Tautan-tautan Akses

Pemkot Surabaya Canangkan Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan

  • Petrus Riski

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menandatangani pencanangan Gerakan "1.000 Hari Pertama Kehidupan" dalam rangka menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi (Foto: VOA/Petrus Riski).

Pemerintah Kota Surabaya mencanangkan Gerakan "1.000 Hari Pertama Kehidupan" di Balai Pemuda Surabaya, Rabu (25/1), sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Surabaya. Meski angka kematian ibu melahirkan di Surabaya tergolong rendah, upaya pencegahan dianggap penting untuk menyelamatkan nyawa ibu melahirkan beserta bayinya.

Gerakan "1.000 Hari Pertama Kehidupan" menjadi dasar Dinas Kesehatan Kota Surabaya, mengajak seluruh masyarakat khususnya pasangan muda untuk memperhatikan kesiapan dan kesehatan ibu hamil.

Pada tahun 2016, angka kematian ibu melahirkan di Surabaya mencapai 28 kasus, sedikit mengalami penurunan dari tahun 2015 yang mencapai 39 kasus kematian. Kematian ibu melahirkan banyak disebabkan oleh pendarahan, serta tekanan darah tinggi saat melahirkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, pendampingan dan pembinaan akan diberikan kepada para calon pengantin, mulai jelang pernikahan, kehamilan, sampai memiliki anak hingga usia dua tahun, sehingga kematian ibu melahirkan dapat dicegah atau diminimalisir.

“Mulai dari calon pengantin, sampai dia punya anak umur dua tahun, dia diberi pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, bagaimana dia nanti pada saat menjadi ibu hamil, pada saat hamil dia harus menjaga kesehatan dia dan anaknya di dalam kandungan, kemudian setelah lahir dia harus menyusui enam bulan ASI ekslusif sampai umur dua tahun dia tetap diberi ASI,” kata Febria Rachmanita.

Pendampingan juga diberikan dengan menyiapkan bidan dan dokter, untuk memantau dan memastikan kesehatan ibu hamil. Dinas Kesehatan Kota Surabaya, kata Febria, telah mendata 315 calon pengantin dan calon ibu hamil yang bersedia mengikuti program 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

“Jadi satu bidan mendampingi tiga orang ibu hamil, kemudian ibu hamil itu juga mendapat donor (darah) dari empat orang, ya karena kan kasusnya banyak perdarahan itu. Jadi satu ibu hamil didampingi empat pendonor, nah kemudian orang per orang ke rumah, bidan ke rumah, para dokter ke rumah,” kata Febria Rachmanita.

Dian Fitriani, seorang ibu rumah tangga di Surabaya, mengatakan, mempersiapkan kehamilan dengan mengetahui kondisi kesehatan sangat penting dilakukan, untuk mencegah risiko kehamilan yang dapat berdampak pada kematian ibu melahirkan. Selain itu, asupan makanan yang bergizi dan dibutuhkan oleh ibu hamil, perlu diperhatikan untuk menghasilkan anak yang sehat dan cerdas.

“Kita kan juga berkala ya, periksanya rutin, jadi tahunya kita darahnya tekanannya tinggi ya dari cek berkala itu, jadi bisa diminimalisir nanti efeknya apa waktu kelahiran, dan intinya satu jangan stres, kalau stres itu nanti tubuh itu tidak bisa bekerjasama sama bayi yang akhirnya bisa terjadi jantungnya berdetak cepat, atau hal-hal abnormal lainnya,” kata Dian Fitriani.

Persiapan kehamilan menjadi penting dilakukan, karena berkaitan dengan mempersiapkan generasi penerus bangsa di masa mendatang. Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, persiapan generasi penerus bangsa yang unggul dan sehat dapat dipersiapkan sejak dini, salah satunya dengan memperhatikan kualitas gizi makanan bagi ibu hamil maupun bayi.

“Seringkali kita tidak mempedulikan, kita hanya ngomong cari uang, kemudian uangnya untuk beli rumah, kita tidak memperhatikan bahwa misalkan kita lagi hamil, itu ada yang harus diperhatikan untuk masa depan anak-anak itu. Mulai dia nanti ke depan IQ-nya seperti apa, kecerdasan intelektualnya seperti apa, kemudian fisiknya seperti apa, sebetulnya bisa direncanakan itu,” kata Tri Rismaharini.

Risma memastikan akan memperhatikan kualitas gizi makanan bagi anak usia di bawah delapan tahun, dengan memberikan asupan makanan berbahan dasar ikan untuk meningkatkan kecerdasan dan kesehatan anak.

“Saya coba menunya diubah, jadi ada sebagian ikan. Ini kan, tahun ini 2017 itu kita juga memberikan makanan untuk anak PAUD (pendidikan anak usia dini/ pra TK), jadi seminggu sekali kita berikan makanan untuk anak PAUD, nanti kalau ini berhasil tahun depan kita usulkan untuk makanan anak SD kelas 1 dan 2, sehingga usia d ibawah 8 tahun itu kita harapkan dia punya gizi yang bagus. Jadi nanti yang Posyandu (pos pelayanan terpadu) sama yang PAUD itu, kita akan perbanyak ikan, menunya diperbanyak ikan, kemudian sayur dan buah,” lanjut Tri Rismaharini. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG