Tautan-tautan Akses

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Bersumpah Tak Akan Kembali ke Myanmar


Pria-pria Rohingya baru tiba dari Myanmar, di distrik Cox's Bazar, Bangladesh, November 2016.

Kementerian Luar Negeri Bangladesh telah mengeluhkan gelombang pengungsi tersebut dan menuntut pengembalian lebih awal dari semua migran Rohingya ke Myanmar.

Pihak berwenang di Dhaka telah menuntut Myanmar merepatriasi puluhan ribu Muslim Rohingya yang menyeberang perbatasan untuk melarikan diri dari apa yang mereka sebut penyiksaan, dan mereka sekarang tinggal di Bangladesh.

Myanmar mengatakan akan menerima sebagian kecil dari populasi pengungsi yang sekarang ada di Bangladesh, namun orang-orang Rohingya itu sendiri mengatakan mereka tidak bersedia kembali ke negara bagian Rakhine di Myanmar. Para pemimpin komunitas pengungsi meminta kepada negara-negara yang "ramah Rohingya" untuk menampung mereka.

Ko Ko Linn, pemimpin komunitas Rohingya di Bangladesh, mengatakan kepada VOA bahwa kondisi-kondisi di Myanmar tidak memungkinkan mereka untuk tinggal, terutama dalam beberapa minggu terakhir, dan "mereka tidak ingin kembali ke Myanmar yang anti-Rohingya."

Orang-orang Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dalam beberapa dekade terakhir tinggal di permukiman ilegal di Kutupalong, distrik Cox’s Bazar, Bangladesh.
Orang-orang Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dalam beberapa dekade terakhir tinggal di permukiman ilegal di Kutupalong, distrik Cox’s Bazar, Bangladesh.



Situasi 'Tak Layak Huni'

Linn, anggota eksekutif Organisasi Nasional Rohingya Arakan, mengatakan, "Pemerintah Myanmar dan masyarakat mayoritas Buddhis di negara itu telah menjadi sangat memusuhi Muslim Rohingya, membuat negara itu neraka bagi mereka."

Laporan Amnesty International bulan lalu menuduh pasukan keamanan Myanmar bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan main hakim sendiri, sejumlah pemerkosaan dan pembakaran rumah-rumah dan seluruh desa dalam "kampanye kekerasan terhadap orang-orang Rohingya yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan."

Kementerian Luar Negeri Bangladesh menelepon Duta Besar Myanmar hari Kamis untuk mengeluhkan para pengungsi tersebut dan menuntut pengembalian lebih awal dari semua migran Rohingya ke Myanmar.

Kamrul Ahsan, Sekretaris Bilateral dan Konsuler Bangladesh, mengatakan kepada Dubes Myo Myint Than ada "keprihatinan mendalam atas gelombang kedatangan Muslim yang berlanjut" dari Myanmar.

Sebuah pernyataan dari Kemenlu di Dhaka mengatakan Ahsan meminta "pemerintah Myanmar untuk segera mengatasi akar masalahnya," sehingga Muslim Rakhine tidak dipaksa pergi dari Myanmar dan mencari perlindungan di Bangladesh.

Kurang dari 1 Persen Dapat Kembali

Sehari setelah pembicaraan yang tegang di Dhaka, Myanmar mengatakan hanya akan menerima kembalinya kurang dari 2.500 orang Rohingya dari Bangladesh -- kurang dari 1 persen dari jumlah populasi pengungsi total, yang diperkirakan mencapai setidaknya 350.000 orang.

Pihak berwenang di Yangon bersikeras bahwa sebagian besar dari orang Rohingya yang miskin dan mencari perlindungan di Bangladesh bukanlah warga negara Myanmar, karena mereka adalah keturunan dari para imigran ilegal yang datang bertahun-tahun lalu. Namun kelompok Rohingya mengklaim komunitasnya telah tinggal di wilayah Myanmar selama beberapa abad lamanya.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Bangladesh, Shahidul Haque, mengatakan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, diperkirakan akan mengirim duta khusus ke Bangladesh segera, untuk melihat situasi penghuni Rohingya.

Kekerasan terhadap Muslim Rohingya telah pecah di Myanmar secara sporadis dalam beberapa tahun terakhir, dan para anggota komunitas itu yang melarikan diri dari penyiksaan terus menyeberang ke Bangladesh di bagian tenggara, dekat dengan desa-desa asal mereka di negara bagian Rakhine.

Situasi memburuk 11 minggu lalu, ketika sembila penjaga perbatasan Myanmar dibunuh dalam serangan bersenjata yang dipersalahkan pada para militan Rohingya. [hd]

XS
SM
MD
LG