Tautan-tautan Akses

Pusat Laktasi Bantu Legislator Perempuan di Uganda Menjalani Masa Menyusui


Seorang perawat membantu seorang ibu menyusui anaknya di pusat kesehatan Kisenyi di Kampala, ibukota Uganda. (Foto:dok)

Organisasi Kesehatan Sedunia WHO merekomendasikan menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama dan melanjutkan menyusui hingga bayi berusia dua tahun, tetapi ini bisa menjadi perjuangan bagi ibu yang bekerja di seluruh dunia. Parlemen Uganda telah mempromosikan pemberian ASI dengan memberikan layanan pusat penitipan anak secara cuma-cuma bagi perempuan anggota parlemen dan staf mereka.

Ada sekitar 153 perempuan yang menjadi anggota parlemen Uganda, dan banyak di antara mereka pada usia subur. Oleh karena itu para anggota parlemen mengambil langkah untuk membantu anggota yang perempuan berperan ganda antara menjalankan pekerjaan penuh waktu dan menjadi ibu. Anggota parlemen seperti Taaka Agnes Wejuli yang memiliki anak laki-laki berusai empat bulan dan sehari-hari dititipkan di tempat penitipan di parlemen itu mengatakan.

“Ketika saya harus datang lebih awal, saya bahkan tidak perlu memandikan anak saya itu. Saya hanya membangunkannya, mendudukkan ia di kursi mobil, mengunci mobil dan segera menuju kesini,” kata Taaka Agnes. “Saya menitipkannya di penitipan ini dan saya menghadiri beberapa sidang. Saya mengikuti rapat komite. Saya mengikuti rapat pleno pada sore hari. Saya selalu ada disini sepanjang hari,” tambahnya.

Ketua Parlemen Uganda Rebecca Alitwala Kadaga membuka fasilitas penitipan itu hampir dua tahun lalu untuk membantu para perempuan anggota parlemen dan staf mereka.

Fasilitas itu memiliki sebuah dapur, kamar mandi bayi, kamar tidur dan kamar bermain; dan yang paling penting adalah ruangan untuk menyusui, yang menurut Kadaga semakin meningkatkan partisipasi perempuan di parlemen.

“Pada masa lalu, mereka harus meninggalkan parlemen dan kembali ke rumah, tergantung dimana mereka tinggal, dan hal itu memakan waktu. Apakah mereka kemudian hanya melakukan sebagian pekerjaan, atau meninggalkan sama sekali dan baru kembali ke-esokan harinya karena perjalanan pulang-pergi itu memakan waktu,” ujar Rebecca Kadaga.

Dua pengasuh anak mengelola fasilitas itu. Asisten peneliti di parlemen Uganda Sheeba Namara bergegas ke fasilitas itu ketika jam istirahat untuk menyusui bayinya yang berusia tiga bulan.

“Rasanya nyaman ketika bisa bekerja dan pada saat bersamaan merasa yakin bahwa anak kita aman dan kita bisa datang kapan saja untuk menjenguknya. Ini jelas layanan terbaik yang bisa mereka berikan,” ujar Sheeba Namara.

Menurut 2017 Global Breastfeeding Scorecard Uganda adalah salah satu di antara 23 negara di dunia di mana lebih dari 6 persen bayi yang dilahirkan mendapat ASI eksklusif selama enam bulan. Tetapi pejabat-pejabat kesehatan Uganda mengatakan masih ada hal yang bisa diperbaiki

Berkat inisiatif parlemen Uganda, setiap institusi pemerintahan di negara itu telah diinstruksikan untuk menyediakan fasilitas menyusui bayi. [em/al]

XS
SM
MD
LG