Tautan-tautan Akses

Protes Kebijakan Anti Imigran Muslim Trump Digelar di Jakarta

  • Fathiyah Wardah

Gerakan antifasis dan antirasial melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Sabtu (4/1) untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump (Foto: VOA/Fathiyah).

Gerakan yang menamakan diri anti-fasis dan anti-rasial melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, untuk memprotes kebijakan rasis negara adikuasa itu. Ini merupakan demonstrasi pertama anti-Trump dilangsungkan di Indonesia.

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melarang untuk sementara imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim dan pengungsi dari seluruh dunia telah mengejutkan masyarakat global. Demonstrasi tidak hanya terjadi di dalam negeri, protes juga digelar di beragam negara.

Puluhan orang dari gerakan anti-fasis dan anti-rasis, Sabtu (4/2) menggelar unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, untuk memprotes kebijakan rasis negara adikuasa itu. Ini merupakan demonstrasi pertama anti-Trump dilangsungkan di Indonesia.

Para demonstran dari berbagai elemen masyarakat ini meneriakkan slogan anti-Trump dan membawa spanduk-spanduk mengecam kebijakan yang mereka tuduh anti-imigran muslim yang dikeluarkan presiden dari Partai Republik tersebut.

Trump dua pekan lalu merilis larangan sementara atas imigran dari Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, dan Somalia memasuki wilayah Amerika. Kebijakan ini berlaku 90 hari.

Dia juga menutup pintu bagi pengungsi dari seluruh dunia selama 120 hari, namun untuk pengungsi asal Suriah tanpa batas waktu. Trump beralasan larangan ini perlu dikeluarkan untuk mencegah teroris menyusup masuk ke Amerika. Dia mengatakan kebijakan itu dibuat sambil mengkaji sekaligus memperbaiki aturan imigrasi demi keamanan wilayah dan rakyat Amerika.

Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia ikut mengurusi masalah pengungsi di Indonesia, menjelaskan demonstrasi tersebut untuk mengecam kebijakan-kebijakan Trump karena telah memicu fobia Islam. Dia menyebutkan ada kemungkinan unjuk rasa anti-Trump ini akan berlanjut.

Veronica menekankan kebijakan anti-imigran muslim dikeluarkan Trump juga berdampak langsung terhadap pengungsi yang ada di Indonesia, kebanyakan berasal dari negara-negara berpnduduk mayoritas Islam, seperti Iran, Irak, dan Suriah.

"Di Indonesia saat ini ada hampir 14 ribu pengungsi dan pencari suaka. Tahun lalu ada sekitar 1.200 sekian pengungsi dikirim ke negara ketiga. Indonesia hanya negara transit. Dari 1.200 sekian pengungsi dikirim ke negara tujuan, 760 dikirim ke Amerika. Apabila Amerika menutup pintunya, akan semakin banyak pengungsi terkatung-katung di Indonesia. Sedangkan mereka di Indonesia tidak punya hak sama sekali," jelasnya.

Veronica menambahkan kebijakan anti imigran muslim Trump tersebut telah memicu meningkatnya sentimen anti-Islam. Meski Indonesia tidak masuk daftar larangan Trump, menurut dia, warga muslim Indonesia di Amerika bisa saja menjadi korban sentimen anti-Islam kini naik di sana.

Tidak sampai sepekan setelah Trump mengeluarkan kebijakan kontroversial tersebut, masjid di Kota Quebec, Kanada, dan Texas, Amerika, dibakar.

Azhar Irfansyah dari Front Islam Progresif menilai kebijakan Trump menolak imigran dari tujuh negara muslim merupakan bentuk pelabelan berbahaya terhadap pengikut Islam. Dia menambahkan selama ini kaum muslim sudah mendapat tindakan dikriminatif dan cap buruk sebagai teroris, terutama setelah serangan 11 September 2001.

"Saya pikir ini bukan cuma perang terhadap Islam, tapi juga perang terhadap kemanusiaan secara keseluruhan. Ketika kewarasan disinggung, semua orang waras harusnya marah. Ini bukan cuma menyinggung umat Islam tapi juga menyinggung kewarasan kemanusiaan. Jadi ini bukan cuma perang terhadap Islam tetapi ini juga perang terhadap kemanusiaan secara keseluruhan dan sudah menjadi kewajiban kita sesama saudara untuk melawan kebijakan ini.


Azhar menyesalkan pula tidak adanya reaksi keras dari pemerintah meski Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Dia menilai pemerintah bersifat oportunis karena lebih melihat kerugian secara ekonomi bila hubungan bilateral dengan Amerika terganggu.

Dia juga menyampaikan rasa sangat kecewanya karena umat Islam diam saja melihat Trump berlaku semena-mena terhadap tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB Makarim Wibisono menyarankan agar pemerintah mulai melakukan pendekatan proaktif terhadap presiden Amerika Donald Trump.

"Berkaitan dengan latar belakang presiden Donald Trump yang belum memiliki record/rekaman tanggung jawabnya sebagai pejabat negara diperlukan suatu usaha proaktif agar Trump memiliki perspektif baru terhadap Asia Tenggara, Asia Timur yang kira-kira akan bermanfaat untuk stabilitas dan perdamaian di Asia," jelas Makarim Wibisono. [fw/gp]

XS
SM
MD
LG