Tautan-tautan Akses

Pemerintah Waspadai Ancaman Krisis Pangan di Masa Pandemi


Suasana Pasar Amlapura di Kabupaten Karangasem, Bali. (Foto: Cokorda Narenda)
Suasana Pasar Amlapura di Kabupaten Karangasem, Bali. (Foto: Cokorda Narenda)

Musim Kemarau sudah di depan mata. Pemerintah pun menyiapkan mitigasi untuk mencegah kelangkaan bahan pokok pada masa pandemi ini.

Presiden Joko Widodo meminta jajarannya mengantisipasi dampak kekeringan akibat musim kemarau. Menurutnya, ini perlu dilakukan agar stok bahan pangan pokok di Tanah Air tetap terjaga.

Apalagi, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sudah memperingatkan kemungkinan terjadinya krisis pangan di masa pandemi COVID-19 ini.

Badan Metreologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meramalkan sekitar 30 persen wilayah di Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari sebelumnya.

Panen raya padi metode SRI di Sumba Timur, Kamis 25 April 2019 (courtesy: Muslihin)
Panen raya padi metode SRI di Sumba Timur, Kamis 25 April 2019 (courtesy: Muslihin)

“Oleh sebab itu, antisipasi mitigasi harus betul-betul disiapkan, sehingga ketesediaan dan stabilitas harga bahan pangan tidak terganggu,” ujarnya dalam Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (5/5).

Ia mengingatkan, agar tidak terjadi kelangkaan bahan pangan pokok, ketersediaan air di daerah sentra-sentra produksi pertanian harus tercukupi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menginstruksikan percepatan musim tanam, sehingga produksi para petani bisa tetap terjaga.

“Ini kita harus manfaatkan curah hujan yang masih ada saat ini. harus dipastikan bahwa petani tetap berproduksi, harus tetap bertanam dengan melakukan protokol kesehatan. Oleh sebab itu, ketersediaan sarana-sarana di pertanian, baik yang berkaitan dengan bibit pupuk harus betul-betul ada dan harganya terjangkau,” jelasnya.

Ia juga menekankan, stimulus ekonomi untuk petani, khususnya dalam masa sulit sekarang, harus lebih diperhatikan.

Jokowi mengingatkan bahwa Bulog tetap harus membeli gabah dari petani, sehingga para petani ini pun bisa memperoleh harga yang lebih baik.

Harga dan Stok Bahan Pangan Pokok Dilaporkan Stabil

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjamin harga dan stok bahan pangan pokok masih terkendali sampai saat ini.

“Tadi disampaikan bahwa perkembangan pangan seluruhnya cadangan maupun stok relatif terjaga,” ungkap Airlangga.

Ia mencontohkan, harga beras medium dan premium masing-masing, berada pada level Rp 11.750 per kilogram dan Rp 12.700 per kilogram.

Daging sapi pada harga Rp 117.900 per kilogram; cabe rawit Rp 34.700 per kilogram;cabe merah Rp 30.600 per kilogram;bawang merah Rp 48.000; bawang putih Rp 38.700 per kilogram; dan minyak curah Rp 12.200 per kilogram. Gula pasir sempat mengalami kenaikan harga, namun, berangsur turun dari Rp 18.050 menjadi Rp17.000.

Penjual beras di pasar tradisional di Surabaya (Foto: VOA/ Petrus Riski)
Penjual beras di pasar tradisional di Surabaya (Foto: VOA/ Petrus Riski)

Khusus untuk beras, pihaknya menyebut stok akan segera meningkat karena pada Mei dan Juni para petani akan panen. Sebanyak 3,6 juta ton beras akan diproduksi.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan pemerintah akan memberikan stimulus ekonomi kepada para petani yang terdampak COVID-19. Ia menyebut, ada tiga kategori petani yang akan mendapatkan bantuan langsung tunai.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat meresmikan pasar murah bawang putih impor dan cabai di Solo, Kamis, 13 Februari 2020. (Foto : VOA/ Yudha Satriawan)
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat meresmikan pasar murah bawang putih impor dan cabai di Solo, Kamis, 13 Februari 2020. (Foto : VOA/ Yudha Satriawan)

“Yang pertama itu terdiri dari petani serabutan, kedua petani yang berstatus petani buruh tani, dan petani penggarap. Mereka yang dalam COVID-19 ini terdampak langsung. Oleh karena itu Pak Menko perintahkan kepada kami untuk mempersiapkan katakanlah bantuan langsung, tapi bukan dalam bentuk pendanaan. bantuannya adalah dalam bentuk saprodi dengan nilai kurang lebih Rp300.000,”jelasnya.

Bantuan saprodi (sarana produksi, red) tersebut, kata Syahrul, terdiri dari pupuk, bibit dan obat-obatan. Petani yang masuk dalam tiga kategori ini mencapai 2,7 juta orang. Data tersebut sedang dalam tahap validasi untuk memastikan keakuratannya.

Dengan adanya bantuan langsung ini, pemerintah berharap kehidupan para petani bisa menjadi lebih baik. "Mudah-mudahan ini bisa masuk kepada orang-orang yang memang membutuhkan. Misalnya memang petani miskin yang selama ini hidup di luar kemudian kembali ke desanya ternyata terdampak dengan ini," tuturnya.

Kasus Corona di Indonesia Capai 12.071

Juru bicara penanganan kasus virus corona Dr Achmad Yurianto, Selasa (5/5) kembali melaporkan penambahan kasus COVID-19 sebanyak 484. Total kasus virus itu kini dikukuhkan menjadi 12.071.

Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 5 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19 (Foto: Twitter/ @BNPB_Indonesia)
Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 5 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19 (Foto: Twitter/ @BNPB_Indonesia)

Sebanyak 243 pasien sudah diperbolehkan pulang, sehingga total pasien yang telah pulih mencapai 2.197 orang. Sayangnya, korban jiwa masih berjatuhan. Tercatat, sebanyak delapan orang meninggal dunia. Total yang meninggal pun menjadi 872 .

Adapun jumlah orang dalam pemantauan (ODP) juga terus bertambah menjadi 239.226. sedangkan untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) tercatat 26.408. [gi/ab]

Pemerintah Waspadai Ancaman Krisis Pangan di Masa Pandemi
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:58 0:00


Recommended

XS
SM
MD
LG