Tautan-tautan Akses

AS

Penegakan Hukum atas Imigran Ilegal Berdampak di Sekolah AS


Murid-murid di SD Chula Vista, California (R. Taylor/VOA)

Perdebatan tentang kota-kota yang memberi perlindungan pada imigran ilegal – atau dikenal sebagai sanctuary cities – di Amerika, seputar isu apakah kota-kota ini harus mematuhi atau tidak penegakan hukum federal untuk memperoleh status kewarganegaraan, menjadi isu yang menimbulkan dampak pada siswa-siswa yang paling muda di seluruh Amerika.

Di kota perbatasan seperti Chula Vista, California, merupakan hal yang biasa jika siswa-siswa sama-sama memandang Amerika dan Meksiko sebagai rumah mereka.

Lima belas kilometer utara perbatasan Amerika-Meksiko terdapat sebuah distrik sekolah dasar terbesar di California. Distrik adalah salah satu yang paling beragam di Amerika, di mana 35% dari siswanya sedang belajar bahasa Inggris. Hampir separuh sekolah di distrik tersebut menerapkan program dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Spanyol.

Pengawas distrik di SD Chula Vista, Fransisco Escobedo mengatakan, “Kami menilai bahasa Spanyol adalah aset, bukan kelemahan. Jadi kami menggunakan kekayaan budaya yang ada dan meningkatkannya”.

Pasca pemilu presiden tahun 2016, retorika anti-imigran yang menarget keluarga-keluarga tanpa dokumen resmi membuat sekolah-sekolah di California mengambil tindakan. Escobedo mengirim surat pada para orang tua untuk memastikan bahwa sekolah-sekolah dasar di lingkungannya merupakan “zona yang aman”, apapun status kewarganegaraan mereka.

Tetapi di Chula Vista, ruang kelas bukan sekedar tempat perlindungan. Ruang kelas menjadi tempat di mana siswa merayakan dwi-bahasa dan multi-aksara.

‘’Siswa-siswa kami datang dari kedua negara – Amerika dan Meksiko – jadi kami ingin memberdayakan dan membangun kapasitas guru-guru kami supaya bisa mendukung siswa dalam dua bahasa,” ujar Emma Sanchez.

Valeria – siswa kelas enam yang berasal dari Tijuana – menggambarkan suasana kehidupan yang ideal dimana ia bisa berbicara dalam dua bahasa dan menyebrang perbatasan secara reguler.

“Biasanya hanya bolak balik, mengunjungi ayah saya dan kembali ke ibu saya, dan kemudian pergi ke sekolah,” tutur Valeria.

Lainnya mengatakan dwi-bahasa sangat penting sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarga besar.

“Saya gembira karena saya tinggal bersama kakek-nenek dan saya sangat bahagia bisa bersama mereka karena waktu berlalu begitu cepat, jadi lebih baik saya tinggal bersama mereka sebelum mereka tutup usia,” papar Lucia.

Lucia berharap kemampuan bahasanya akan membuatnya mendapatkan pekerjaan yang baik, dan bertemu dengan orang dari banyak kebudayaan di seluruh dunia. [em/jm]

XS
SM
MD
LG