Tautan-tautan Akses

Rohingya Berharap Kunjungan Penyelidik PBB Mengubah Nasib Mereka


ARSIP – Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk situasi pelanggaran HAM di Myanmar, berbicara saat pelaksanaan konferensi pers (1/7/2016). Yangon, Myanmar. (foto: AP Photo/ Gemunu Amarasinghe)

Kunjungan utusan PBB ke daerah bagian barat Myanmar diharapkan oleh penduduk desa Muslim di negara bagian Rakhine dapat membawa perubahan positif.

Penduduk desa Muslim di negara bagian Rakhine, yang rusuh di bagian barat Myanmar, mengatakan hari Minggu bahwa mereka berharap perubahan positif akan dihasilkan kunjungan utusan PBB ke daerah itu, dimana tentara dituduh melakukan pelanggaran luas terhadap minoritas Muslim, termasuk pembunuhan, perkosaan dan pembakaran ribuan rumah.

Seorang penyelidik khusus hak azasi manusia PBB, Yanghee Lee, mengakhiri kunjungan 3-hari hari Minggu untuk menyelidiki keadaan di bagian utara Rakhine, dimana penindakan tentara telah mengakibatkan kira-kira 65 ribu orang Muslim etnik Rohingya mengungsi ke seberang perbatasan ke Bangladesh dalam 3 bulan terakhir.

“Kita benar-benar berharap agar kunjungannya membawa perubahan positif bagi Rohingya dan kami berharap akan memperoleh hak azasi kami,” kata seorang pria pengungsi Rohingya yang tinggal untuk sementara di desa Kyee Kan Pyin dengan syarat namanya jangan disebut karena alasan keamanan.

Penindakan itu mulai bulan Oktober setelah 9 orang polisi tewas dalam serangan oleh komplotan gelap di perbatasan. Pemerintah dan tentara telah membantah tuduhan pelanggaran dan pembunuhan itu, dengan mengatakan baru-baru ini bahwa mereka hanya melakukan operasi pembersihan di daerah itu.

Penduduk desa dan aktivis Rohingya mengatakan ratusan orang sipil telah tewas, tetapi jumlahnya tidak dapat diverifikasi karena pihak berwenang telah membatasi akses pekerja bantuan kemanusiaan dan wartawan ke daerah-daerah dimana jatuhnya korban jiwa terjadi. Gambar-gambar satelit baru-baru ini menunjukkan ribuan rumah dibakar.

“Kami telah menerima ratusan penduduk desa yang rumah mereka dibakar dan mereka tinggal di desa kami dan mereka tidak dapat pergi kemanapun,” kata penduduk Kyee Kan Pyin Mohammad Hussein.

Walaupun sudah tinggal di Myanmar beberapa generasi, kira-kira 1 juta orang Rohingya dilarang memperoleh kewarganegaraan di negara mayoritas Buddhis yang berpenduduk 50 juta orang itu. Etnik Rohingya hidup sebagai golongan yang paling tertindas di dunia. Lebih dari 100 ribu orang Rohingya masih hidup dalam kamp kumuh pengungsi dalam negeri. [gp]

XS
SM
MD
LG