Tautan-tautan Akses

200 Peneliti Dunia Bahas Studi Tentang Bali


Pembukaan konferensi Bali in Global Asia yang berlangsung 16-18 Juli di Denpasar. (Foto: VOA/Muliarta)
Pembukaan konferensi Bali in Global Asia yang berlangsung 16-18 Juli di Denpasar. (Foto: VOA/Muliarta)

Kebudayaan Bali tidak hanya menarik bagi wisatawan, namun juga bagi para peneliti dari berbagai negara di dunia.

Sekitar 200 peneliti dari 20 negara, termasuk Australia, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Jerman dan Indonesia, berkumpul di Bali selama tiga hari untuk membahas berbagai hasil penelitian tentang Bali dalam konferensi internasional Bali in Global Asia atau Bali dalam globalisasi Asia.

Ketua panitia konferensi Nyoman Darma Putra mengatakan konferensi digelar sebagai suatu forum untuk berbagai hasil penelitian, mengingat selama ini cukup banyak peneliti dari berbagai negara melakukan penelitian terkait kebudayaan, sejarah, agama, adat, lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat Bali. Menurut Darma, hasil penelitian dari peneliti-peneliti dunia ini nantinya akan menjadi catatan sejarah perkembangan Bali.

“Semua publikasi tentang satu etnik, satu bangsa, satu negara akan menjadi rekaman tentang sejarah, etnik bangsa kebudayaan itu sendiri, jadi kalau ada buku tentang Bali tentu akan menjadi rekaman bagus tentang Bali dan itu akan menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat Bali,” ujarnya di sela-sela pembukaan konferensi internasional Bali in Global Asia pada Senin malam (16/7).

Ketua Peneliti dari Lembaga studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda (Royal Netherlands Institute of Southeast Asia and Caribbean Studies), Henk Schulte Nordholt, menyatakan banyak peneliti tertarik meneliti tentang Bali salah satunya karena pulau itu menjadi tempat bertemuanya masyarakat dari berbagai negara yang ada di dunia.

“Bali menjadi salah satu tempat pertemuan agama, pakaian, seni. Ini penting, dan merupakan nilai yang paling tinggi untuk memperkuat pertemuan di antara orang dengan latar belakang berbeda,” ujarnya.

Menurut Nordholt, yang menarik lainnya dari Bali adalah kemampuan masyarakatnya yang tetap mempertahankan tradisi yang dimiliki ditengah arus globalisasi.

Sementara itu, kepala Dinas Kebudayaan Bali Ketut Suastika berharap hasil-hasil penelitian dari peneliti-peneliti dunia dapat membantu Bali dalam upaya melakukan revitalisasi terhadap budaya dan kearifan lokal Bali.

“Upaya mensinergikan nilai-nilai tradisi dengan budaya global perlu dilakukan untuk menguatkan budaya-budaya tradisi sehingga tetap dapat eksis mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Konferensi Bali in Global Asia akan membahas sekitar 100 makalah yang berkaitan dengan Pulau Dewata.

Recommended

XS
SM
MD
LG