Tautan-tautan Akses

Rakyat Zimbabwe Kesulitan Dapatkan Uang Tunai


Warga harus antri panjang untung mengambil uang tunai dari ATM sebuah Bank di Harare, Zimbabwe, Selasa (28/11).

Zimbabwe menghentikan penggunaan mata uangnya tahun 2009 di tengah inflasi yang ekstrem. Sejak saat itu, Zimbabwe mengandalkan mata uang asing, khususnya dolar Amerika dan rand Afrika Selatan; tapi sejak lebih dari satu tahun, uang itu langka, mempersulit warga Zimbabwe untuk membeli kebutuhan paling dasar sekalipun.

Seperti banyak warga Zimbabwe lainnya, Esau Makwindi frustrasi karena krisis likuiditas yang membuat orang biasa hampir mustahil mendapatkan uang tunai di negara Afrika bagian selatan itu.

Pengunduran diri Presiden Robert Mugabe baru-baru ini memberi harapan di Zimbabwe, khususnya di kalangan orang-orang seperti Makwindi, mahasiswa jurusan agama usia 19 tahun di Universitas Zimbabwe. Namun, yang belum dipunyainya - adalah uang tunai.

Dalam pidato pengukuhannya, Presiden Emmerson Mnangagwa berjanji rakyat Zimbabwe akan segera bisa menggunakan pendapatan mereka lagi.

Itu menjadi ucapan yang melegakan Makwindi, yang berkeliling kampus dengan kursi roda reyot setelah kecelakaan mobil tahun lalu menyebabkan kakinya diamputasi. Seluruh tabungannya 1.650 dolar - disimpan di rekening banknya. Tapi pemasok yang dikiriminya uang tidak bisa mencairkan kirimannya untuk membeli apa yang ia butuhkan.

"Saya sudah memesan kaki palsu bulan April lalu. Saya sudah membayarnya tapi pemasoknya mengatakan tidak bisa mengirim kaki palsu itu, karena tidak bisa menguangkannya dari sini ke Afrika Selatan. Sejak saat itu, saya masih menunggu," keluh Makwindi.

VOA berbicara kepada puluhan warga Zimbabwe di jalan-jalan ibukota Harare, pada hari-hari setelah pengunduran diri Mugabe dan pelantikan Mnangagwa. Warga Zimbabwe mengatakan kekhawatiran terbesar dan paling mendesak mereka, adalah mendapatkan uang tunai.

Profesor Albert Makochekanwa memimpin fakultas ekonomi di Universitas Zimbabwe. Ia mengatakan sejauh ini, ia menganggap presiden telah mengambil langkah positif untuk mengatasi krisis uang tunai, termasuk memberikan amnesti selama tiga bulan kepada pejabat tinggi untuk mengembalikan uang pemerintah yang dicuri, dan mempermudah impor barang.

Profesor Makochekanwa juga mengatakan sulit menentukan kapan krisis akan teratasi.

Uang tunai tersedia di pasar gelap tapi dengan harga tinggi. Orang-orang Zimbabwe mengatakan satu-satunya sumber uang mereka yang sah menjadi lebih mahal lagi. Perusahaan sering mengenakan tarif yang lebih tinggi untuk pelanggan yang membayar dengan kartu kredit atau dengan aplikasi "EcoCash" yang populer.

Makochekanwa mengatakan hal itu mungkin perlu waktu untuk berubah, tapi kepercayaan pada ekonomi - baik dari investor maupun warga negara akhirnya akan menyeimbangkannya.

"Yang mempergawat isu ini adalah karena orang-orang menyimpan uang di rumah karena ketakutan atau kurangnya kepercayaan pada sistem perbankan. Jadi saya yakin jika ada perbaikan dalam kepercayaan pada sistem perbankan, dan kalau uang mulai masuk dan masalah kekurangan uang tunai ini berlalu, saya yakin harga-harga dan uang akan sama nilainya - apakah itu EcoCash, kartu kredit atau mata uang sebenarnya," ujar Makochekanwa.

Rakyat Zimbabwe setuju, hal itu tidak bisa cepat terjadi. [my/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG