Tautan-tautan Akses

Prospek Kepemimpinan Hollande Buat Gelisah Ekonom


Francois Hollande (tengah) kandidat presiden dari partai sosialis Perancis berbicara kepada media di Virty-Le-Francois (20/4).
Francois Hollande (tengah) kandidat presiden dari partai sosialis Perancis berbicara kepada media di Virty-Le-Francois (20/4).
Sudah hampir 20 tahun sejak presiden Perancis seorang Sosialis. Hal itu kemungkinan dapat berubah hanya dalam waktu seminggu. Berbagai jajak pendapat di Perancis semuanya memprediksi calon Sosialis Francois Hollande akan mengalahkan Presiden konservatif Nicolas Sarkozy dalam putaran kedua pemilu presiden tanggal 6 Mei mendatang.

Dalam berbagai jumpa pers dan wawancara, seperti yang berikut ini dengan radio Perancis, Jumat, Hollande menguraikan strategi ekonomi yang mencakup pajak lebih besar bagi orang kaya dan pengeluaran lebih banyak untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Tapi, Hollande mengatakan tindakan pertamanya akan menargetkan krisis Zona Euro yang lebih luas, yang kini memasuki tahun ketiga. Hollande mengatakan ia akan melakukan negosiasi ulang sebuah perjanjian fiskal Uni Eropa yang disepakati tahun lalu untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi.

Kandidat Sosialis tersebut mendapat sambutan hangat dari pendukungnya, tetapi bukan dari pasar, yang sempat turun tajam sebentar setelah ia memenangkan pemilu putaran pertama pada hari Minggu lalu. Para analis seperti profesor ekonomi Tomasz Michalski, dari Fakultas Bisnis HEC di Paris, juga tidak melihat banyak alasan untuk bergembira.

"Pertama-tama, Hollande akan menaikkan secara drastis pajak di Perancis. Dalam jangka pendek kenaikan pajak akan menurunkan defisit anggaran. Tapi dalam jangka panjang ini bukan strategi pertumbuhan yang baik," ujar Michalski, "karena akan membuat orang berbakat pergi, sedangkan Perancis sangat membutuhkan usaha baru, sangat membutuhkan pengusaha untuk menjalankan roda perekonomian.”

Berbagai pakar lainnya setuju. Majalah terkemuka Inggris The Economist bahkan lebih kritis, menyebut resep ekonomi Hollande itu "berbahaya."

Analis Philip Whyte, dari Pusat Reformasi Eropa yang berbasis di London, mengatakan ia memahami mengapa pasar gelisah dengan kemungkinan kepresidenan Hollande. "Tapi, tentu begitu ia mulai menjabat, ia akan segera dihadapkan dengan beberapa kekangan dan sebagian kekangan itu mungkin akan diberlakukan oleh pasar obligasi."

Di bawah Presiden Sarkozy sekarang, ekonomi menyusut dan pengangguran melonjak menjadi hampir 10 persen.

Sebagian besar analis sependapat bahwa Sarkozy tidak bisa disalahkan atas krisis global yang telah membuat banyak negara lain juga terpuruk. Whyte, dari Pusat Reformasi Eropa, memuji Sarkozy karena melakukan beberapa reformasi penting, misalnya menaikkan usia pensiun, dan atas kepemimpinan awalnya dalam krisis zona euro.

Tapi, Whyte menyalahkan Presiden Perancis tersebut karena membiarkan Kanselir Jerman Angela Merkel mendikte kebijakan Zona Euro sekarang. Secara keseluruhan, ia memberikan nilai kinerja Sarkozy biasa-biasa saja.

Pada akhirnya kelak, partai-partai kecil dapat menentukan kebijakan ekonomi kepresidenan Hollande maupun kepresidenan Sarkozy. Hollande mengandalkan kalangan pemilih kiri dan moderat untuk memenangkan pemilu putaran kedua pada tanggal 6 Mei. Sarkozy merayu mereka yang memilih untuk partai-partai berhaluan kanan dalam pemilu babak pertama, dan yang skeptis mengenai Uni Eropa dan mengenai dipenuhinya perintah perekonomian dari Brussel.

Recommended

XS
SM
MD
LG