Tautan-tautan Akses

Propaganda China Bersaing dengan Budaya Populer

  • Associated Press

Perempuan China berjalan melewati iklan yang menampilkan idola remaja, Lu Han, yang dikenal sebagai Justin Biebernya China di Beijing, China, 21 Oktober 2017. China berusaha menahan popularitas para selebritis untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada anak muda China.

Ketika film propaganda, "The Founding of an Army," diputar di China baru-baru ini, reaksinya tidak sesuai dengan harapan Partai Komunis.

Alih-alih menampilkan nilai nasionalisme dan pengorbanan diri untuk negara, film ini menjadi bahan bercanda karena mencoba menarik penonton muda dengan memilih aktor-aktor remaja terkenal untuk berperan sebagai pemimpin partai revolusioner.

Penonton yang lebih terbiasa melihat aktor-aktor tersebut beperan di dalam sinetron ringan dan kisah percintaan menanggapi film tersebut dengan memproyeksikan "kisah romantis modern tentang para pendiri bangsa,” kata Hung Huang, yang lebih dikenal sebagai pengkritik social di Beijing. “Hal itu sangat lucu.”

Apabila dulu Partai Komunis China bisa memaksakan kebijakannya kepada masyarakat umum tanpa banyak pertanyaa, sekarang harus bersaing dengan industri hiburan dan budaya selebriti yang sedang berkembang untuk mendapat perhatian public.

"Orang-orang China semakin mengabaikan propaganda partai dan lebih tertarik pada bintang film yang mewakili gaya hidup baru dan aspirasi yang lebih menarik," kata Willy Lam, pakar politik China dari Universitas China Hong Kong.

Presiden Xi Jinping akan memperkuat wewenang dengan pengesahan masa jabatan lima tahun kedua dalam kongres partai nasional minggu ini, telah memprioritaskan upaya untuk untuk menyingkirkan pengaruh Barat yang berlebihan pad masyarakat China, sehingga partai tersebut dapat menentukan nilai-nilai yang harus dirangkul oleh para pemuda China.

Pihak berwenang telah merespon dengan menargetkan segala hal mulai dari situs gosip hingga jalur sinetron sampai gaji selebriti. Alih-alih menampilkan bintang-bintang kaya yang mementingkan diri sendiri, negara mempromosikan para pekerja seniyang menampilkan patriotisme, kemurnian dan nilai-nilai lain yang mendukung legitimasi partai tersebut.

Hasilnya sejauh ini masih campur aduk.

Dua perempuan sedang berbincang di depan majalah yang menampilkan gambar Presiden Xi Jinping dan idola remaja, Lu han, di Beijing, 22 Oktober 2017.
Dua perempuan sedang berbincang di depan majalah yang menampilkan gambar Presiden Xi Jinping dan idola remaja, Lu han, di Beijing, 22 Oktober 2017.

Satu masalah adalah bahwa nilai partai sering berbenturan dengan apa yang ingin dilihat oleh orang muda China, menurut Hung. Di antara acara yang lebih populer yang ditonton oleh pemuda China adalah mereka yang berpusat pada intrik istana, fantasi seni bela diri, roman sekolah menengah atau perempuan

"Walaupun pemerintah bisa mendikte orang muda untuk apa yang harus mereka hargai dan bagaimana mereka harus menjalani hidup mereka, mereka mendapati diri mereka tidak memiliki alat untuk mencapai hal itu," kata Hung.

Pada 1970-an, negara tersebut mampu mempromosikan orang-orang sebagai bentuk kesetiaan dan ketidakberdayaan remaja, namun Hung mengatakan bahwa itu tidak lagi bisa diterapkan karena orang muda China - seperti rekan mereka di barat - sekarang lebih suka mengikuti gosip selebriti dan memiliki alat untuk melakukannya

Baru bulan ini, idola remaja Lu Han, yang juga dikenal sebagai Justin Bieber dari China, mengumumkan bahwa dia mempunyai seorang pacar, memicu begitu banyak pengikut untuk membagikan beritanya, memberikan tanggapan dan tanda "suka" dalam beberapa jam hingga sempat membuat layanan microblog Weibo yang populer di negara itu terhenti beberapa saat.

Sebuah komentar baru-baru ini di The Global Times, sebuah surat kabar partai dengan sikap nasionalistik, mencerca penyembahan selebriti tersebut, mengatakan bahwa China sekarang telah melampaui Barat dalam hal itu.

"Tidak adil bahwa bintang-bintang ini menghasilkan kemuliaan yang tak terbayangkan bagi mereka yang telah memberikan kontribusi yang menentukan untuk negara tersebut," isi komentar tersebut.

Itu kemungkinan alasan Aliansi Radio, Film dan Televisi China yang didukung pemerintah pindah bulan lalu untuk membatasi gaji actor. Gaji para aktor telah mencapai puncak karena saat orang muda China dan kelas menengah yang sedang berkembang semakin banyak menghabiskan uang untuk tiket film dan barang-barang.

Langkah lain awal tahun ini, pihak berwenang menutup 60 akun gosip selebriti populer dan media sosial dan meminta industri internet seperti Tencent dan Baidu untuk "secara aktif menyebarkan nilai-nilai sosialis inti, dan menciptakan lingkungan yang selalu sehat untuk opini publik utama."

Ketegangan antara budaya populer dan propaganda negara bukanlah hal baru di China. Pada tahun 1980an, para letnan Deng Xiaoping mencerca pencemaran spiritual. Tapi itu telah mendapatkan daya tarik baru sejak Xi berkuasa pada tahun 2012 dan para pejabat memulai tindakan keras yang luas terhadap penyakit masyarakat yang dirasakan dari korupsi hingga perbedaan pendapat dan - sekarang - hiburan. [aa/fw]

XS
SM
MD
LG