Tautan-tautan Akses

Pemerintah Diminta Teliti Ulang Data Sebelum Longgarkan PSBB


Jalan-jalan di Jakarta tampak sepi setelah penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di tengah wabah virus corona (COVID-19), Jumat, 10 April 2020. (Foto: AFP)

Kapasitas tes molekuler (PCR) untuk mendeteksi Covid-19 per populasi di Indonesia merupakan yang terendah di Asia atau baru 552 orang per sejuta penduduk.

Koalisi Warga untuk Lapor COVID-19 meminta pemerintah untuk memastikan kembali data dan kurva epidemiologi sebelum melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah. Mereka beralasan data yang ditampilkan pemerintah belum cukup untuk dijadikan dasar kebijakan pelonggaran PSBB.

Perwakilan koalisi, yang juga saintis Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar mengatakan, salah satu alasannya orang yang diperiksa dengan tes molekuler (PCR) masih rendah yakni di bawah 5.000 orang per hari. Padahal, kata dia, pemeriksaan merupakan kunci penting untuk penanganan corona selanjutnya.

"Dari 100 orang yang diperiksa 13 di antaranya positif Covid-19. Ini mungkin pemeriksaan yang dilakukan kepada PDP, atau beberapa kecil yang ODP. Kita lihat angkanya masih berkisar 13 persen. Dengan kata lain masih banyak orang terinfeksi di luar sana yang masih membutuhkan pemeriksaan," jelas Iqbal Elyazar saat menggelar konferensi pers online, Senin (11/5).

Saintis Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar. (Foto: Sasmito/screengrab)
Saintis Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar. (Foto: Sasmito/screengrab)

Koalisi juga menyitir data di worldmeters.info pada Minggu (10/5) yang menunjukkan pemeriksaan molekuler di Indonesia baru 552 orang per sejuta penduduk. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga. Antara lain Filipina sebanyak 1.439 orang per sejuta penduduk, Malaysia yang sudah memeriksa 7.573 orang per sejuta penduduk, dan Korea Selatan sebanyak 12.949 orang per sejuta penduduk.

Iqbal juga menyoroti tren penyebaran Covid-19 yang mulai bergeser ke Sumatera, Sulawesi dan Papua. Karena itu, kata dia, penanganan Covid-19 tidak dapat dilakukan secara parsial.

Epidemiolog asal Universitas Padjadjaran Panji Hadisoemarto menyoroti waktu pemeriksaan di Indonesia yang lama. Semisal waktu rata-rata pengambilan sampel di Jakarta dan Jawa Barat hingga dilaporkan mencapai 7-10 hari. Bahkan berdasarkan laporan yang diterima Laporcovid.19.org, kasus di Jember, Jawa Timur membutuhkan waktu hingga 17 hari. Kata dia, hal ini dapat berakibat pada kurva epidemiologi yang berdasar pada pelaporan kasus harian berpotensi tidak akurat.

Pemerintah Diminta Teliti Ulang Data Sebelum Longgarkan PSBB
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:36 0:00

"Jadi masalahnya itu kita banyak bottleneck. Di antaranya di contact tracing dan pemeriksaan molekuler. Termasuk keterlambatan-keterlambatan dilaporkan kembali," tutur Panji Hadisoemarto.

Panji juga mengkritisi kurangnya koordinasi data yang dilakukan pemerintah dalam penanganan Covid-19. Menurutnya, pemerintah bisa membuat sistem data yang lebih efektif sehingga pasien dapat menerima hasil pemeriksaan dalam waktu 48 jam. Atau seperti Korea Selatan yang membutuhkan waktu 24 jam.

Grafis angka kematian (Laporcovid19)
Grafis angka kematian (Laporcovid19)

Di samping itu, koalisi juga memperkirakan jumlah kematian terkait Covid-19 lebih besar daripada yang dilaporkan pemerintah. Penyebabnya adalah keterbatasan dan keterlambatan tes yang dapat berakibat pada kematian seseorang sebelum diperiksa atau keluar hasil tes molekulernya.

Data yang dikumpulkan Laporcovid.org dari tujuh provinsi menunjukkan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal lebih banyak dibandingkan yang meninggal dengan status terkonfirmasi positif Covid-19. Ketujuh provinsi tersebut adalah Banten, DIY, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah memutakhirkan panduan penghitungan korban meninggal karena Covid-19 pada 11 April 2020. Panduan tersebut menyatakan korban Covid-19 yaitu mereka yang sakit dengan gejala diduga atau yang terkonfirmasi Covid-19. Sementara pemerintah hanya mengumumkan korban Covid-19 yang sudah terkonfirmasi dari tes molekuler.

Jumat (8/5) lalu, Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengklaim laju pertumbuhan kasus COVID-19 di Tanah Air mengalami penurunan. Beberapa hal yang menjadi alasan yaitu kasus puncak di Indonesia yang masih di bawah 500 per hari dan tingkat kesembuhan yang mendekati 300 kasus per hari. Selain itu, angka kematian juga tidak ada penambahan yang drastis.

Sementara itu, juru bicara pemerintah untuk COVID-19 mencatat jumlah orang yang meninggal akibat corona sebanyak 991 orang per Senin (11/5) bertambah 18 kasus dari hari sebelumnya. Sedangkan yang sembuh bertambah 183 orang menjadi 2.881 orang dan yang dinyatakan positif 14.265 orang bertambah 233 orang dari hari sebelumnya.

Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 11 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19 (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)
Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 11 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19 (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)

Akumulasi data tersebut diambil dari hasil uji spesimen sebanyak 161.351 yang dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 57 laboratorium dan TCM di 1 laboratorium Wisma Atlet. Sebanyak 116.358 kasus spesimen yang diperiksa didapatkan data 14.265 positif dan 102.093 negatif.

Kemudian untuk jumlah orang dalam pemantauan (ODP) menjadi 249.105 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 31.997 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 373 kabupaten/kota di Tanah Air. [sm/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG