Tautan-tautan Akses

Perang Kebudayaan di AS Soroti Sejarah Kelompok Separatis di Bagian Selatan


Patung Jefferson Davis, kedua dari kiri, Presiden Negara Konfederasi dari tahun 1861 hingga 1865, dipajang di Statuary Hall di Capitol Hill di Washington, 24 Juni 2015. (Foto AP/Susan Walsh)

Setelah adanya gelombang aksi protes selama beberapa pekan terakhir karena kematian warga kulit hitam George Floyd pada bulan lalu, Amerika kini menghadapi “perang kebudayaan”. Perang itu terkait aksi untuk menghilangkan simbol dan lambang-lambang separatis yang mengakibatkan Perang Saudara lebih dari 150 tahun yang lalu.

Patung Jefferson Davis, di kota Richmond, Virginia, telah diturunkan. Davis adalah Presiden Negara Konfederasi dan patung jenderalnya yang paling terkenal, Robert E. Lee di kota Montgomery, Alabama, juga telah dicopot. Banyak patung dan tugu peringatan untuk memperingati para tokoh separatis itu telah dibongkar atau dirusak.

Bahkan film terkenal “Gone With The Wind” yang mengisahkan Perang Saudara dan mendapat hadiah Oscar tahun 1939, telah dicabut dari peredaran oleh layanan streaming HBO. Alasannya, film itu dianggap menunjukkan hal-hal yang rasis. “Apa yang dulu dianggap salah, kinipun masih tetap salah,” kata pernyataan HBO.

Kini giliran 10 pangkalan militer Amerika yang menggunakan nama-nama jenderal tentara Konfederasi, seperti Fort Bragg, Fort Hunt dan Fort Lee, yang mendapat sorotan. Pada awal pekan ini, Menteri Pertahanan Mark Esper dan Menteri Angkatan Darat Ryan McCarthy mengatakan mereka “terbuka untuk membahas” penggantian nama-nama pangkalan militer itu. Angkatan Laut Amerika dan Korps Marinir juga mengumumkan akan melarang penggunaan bendera Konfederasi di markas-markas mereka.

“Ini adalah waktunya yang tepat, dan akan mengirim pesan yang betul kepada rakyat,” kata Senator Partai Republik, Mike Rounds, dari negara bagian South Dakota. [ii/ah]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG