Tautan-tautan Akses

AS

Menghidupkan Kembali Industri Garmen di Baltimore


Musium Industri Baltimore. (Foto: VOA/Made Yoni)

Kota Baltimore belakangan diasosiasikan dengan kota yang sarat kekerasan, namun di masa lalu sektor-sektor industri di kota ini sempat Berjaya. Salah satunya adalah sektor garmen.

Baltimore adalah kota industri dan ekonomi terbesar di negara bagian Maryland dan pusat ekonomi penting di Amerika. Pelabuhan, pabrik gula, hingga kini tetap menjadi trade mark kota ini.

Industri garmen pada awal abad ke 19 juga mempopulerkan Baltimore sebagai salah satu pusat garmen terbesar di Amerika, seperti dituturkan Anita Kassof, direktur Musium Industri Baltimore (BMI).

“Pada puncaknya, Baltimore merupakan pembuat pakaian laki-laki terbesar kelima di Amerika, kami condong lebih pada pakaian sehari-hari dari pada gaun yang mahal, tapi kami punya pangsa pasar pakaian laki-laki yang baik,” jelasnya.

Namun sejalan waktu, industri ini memudar pada awal abad ke-20. Masa jaya industri garmen Baltimore, diabadikan di museum industri Baltimore yang terlibat dalam upaya menghidupkan kembali industri ini.

"Musium ini tidak hanya mengenai masa lalu, tapi juga masa kini dan masa depan, jadi kami sangat bangga memberi platform untuk membangkitkan kembali industri ini," imbuh Anita Kassof.

Musium ini memfasilitasi diskusi dan upaya untuk menghidupkan kembali industri garmen serta memberi peluang bagi pengusaha dan designer muda Baltimore.

Dari kiri: Anita Kassoff (Direktur BMI), Sally Di Marco (Direktur Fashion Sew Bromo), Stacy Stube (Desainer Elsa Fitzgerald Studio) (Foto: VOA/Laurentius Wahyudi).jpg
Dari kiri: Anita Kassoff (Direktur BMI), Sally Di Marco (Direktur Fashion Sew Bromo), Stacy Stube (Desainer Elsa Fitzgerald Studio) (Foto: VOA/Laurentius Wahyudi).jpg

Salah seorang di antaranya adalah designer Amerika keturunan Indonesia, Stacy Stube. “Saya lahir di Indonesia, tapi waktu umur tiga tahun pindah ke Amerika”.

Designer busana lulusa Amerika dan London ini membawa kebaya dalam misi pribadinya ke kota Baltimore. “Saya senang melihat kebaya karena menampilkan feminimity, tidak kelihatan kayak cowok, untuk kelihatan strong, bisa menunjukkan sophistication dari baju,” jelasnya.

Stacy turut menghidupkan kembali industri garmen bersama perancang dan inovator muda lainnya, Nicole Samadoruv.

“Belvidere Terrace Atelier adalah perusahaan design dan pengembangan saya, saya menerima pengusaha kecil dan membantu mereka dari konsep awal hingga proses pengembangan, sampai produksi akhir, di manamereka bisa membawa sampel akhir pakaian, pola dan teknologinya ke pabrik yang akan memproduksinya,” kata Nicole.

Upaya para perancang muda kota ini tidak luput dari pengamatan pakar busana. Sally Di Marco, keturunan Italia yang memiliki latar belakang kuat pada industri garmen Baltimore telah puluhan tahun mengajar fashion di Baltimore.

“Saya tidak melihat kemungkinan banyak pabrik tiba-tiba bermunculan atau berkembang di sini tapi saya menyaksikan perancang muda mulai menanam benih di sini, menciptakan usaha kecil bagi mereka,” jelas Sally.

Meskipun dimulai dari skala kecil, kota Baltimore berharap dapat mengembalikan industri garmen. Semangat dan kegigihan warga adalah pilar dan testimony bagi kesuksesan perjalanan industri, termasuk di kota Baltimore. [my/ni/lw]

XS
SM
MD
LG