Tautan-tautan Akses

Penularan Virus Corona dari Manusia-ke-Manusia di Jerman dan Jepang Mengkhawatirkan 


Seorang petugas polisi memperhatikan peta klinik di Klinikum Schwabing setelah Jerman mengumumkan kasus pertama virus corona yang pertama merebak di China, di Munich, Jerman, 28 Januari 2020. (Foto: Reuters)

Amerika Serikat dan Korea Selatan, Kamis (30/1/2020), memastikan kasus pertama penularan virus corona 2019 nCoV dari manusia-ke-manusia. Di Amerika Serikat, seorang laki-laki di Chicago tertular istrinya yang jatuh sakit setibanya dari Wuhan, kota di mana wabah itu bermula.

Sementara di Korea Selatan, seorang laki-laki berusia 56 tahun tertular setelah melakukan kontak dengan seorang pasien yang sebelumnya telah didiagnosa menderita virus itu.

Meskipun para ilmuwan sudah memperkirakan penularan dari manusia-ke-manusia pada orang-orang yang memiliki hubungan sangat dekat, seperti di dalam keluarga, dalam beberapa kasus ada perkembangan yang mengkhawatirkan.

Di Jepang, seorang laki-laki berusia 60 tahun tertular virus setelah bekerja sebagai supir bis untuk dua tur wisata dari Wuhan.

Sementara di Jerman seorang laki-laki berusia 30 tahun jatuh sakit setelah seorang temannya yang berasal dari China – yang kedua orang tuanya baru kembali dari Wuhan – datang ke kantor untuk pertemuan bisnis dengannya. Empat staf lain di kantor itu kemudian juga terjangkit virus tersebut. Perempuan itu tidak menunjukkan gejala apapun hingga ia kembali ke China.

“Rantai penularan semacam itu yang tidak ingin kita lihat,” ujar Marion Koopmans, pakar penyakit menular di Erasmus University Medical Center di Belanda, yang juga anggota komite darurat WHO.

Koopmans mengatakan diperlukan lebih banyak informasi tentang bagaimana virus itu menyebar dalam kasus-kasus itu, dan apakah itu berarti virus itu jauh lebih menular dibanding yang diperkirakan sebelumnya atau jika ada sesuatu hal yang tidak biasa dalam kondisi-kondisi itu.

Pakar virologi di Universitas Leeds, Mark Harris, mengatakan tampaknya penyebaran virus dari manusia-ke-manusia lebih mudah terjadi dibanding yang diperkirakan sebelumnya.

“Jika penularan antar-manusia sulit, jumlah penderita akan datar,” ujarnya.

Harris mengatakan masih terbatasnya jumlah penularan virus di luar China menunjukkan wabah itu masih dapat ditanggulangi, tetapi jika orang menularkan penyakit itu sebelum mereka menunjukkan gejala – sebagaimana yang dikhawatirkan sejumlah politisi dan peneliti China – hal ini dapat membahayakan upaya pengendaliannya.

Lebih Cepat Dibanding SARS

Virus baru ini telah menulari lebih banyak orang di China dibanding wabah sindrom pernafasan sangat akut SARS pada tahun 2002-2003. Keduanya berasal dari keluarga virus corona, yang juga dapat mencakup flu biasa.

Angka terakhir menunjukkan peningkatan 38 kasus kematian dan 1.737 kasus penularan baru, sehingga total jumlah orang yang tertular kini mencapai 7.736 orang. Dari 170 orang yang meninggal dunia, 37 orang berasal dari Provinsi Hubei dan satu lainnya dari Sichuan. Di luar China, ada 82 orang yang tertular di 18 negara.

China telah memperpanjang libur Tahun Baru Imlek hingga Minggu (2/2/2020) agar orang-orang tinggal di rumah saja. Namungelombang kembalinya warga yang kini berlibur di luar negeri berpotensi menyebarkan virus itu lebih cepat.

China Dipuji karena Tanggapan Cepat dan Efektif

China telah dipuji karena tanggapan cepat dan efektif terhadap wabah virus corona ini, meskipun ada pertanyaan tentang tekanan polisi terhadap apa yang semula hanya disebut sebagai isu wabah, cerminan tekad negara komunis itu untuk mempertahankan monopoli informasi, meskipun kini ada telepon pintar dan media sosial.

Tanggapan China terhadap wabah virus corona kali ini sangat kontras dengan tanggapan terhadap SARS, ketika laporan-laporan medis disembunyikan sebagai rahasia negara. Lambatnya tanggapan China ketika itu membuat SARS terlanjut menyebar dan menewaskan sekitar 800 orang di seluruh dunia. [em/pp]

XS
SM
MD
LG