Tautan-tautan Akses

Restoran India di UEA Sediakan Makanan Gratis bagi Migran yang Membutuhkan


Para migran bekerja di sektor konstruksi di Dubai, Uni Emirat Arab (foto: ilustrasi). Banyak dari migran di UEA harus menganggur, terdampak oleh pandemi virus corona.
Para migran bekerja di sektor konstruksi di Dubai, Uni Emirat Arab (foto: ilustrasi). Banyak dari migran di UEA harus menganggur, terdampak oleh pandemi virus corona.

Sebuah restoran India di Uni Emirat Arab (UEA) mengubah sisa makanan yang tidak terjual menjadi makanan hangat gratis untuk para migran yang dibayar rendah dan menganggur.

Di restoran tepi jalan raya yang terletak di kawasan industri, pinggiran kota Dubai, para pekerja sibuk menyiapkan makanan bungkus terdiri dari nasi dan lauk pauk, termasuk kari ayam untuk orang-orang miskin dan mereka yang kesulitan mencari makan.

Restoran ini bukan dapur umum atau usaha amal, tetapi merupakan restoran kecil biasa yang menyediakan makanan India di tepi jalan raya yang sibuk di Sharjah, Uni Emirat Arab.

Ketika dapur di restoran lain tutup pada malam hari, restoran bernama Biryani Spot itu justru mulai sibuk. Para juru masak mengumpulkan sisa-sisa makanan dan mengubahnya menjadi makanan hangat yang disediakan secara gratis bagi para migran yang dibayar rendah atau menganggur, sebagian besar dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Orang-orang yang membutuhkan mendatangi restoran yang sempit itu mulai pada pukul 10 malam untuk menerima makan malam gratis, tanpa harus memberikan alasan.

Mohammed Shujath Ali adalah salah seorang pemilik dan pendiri Biryani Spot. “Situasinya saat ini adalah banyak orang yang menganggur, banyak orang yang harus berjuang untuk bertahan di sini karena gaji yang rendah, dan kita tahu, banyak alasan lain.”

Ketika bisnis kecil di seluruh UEA tutup sejak musim lalu karena pandemi virus corona, Ali dan istrinya justru bersiap-siap untuk membuka usaha mereka.

Rencana pasangan suami-istri itu tidak gagal karena merosotnya ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, tetapi bagi mereka pandemi telah menciptakan peluang.

Puluhan ribu pekerja migran yang bekerja dalam bayang-bayang ekonomi Dubai yang terimbas pandemi kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat, karena hotel, restoran, dan keluarga-keluarga memutuskan hubungan kerja dengan para pekerja bidang jasa yang berupah rendah sebagai tanggapan atas pembatasan sosial berskala besar.

Karena para migran tidak bisa mendapat bantuan pemerintah di negara yang menghubungkan status kependudukan dengan pekerjaan mereka itu, banyak migran memalingkan diri ke badan-badan amal untuk bisa bertahan hidup.

Susana di kawasan Dubai Marina, Uni Emirat Arab (foto: ilustrasi).
Susana di kawasan Dubai Marina, Uni Emirat Arab (foto: ilustrasi).

Selama dua bulan keberadaannya, Biryani Spot telah dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan yang terus meningkat di daerah itu.

Makanan murah atau gratis itu sangat bermanfaat di UEA, negara berpenduduk sekitar 9 juta orang dengan hanya sekitar 1 juta warga Emirat.

Para pekerja kasar, supir taksi, petugas kebersihan, juru masak, dan pekerja kantoran dari Asia Tenggara menggerakkan roda bisnis di seluruh UEA, di mana terletak kota Dubai yang bertabur gedung pencakar langit dan Abu Dhabi yang kaya minyak.

Walaupun telah banyak migran yang pulang ke negara asal mereka karena pandemi, banyak lainnya tetap bertahan. Mereka berharap bisa menemukan pekerjaan untuk menghidupi anggota keluarga di kampung halaman,

Mohammad Shakeel adalah migran dari Pakistan. “Saya tidak punya pekerjaan sekarang. Jadi, saya mencoba bertahan hidup, kali ini sangat sulit, Anda tahu juga, banyak teman juga tidak punya pekerjaan. Jadi, saya mendengar berita tentang restoran baru ini yang memberikan makanan gratis kepada orang-orang yang membutuhkannya. Jadi, itulah mengapa saya datang ke sini untuk mengambil makanan untuk saya, untuk teman-teman saya,” ujarnya.

Mohammed Shujath Ali, pemilik restoran Biryani Spot, mempromosikan makanan gratis itu melalui postingan rutin di grup Facebook. [lt/em]

XS
SM
MD
LG