Tautan-tautan Akses

AS

Polisi Las Vegas Belum Ketahui Motif Penembak


Pihak berwenang menyegel sekeliling Hotel Mandalay (latar belakang) dengan pita kuning, pasca insiden penembakan massal saat berlangsungnya konser musik country di Las Vegas, Nevada, 2 Oktober 2017.

Polisi AS belum memperoleh petunjuk mengenai motif tersangka penembak Stephen Paddock melakukan aksi penembakan membabi buta di Las Vegas, yang menewaskan sedikitnya 59 orang dan mencederai hampir 600 lainnya. Saudara laki-laki tersangka mengatakan, keluarganya sama terkejutnya seperti orang lain.

Presiden AS Donald Trump menyebut aksi penembakan Minggu malam (1/10) itu sebagai tindakan kejahatan murni. Ia berencana mengunjungi Las Vegas, Rabu (4/10).

Penembak itu sengaja melubangi jendela kamar hotelnya dan melepaskan tembakan ke arah kerumunan orang yang sedang menonton konser musik. Sejumlah saksi mengatakan, ketika mereka pertama kali mendengar suara tembakan, mereka mengira itu bunyi petasan. Ketika mereka sadar bahwa itu bunyi tembakan, mereka panik dan begitupun orang-orang di sekitarnya.

Penembakan di Las Vegas ini merupakan aksi penembakan paling buruk oleh seorang penembak tunggal dalam sejarah AS.

Presiden Trump dan Wakil Presiden Mike Pence, ditemani istri mereka, melangsungkan kegiatan mengheningkan cipta di Lapangan Selatan Gedung Putih untuk mengenang para korban. Presiden juga memerintahkan bendera-bendera AS dikibarkan setengah tiang.

Di antara mereka yang tewas ada seorang polisi yang sedang tidak bertugas yang berusaha membantu orang-orang melarikan diri atau mencari perlindungan.

Setelah tragedi berdarah tersebut, orang-orang mengantre untuk menyumbangkan darah bagi mereka yang terluka. Juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders memuji tanggapan rakyat AS terhadap serangan di Las Vegas.

"Kenangan mengenai mereka yang menunjukkan ekspresi kasih sayang sewaktu menghadapi aksi kebencian yang tidak terbayangkan ini tidak akan pernah pudar. Apa yang mereka lakukan merupakan pengingat abadi bahwa semangat Amerika tidak dapat dan tidak akan bisa dihancurkan,” kata Sarah Huckabee Sanders.

Kelompok teroris ISIS mengaku mendalangi serangan itu. Melalui media beritanya, ISIS mengatakan, tersangka penembak baru saja berpindah agama dan kini menjadi seorang Muslim. Namun para penyelidik tidak menemukan kaitan antara tersangka dan kelompok apapun.

Mereka yang mengetahui penyelidikan mengatakan, tersangka diduga melakukan aksinya sendirian dan tidak ada kaitannya dengan terorisme internasional.

Polisi mengungkapkan, pelaku bersenjata itu diidentifikasi bernama Stephen Craig Paddock, seorang pensiunan dari Mesquite, Nevada, berusia 64 tahun. Di kamar hotelnya, polisi menemukan lebih dari 20 senjata api, termasuk sejumlah senapan. Salah satu senapan itu direkayasa sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai senjata otomatis.

Keluarga tersangka menggambarkan Paddock sebagai pria kaya yang suka berjudi dan mengirim berboks-boks kue mahal untuk ibunya di Florida. Paddock diketahui juga tidak memiliki catatan kejahatan.

Saudara laki-lakinya Eric Paddock mengatakan, "Saudara saya melakukan ini. Apa yang dilakukannya itu seperti ia menembak kami. Maksud saya, kalau ia menembak anak-anak saya, saya pasti akan sangat terkejut.”

Insiden penembakan terbaru ini membangkitkan perbincangan baru mengenai apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi pembantaian massal tanpa mempolitisasinya. Tindakan pengamanan, seperti memeriksa tas, untuk memastikan tidak ada yang membawa senjata api, telah dilakukan, namun tersangka melakukannya dari kamar hotel yang memiliki akses pemandangan yang baik terhadap kerumunan massal.

David Katz, CEO Global Security Group, mengatakan, "Ini situasi yang berbeda. Tidak ada yang bisa dilakukan pihak hotel untuk mencegah seseorang mendapatkan kamar dengan akses pemandangan seperti itu. Ini mungkin skenario yang paling buruk.” [ab/uh]

XS
SM
MD
LG