Tautan-tautan Akses

Pemerintah Manfaatkan Seleb Medsos untuk Gairahkan Wisata Domestik


Hotel di Bali sepi tamu. (Foto: Koleksi Pribadi Dimas Ramadhan)

Dalam rangka menggairahkan kembali industri pariwisata di Indonesia, pemerintah baru-baru ini menunjuk sejumlah tokoh muda berprestasi yang juga aktif berkiprah di media sosial sebagai perintis perjalanan wisata di masa pandemi. Para tokoh yang sering dijuluki selebriti media sosial atau social influencer ini bertugas memperkenalkan bagaimana berwisata di masa pandemi Covid-19 sementara mematuhi protokol kesehatan.

Dimas Ramadhan terhenyak dan tak bisa berbuat apa-apa ketika Maret lalu pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan sosial terkait pandemi Covid-19. Pria muda dan lajang ini tidak bisa menyalurkan hobi jalan-jalannya. Tidak hanya itu, karena sering bepergian, ia tahu pasti betapa industri pariwisata terpukul hebat oleh wabah ini.

Pemerintah Manfaatkan Seleb Medsos untuk Gairahkan Wisata Domestik
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:06:56 0:00

“Tidak pernah menyangka bahwa industri pariwisata bisa terhenti begini karena pandemi. Sedih juga karena banyak orang, terutama yang di Bali, yang kehilangan pekerjaan. Sampai-sampai mereka stres karena tidak punya penghasilan. Kita tahu sumber pendapatan mereka, terutama yang di Bali, dari industri pariwisata,” kata Dimas Ramadhan.

Tidak mengejutkan bila kemudian Dimas merasa senang ketika ditunjuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk menjadi salah satu dari sembilan orang perintis perjalanan wisata di masa pandemi. Dengan status seperti “duta wisata” ini, sejak Juli lalu, ia tidak hanya melakukan perjalanan wisata yang sudah berbulan-bulan diidam-idamkannya tapi juga memperkenalkan kepada publik bahwa “ternyata aman berwisata di masa pandemi.

Bandara berlakukan protokol kesehatan. (Foto: Koleksi pribadi Dimas Ramadhan)
Bandara berlakukan protokol kesehatan. (Foto: Koleksi pribadi Dimas Ramadhan)

“Untuk saat ini aku sudah merasa cukup lega karena para pekerja wisata di Bali sudah bisa kembali bekerja dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Mereka sudah melakukan tindakan preventif seperti menggunakan masker, sarung tangan dan melakukan physical distancing ketika mereka bekerja. Jujur saja, saya sejak pandemi tidak berani bepergian, tapi sekarang dengan diterapkannya protokol kesehatan di tempat-tempat wisata dan sarana penunjangnya, saya merasa secure bepergian,” imbuhnya.

Dimas dan rekan-rekannya, yang ditunjuk sebagai “duta wisata” di masa pandemi ini, pada prinsipnya bertugas mempromosikan InDOnesia CARE, sebuah prakarsa yang digagaskan Kemenparekraf agar tempat-tempat pariwisata dan semua sarana penunjangnya menerapkan langkah-langkah CHSE (cleanliness, health, safety and environment -- atau kebersihan, kesehatan, keamanan dan lingkungan) sebagai prioritas utama. Prakarsa InDOnesia CARE atau disingkat I DO CARE, pada prinsipnya untuk menunjukan kepada wisatawan domestik dan manca negara bahwa Indonesia sangat memperdulikan protokol CHSE.

Dimas dan rekan-rekannya adalah social influencer yang memiliki puluhan ribu hingga ratusan ribu pengikut di berbagai platform media sosial. Mereka diharapkan pemerintah Indonesia bisa membantu menggairahkan kembali industri pariwisata Indonesia di era kenormalan baru. Dengan berbagai aktivitas mereka di media sosial, mereka diharapkan bisa menjadi penyampai efektif program pemerintah di masa pandemi.

Sebagai informasi saja, masing-masing “duta wisata” yang dipilih memiliki latar belakang yang berbeda. Dimas Ramadhan sendiri adalah seorang pengusaha muda di bidang teknologi digital.

Dion, Jovita, Dimas: Kenakan masker di lokasi wisata. (Foto: Koleksi Pribadi Dimas Ramadhan)
Dion, Jovita, Dimas: Kenakan masker di lokasi wisata. (Foto: Koleksi Pribadi Dimas Ramadhan)

Dion Wiyoko, model sekaligus aktor film yang juga terpilih sebagai “duta wisata”, mengaku sangat mendukung usaha pemerintah menghidupkan kembali industri pariwisata. Milenial yang sempat membintangi puluhan film seperti "Imperfect", "Lampor" dan "Susi Susanti Love All" ini merasa miris dengan kondisi industri pariwisata saat ini.

“Sedih banget yah ketika saya di Bali, sewaktu melihat pertokoan di Legian, Kuta, Seminyak yang biasanya ramai, jalanan macet setiap harinya, saat ini tuh benar-benar kosong. Hampir 90 persen pertokoan itu masih tutup. Banyak hotel yang juga tutup,” komentarnya.

Dion mengatakan prakarsa InDOnesia CARE diharapkan bisa meyakinkan wisatawan dalam dan luar negeri bahwa berwisata di Indonesia merupakan kegiatan aman, dan industri pariwisata bisa segera bangkit. Menurutnya, banyak tujuan wisata yang telah menerapkan protokol CHSE dan begitu pula dengan berbagai sarana penunjangnya, seperti hotel, restoran dan moda transportasi, termasuk pesawat.

Terkait penerbangan udara, Dion mengingatkan, ada dua dokumen penting yang harus selalu dibawa pada masa pandemi.

Dimas, Jovita, Dion, Promosikan wisata domestik yang mematuhi protokol kesehatan. (Foto: Koleksi Pribadi Dimas Ramadhan)
Dimas, Jovita, Dion, Promosikan wisata domestik yang mematuhi protokol kesehatan. (Foto: Koleksi Pribadi Dimas Ramadhan)

“Dokumen rapid test yang berlaku selama 14 hari, dan mengisi data diri di aplikasi EHAC atau Electronic Health Alert Card. Atau bila tak sempat mengisi di aplikasi itu, kita bisa mengisi surat fisik Health Alert Card yang bisa diperoleh di pesawat atau bandara,” jelasnya.

Menurut Jovita Ayu, “duta wisata” lainnya, tempat-tempat wisata pada umumnya sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, namun sayangnya para wisatawan yang kerap melanggar. Konsultan perjalanan dan pemasaran ini mengatakan, “Mereka (pengelola tempat-tempat wisata, red) sudah berusaha semaksimal mungkin. Mereka memeriksa suhu tubuh, mewajibkan penggunaan masker dan cuci tangan. Namun masih banyak wisatawan yang bandel dan melanggar. Nah, tugas kami juga mengingatkan mereka mengenai bagaimana seharusnya berwisata di masa new normal.”

Terlepas dari semua itu, Jovita mengingatkan bahwa berwisata di masa pandemi, menuntut pengeluaran yang sedikit lebih besar dari biasanya.

“Mungkin lebih banyak 20 hingga 30 persen. Dari mana saja bocor tipis-tipisnya? Misalnya pemilihan airline. Meskipun pemerintah sudah menerapkan protokol 70 persen dari kapasitas pesawat, aku sih cari airline yang sudah pasti aman saja meski harga tiketnya lebih mahal. Rapid test juga biayanya juga beragam. Pilih hotel juga yang bintang empat atau lima. Belum lagi beli printilan seperti hand sanitizer,” komentar Jovita.

Anda siap berjalan-jalan?. [ab/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG