Tautan-tautan Akses

Penjahit Kebaya Indonesia Raih Dana Hibah Negara Bagian Maryland


Nuri Auger, Penjahit Kebaya di Baltimore, Maryland (VOA/Laurentius Wahyudi).

Kebaya Indonesia diakui sebagai budaya rakyat yang layak dikembangkan di negara bagian Maryland di Amerika, pernyataan tersebut terdengar janggal, tapi demikianlah kenyataannya. Apa alasannya dan mengapa Maryland melakukannya?

Pemerintah negara bagian Maryland ingin menggerakkan ekonomi di wilayahnya melalui warga. Lembaga-lembaga pemerintah melirik pengusaha kecil dari berbagai latar belakang karena dianggap bagian penting dari upaya ini.

Chad Buterbaugh, pakar kerakyatan, Dewan Kesenian dan Departemen Perdagangan Maryland di Baltimore mengatakan, ”Dewan Seni dibentuk sebagai bagian dari Departemen Perdagangan Maryland yang merupakan kantor pengembangan ekonomi kami, jadi kami selalu tertarik dengan seniman yang juga bekerja sebagai pengusaha, serta dalam prakteknya mereka bekerja pada usaha kecil atau usaha perintis dan meningkatkan kinerja mereka dengan cara-cara demikian.”

Nuri Auger perempuan paruh baya asal Padang, sudah hampir tiga dekade bermukim di Amerika dan kemudian menjadi penduduk kota Baltimore. Tapi ia tidak pernah membayangkan kebaya yang dijahitnya menarik minat Dewan Kesenian dan Departemen Perdagangan negara bagian Maryland.

“Seperti anugerah, orang Amerika kok mau kasih uang kebaya, anugerah sekali, anak-anak saya dan juga suami sangat bangga. Tidak banyak yang bisa saya berikan untuk kampung halaman saya, negeri Indonesia, kecuali memperkenalkan Indonesia melalui kebaya,” ungkap Nuri.

Chad Buterbaugh (tengah), Folklorist at Maryland State Art Council bersama penerima hibah Folklife Apprenticeship, Nuri Auger (kanan) dan Stacy Stube (VOA/Made Yoni).
Chad Buterbaugh (tengah), Folklorist at Maryland State Art Council bersama penerima hibah Folklife Apprenticeship, Nuri Auger (kanan) dan Stacy Stube (VOA/Made Yoni).

Nuri Auger mendapat hibah program Folklife Apprenticeship, program hibah pendidikan yang mendanai aktivitas pelatihan seorang pakar.

“Untuk memastikan suatu tradisi budaya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Chad Buterbaugh.

Nuri mengajarkan keahliannya menjahit kebaya kepada Stacy Stube, seorang perancang muda Amerika keturunan Indonesia, yang berupaya mempertahankan bagian dari jati dirinya dengan memahami dan mengembangkan negara tempat kelahirannya lewat bidang yang diminatinya.

“Saya tidak mau melupakan kebudayaan saya, saya memasang pesan di facebook (untuk belajar membuat kebaya) lalu saya bertemu Ibu Nuri. Keinginan Stacy menjadi penggugah Nuri yang lama mencampakkan keahliannya sebagai pembuat kebaya yang sebelumnya beruntung berkesempatan belajar dari designer legendaris Indonesia,” tukas Stacy.

Koleksi Kebaya Nuri Auger (VOA/Made Yoni).
Koleksi Kebaya Nuri Auger (VOA/Made Yoni).

“Saya ikut sekolah Futura, di Sarinah, guru-guru saya Gea Sukasah, Prayudi, Itang Yunaz dan banyak lagi, 10 designer terbaik. Saya bangga sekali ada wanita yang setengah Indonesia dan ingin tahu tentang kebaya, di situ saya berfikir saya punya ilmu, saya akan bagi ke Stacy,” kata Nuri.

Kerjasama dan upaya meneruskan budaya bukanlah, satu-satunya alasan guru dan murid ini memenangkan penghargaan dan hibah pemerintah Maryland, namun juga untuk mempertahankan keharmonisan komunitasnya.

“Fakta bahwa ada pakar seni kebaya dari Indonesia yang ikut serta dalam pelatihan ini mendapat nilai yang sangat menonjol dari para panelis, serta kaitan bentuk seni dengan komunitas warga,” tambah Chad.

Jalinan antar komunitas itu juga disertai harapan, upaya yang dimulai dari usaha kecil kelak akan mendorong kemajuan ekonomi yang lebih luas lagi bahkan antar negara. [my/nis]

Nuri Auger, sedang mennjahit Kebaya di studinya di Baltimore, Maryland. (VOA/Laurentius Wahyudi).
Nuri Auger, sedang mennjahit Kebaya di studinya di Baltimore, Maryland. (VOA/Laurentius Wahyudi).

Lihat komentar (3)

XS
SM
MD
LG