Tautan-tautan Akses

Para Pemimpin Afrika Adakan Pertemuan Bahas Krisis Politik di Zimbabwe


Militer melakukan patroli di Harare, Zimbabwe, Rabu (15/11).

Ketegangan meningkat di Zimbabwe hari Kamis (16/11) ketika para pemimpin Afrika bagian selatan mengadakan pertemuan tertutup di Harare dan di ibukota Botswana guna mencoba meredakan situasi setelah pengambilalihan kekuasaan oleh militer hari Selasa (14/11) di Zimbabwe.

Harapan mencapai resolusi yang cepat dan mulus di Zimbabwe tampaknya memudar hari Kamis ketika kelompok-kelompok keagamaan dan masyarakat madani mendesak Robert Mugabe untuk segera mengundurkan diri setelah berkuasa selama 37 tahun. Tetapi Mugabe tampaknya menolak, dan kemudian presiden Afrika Selatan berpendapat tidak ada harapan dicapai penyelesaian yang cepat dan terakhir, sebab itu ia mengatakan kepada parlemen negaranya “terlalu dini untuk mengambil keputusan tegas sekarang.”

Mugabe belum terlihat di depan publik sejak ditempatkan dalam tahanan rumah oleh tentara Selasa malam. Mediator yang dikirim oleh pemerintah Afrika Selatan mengadakan pertemuan di rumah Mugabe dan di Wisma Negara hari Kamis.

Knox Chitiyo, warga Zimbabwe yang menjadi peneliti di Chatham House, sedang berada di Harare ketika militer menggelar beberapa tank Selasa malam. Ia mengatakan semakin lama militer dianggap berkuasa, semakin banyak terjadi ketidakstabilan.

“Masalah utamanya adalah soal jangka waktu. Militer ingin agar perundingan diselesaikan sesegera mungkin. Mereka ingin ada presiden atau presiden sementara sesegera mungkin. Mereka ingin diumumkannya pemerintahan sementara sesegera mungkin. Militer tidak ingin membuat keadaan ini jadi berlarut-larut, sebab semakin lama berlarut-larut semakin buram keadaan dan semakin menjadi kacau keadaan,” ulasnya.

Sejumlah tokoh penting kelompok oposisi Zimbabwe mengusulkan pemerintahan transisi menjelang pemilu yang sudah direncanakan tahun depan. Pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai hari Kamis mendesak Mugabe untuk mengundurkan diri.

“Robert Mugabe harus mengundurkan diri segera sejalan dengan sentimen dan harapan nasional, dan penuh hormat atas perjuangan dan sumbangannya kepada Zimbawe, sebelum dan setelah Zimbabwe merdeka,” ujar Tsvangirai.

Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa yang baru-baru ini dipecat, berupaya tampil tenang. Piers Pigou di International Crisis Group mengatakan Mnangagwa akan kehilangan kredibilitas jika terlihat terlalu dekat dengan militer.

“Ini jelas sangat genting bagi petahana baru untuk bisa menjaga jarak dari tindakan-tindakan ilegal angkatan bersenjata, atau seolah-olah menunjukkan sebagaimana apa adanya. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana mereka melakukannya. Bagaimana mengesankan bahwa semua akan baik-baik saja,” kata Pigou.

Tetapi Chitiyo mengatakan para perunding memiliki banyak isu untuk dibahas. Krisis ini berawal dari perselisihan sengit yang berlangsung sejak lama di dalam partai ZANU-PF yang berkuasa, yang dipimpin Mugabe selama puluhan tahun.

Para pengamat melihat keputusan memecat Mnangagwa merupakan langkah menempatkan istri Mugabe, Grace Mugabe, sebagai wakil presiden. Ini berarti akan membuat ibu negara yang tidak disukai itu sebagai pendukung suaminya yang berusia 93 tahun.

Militer berkeras bahwa ini bukan kudeta, dan asosiasi veteran perang yang berpengaruh menyebut tindakan ini sebagai “perbaikan tanpa pertumpahan darah”. Untuk membenarkan hal itu, mereka memerlukan sesuatu yang tidak mudah dilakukan yaitu mundurnya pemimpin Zimbabwe itu tanpa perlawanan. [em/al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG