum Dapat Ditanami


Saluran irigasi Gumbasa yang melintasi desa Kalawara di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang tidak lagi berfungsi sejak peristiwa gempa bumi 28 September 2018. (8 Juni 2019) (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, Badan Litbang Pertanian mengungkapkan perbaikan lahan pertanian yang rusak serta integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi yang efisien akan mempercepat petani kembali bercocok tanaman di sawah sambil menunggu pulihnya saluran irigasi Gumbasa. BPTP menyebutkan 7.000 petani terdampak oleh rusaknya areal persawahan seluas 7.356 hektare di Palu, Sigi dan Donggala akibat gempa bumi 28 September 2018.

Dirman (51) petani di desa Sidondo IV, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Rabu siang (10/7) sibuk membersihkan lahan bekas sawah untuk ditanami kacang tanah di lahan setengah hektare miliknya. Kepada VOA, ia mengatakan gempa bumi 28 September 2018 menyebabkan areal persawahan di desanya tidak lagi dapat digunakan untuk menanam padi karena saluran irigasi Gumbasa tidak lagi berfungsi. Ini menyebabkan para petani seperti dirinya mengupayakan jenis tanaman palawija seperti jagung atau kacang tanah.

“Ini semuanya rata sawah semua dulu. Sesudah bencana gempa, itu tidak bisa lagi diusahakan untuk padi. Kalau macam tanaman palawija jagung bisa, itu pun tidak semuanya, separuhnya saja” kata Dirman.

Dirman menceritakan tidak berfungsinya saluran irigasi Gumbasa membuat kegiatan pertanian di desanya itu hanya mengandalkan air hujan yang tidak bisa diprediksi kapan akan turun. Jika hujan turun setelah benih ditanam, ada harapan tanaman mereka bisa tumbuh dengan baik.

“Lalu ini saya tanam kacang tanah disinari matahari, tidak berisi, ada isi cuma satu dua biji, modal saya kurang lebih satu juta, aduh artinya boleh dikata lebih besar pasak daripada tiang itu hasilnya lalu karena musim panas,” keluh Dirman mengenai hasil panen kacang tanah sebelumnya yang kurang mendapatkan air hujan.

Saluran irigasi Gumbasa yang melintasi desa Kalawara di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang tidak lagi berfungsi sejak peristiwa gempa bumi 28 September 2018. (8 Juni 2019) (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Saluran irigasi Gumbasa yang melintasi desa Kalawara di Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang tidak lagi berfungsi sejak peristiwa gempa bumi 28 September 2018. (8 Juni 2019) (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Hingga kini, upaya rehabilitasi irigasi Gumbasa oleh Kementerian PUPR masih terus dilakukan untuk tahap pertama yang mencapai luas 1.070 hektare. Rehabilitasi tahap dua direncanakan mencakup 4.000 hektare.

Situasi sulit yang dialami Dirman merupakan cerminan kondisi serupa yang dialami banyak petani lainnya di Sigi, Palu dan Donggala pascabencana alam di Sulawesi Tengah. Menurut Andi Baso Lompengeng Ishak, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, dari 29.687 hektare luas lahan sawah,7.356 hektare di antaranya terdampak bencana dengan kategori rusak ringan 5.831 hektar, rusak sedang 99 hektare dan rusak berat 583 hektare.

“Nah, yang paling terdampak di kecamatan-kecamatan itu adalah lahan sawah. Kenapa? Karena dia terputus infrastruktur irigasinya. Rusak semua. Yang mana lahan-lahan itu IP300 artinya bisa ditanami bisa panen 3 kali dalam setahun, entah itu padi-palawija-padi, atau padi-padi-palawija, atau ada yang wilayah palawija semua, ”ungkap Andi Baso.

Areal persawahan di desa Sidondo IV, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah yang tidak lagi dapat ditanami padi akibat tidak berfungsinya saluran irigasi Gumbasa. (6 Juli 2019) (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Areal persawahan di desa Sidondo IV, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah yang tidak lagi dapat ditanami padi akibat tidak berfungsinya saluran irigasi Gumbasa. (6 Juli 2019) (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Andi Baso berpendapat fokus upaya pemulihan sektor pertanian dalam masa pemulihan dan rekonstruksi Sulawesi Tengah sebaiknya adalah memulihkan lahan serta integrasi sumur dangkal dan sistem irigasi yang efisien sebagai sumber air, sambil menunggu saluran irigasi Gumbasa berfungsi kembali. Ia meyakini bila kedua hal itu selesai dilakukan, tidak akan sulit untuk mengajak petani-petani yang sebagian di antaranya tinggal di hunian sementara untuk kembali ke sawah.

“Memulihkan kondisi lahan tidak terlalu banyak biayanya apalagi kalau misalnya ada NGO bawa buldoser, bawa loader dia ratakan itu retakan-retakan tanah, dia ratakan kembali itu lahan yang miring-miring, sesudah itu kita tancap sumur untuk airnya,”harap Andi Baso.

BPTP Sulawesi Tengah sejak awal Januari 2019 berupaya membantu petani terdampak melalui dua program jangka pendek untuk mengembalikan usaha tani, yaitu pemanfaatan lahan sekitar hunian sementara (huntara) dan optimalisasi lahan pertanian terdampak ringan dan sedang. Hal ini dilakukan di antaranya untuk membuat para petani dan keluarga yang tinggal di huntara tetap bisa menanam tanaman palawija dan sayur-sayuran serta beternak ayam kampung unggul yang bibitnya disiapkan oleh Balitbangtan.

Dirman (51) menatap ke arah areal persawahan yang tidak lagi dapat difungsikan untuk menanam padi karena tidak adanya pasokan air dari saluran irigasi Gumbasa yang rusak akibat peristiwa gempa bumi 28 September 2018 silam. (10 Juli 2019). (Foto: VOA/Yoane
Dirman (51) menatap ke arah areal persawahan yang tidak lagi dapat difungsikan untuk menanam padi karena tidak adanya pasokan air dari saluran irigasi Gumbasa yang rusak akibat peristiwa gempa bumi 28 September 2018 silam. (10 Juli 2019). (Foto: VOA/Yoane

“Yang pertama dia sibuk, otomatis bisa me-recovery pengalaman traumatik mereka. Yang kedua, setelah ada aktivitas, mudah-mudahan ada hasilnya, bisa dimakan sendiri. Syukur-syukur ada lebih, bisa berbagi dengan tetangga, karena ini berbasis kelompok wanita. Menanam sayur-sayuran, tanaman semusim yang cepat menghasilkan,” lanjutnya.

Data BPTP Sulawesi Tengah menyebutkan kerusakan lahan pertanian menyebabkan setidaknya 7.000 petani yang tergabung dalam 300 kelompok tani di Palu, Sigi dan Donggala kehilangan mata pencaharian utama mereka. Kondisi ini menyebabkan penurunan tingkat rata-rata pendapatan bulanan para petani sebanyak 65 hingga 82 persen. Mereka terpaksa bekerja serabutan, baik sebagai tukang bangunan, tukang batu ataupun sektor jasa lainnya, dengan pendapatan rata-rata antara 500 ribu hingga 900.000 rupiah per bulan. [yl/uh]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG