Tautan-tautan Akses

AS

Ribuan Demonstrasi di Gedung Putih, Protes Larangan Trump


Ribuan demonstran berkumpul di dekat Gedung Putih di Washington DC hari Minggu (29/1), menentang larangan masuk Trump terhadap pengungsi.

Ribuan demonstran hari Minggu (29/1) berkumpul di dekat Gedung Putih di Washington DC, dan juga di berbagai kota di seluruh Amerika menentang larangan masuk bagi warga dari tujuh negara mayoritas berpenduduk Muslim yang diberlakukan Presiden Donald Trump sejak hari Jumat (27/1).

Dengan meneriakkan kalimat “No hate, no fear, refugees are welcome here”, para demonstran mengecam perintah eksekutif Trump yang memblokir masuknya seluruh pengungsi ke Amerika, setidaknya hingga 120 hari mendatang.

Perintah itu juga melarang masuknya pemegang visa dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan dan Yaman selama 90 hari, dan melarang masuknya warga Suriah untuk batas waktu yang belum ditentukan.

Demonstrasi Berlangsung di Puluhan Kota di Amerika

Demonstrasi juga berlangsung di Battery Park New York yang menghadap ke Patung Liberty – ikon Amerika yang telah mengilhami dan menyambut kedatangan imigran dari seluruh dunia selama lebih dari 140 tahun. Demonstrasi serupa juga terjadi di Los Angeles, Philadelphia, Houston, Boston, Atlanta, Louisville dan Detroit.

Dalam demonstrasi di Battery Park New York, pemimpin minoritas faksi Demokrat di Senat Chuck Schumer mengatakan ia telah mendesak Menteri Departemen Keamanan Dalam Negeri John Kelly untuk mengambil tindakan dalam sengketa itu. “Saya telah mengatakan kepadanya bahwa ia punya kewajiban moral untuk menemui presiden dan mengatakan kepadanya untuk mencabut perintah ini”, ujar Schumer kepada demonstran. Perintah Trump “membuat kita tidak manusiawi, tidak aman dan tidak seperti warga Amerika”.

Seorang mahasiswa Irak berusia 25 tahun yang belajar di fakultas kedokteran di Amerika mengatakan kepada VOA, ia ikut berdemonstrasi di Los Angeles untuk “mendukung saudara-saudaranya yang nasibnya terkatung-katung di bandara”. Ia juga mengatakan rencana untuk mengunjungi keluarganya di Irak kini ditangguhkan, dan anggota-anggota keluarganya tidak diijinkan mengunjunginya di Amerika.

Secara terpisah seorang warga Amerika keturunan Somalia yang telah tinggal di Amerika selama 10 tahun mengatakan kepada VOA, istrinya dilarang masuk di bandara internasional Dulles Washington DC pada hari Sabtu (28/1). Farhan Sulub mengatakan petugas imigrasi mengatakan kepadanya, istrinya tidak diijinkan masuk karena kewarganegaraannya, tetapi anak-anak yang bepergian bersama istrinya boleh masuk.

Lewat Twitter, Trump Tegaskan Keputusannya

Tidak terpengaruh dengan tentangan terhadap perintah eksekutifnya, Trump hari Minggu (29/1) memasang pesan di akun Twitter-nya bahwa “negara kita membutuhkan perbatasan yang kuat dan pemeriksaan ketat sekarang. Lihat apa yang terjadi di seluruh Eropa – dan bahkan di seluruh dunia – kekacauan yang mengerikan”, tulis Trump pada hampir 23 juta pengikutnya di Twitter.

Perintah eksekutif itu menimbulkan kebingungan di bandara-bandara utama dan internasional di Amerika sepanjang hari Sabtu (27/1), mendorong kuasa hukum dua warga Irak yang ditahan di New York untuk mengupayakan dan kemudian memenangkan perintah pengadilan yang untuk sementara melarang deportasi warga asing yang memiliki izin tinggal resmi di Amerika.

Dalam perkembangan lainnya, petugas keamanan di Kairo mengatakan sebuah keluarga asal Irak yang beranggotakan lima orang dilarang naik pesawat terbang yang akan menuju ke New York. Qatar Airways mengingatkan para penumpang pesawat yang menuju Amerika bahwa mereka membutuhkan visa diplomatik atau dokumen-dokumen resmi lain sebelum terbang ke Amerika.

Demonstrasi di Bandara JFK NY Diikuti Selebriti Terkenal

Demonstrasi besar pertama menentang larangan itu terjadi di bandara John F. Kennedy New York Sabtu malam. Hingga malam hari lebih dari 2.000 orang – yang sebagian besar membawa poster dan meneriakkan slogan anti-Trump – telah berkumpul di bandara itu bersama sejumlah selebriti yang menuntut pembebasan 12 warga yang ditahan petugas bandara ketika ingin masuk ke Amerika.

Lebih dari 3.000 demonstran juga memadati bandara internasional di Seattle, negara bagian Washington. The Port of Seattle Commissioners yang mengawasi operasi bandara mengeluarkan pernyataan mengecam larangan itu, dengan mengatakan “larangan itu bertentangan dengan nilai-nilai kita. Amerika menjadi bangsa yang besar karena kita adalah tanah para imigran, dan ini yang membuat kita besar”. [em/ii]

XS
SM
MD
LG