Tautan-tautan Akses

Benarkah Pertumbuhan Kasus COVID-19 Menurun di Indonesia?


Petugas kesehatan mengenakan alat pelindung mengambil sampel darah untuk menguji seorang pria terhadap virus corona (COVID-19) di Bogor, Jawa Barat, 7 April 2020. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Pemerintah mengklaim bahwa laju pertumbuhan kasus COVID-19 di Tanah Air mengalami penurunan. Benarkah itu?

Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, laju pertumbuhan kasus COVID-19 di Tanah Air mengalami penurunan. Meski tidak drastis, penurunan ini, kata Muhadjir, patut disyukuri. Menurutnya, tren penurunan kasus ini merupakan buah dari kedislipinan masyarakat dalam mematuhi kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan protokol kesehatan yang ketat.

Hal ini juga, katanya, juga menunjukkan, prediksi sejumlah pakar bahwa angka kasus COVID-19 akan meningkat secara masif tidak terbukti.

“Ini adalah gambaran tentang perkembangan pertumbuhan dari waktu ke waktu sampai 7 Mei 2020. Kita bersyukur bahwa ternyata prediksi bahwa kasus di Indonesia akan tumbuh secara eksponensial yang sangat ekstrim, ternyata tidak terjadi. Dan kita bersyukur. Karena angka kasus kita rata-rata masih rendah," ungkap Muhadjir dalam telekonferensi pers di Jakarta, Jumat (8/5).

"Itu bisa dilihat dari grafik yang paling kanan yaitu kasus per hari kita masih di bawah 500 paling tinggi puncaknya. Kemudian kesembuhan semakin tinggi yaitu sudah mendekati 300 per hari. Kemudian untuk angka kematian juga landai tidak ada penambahan yang cukup drastis,” imbuhnya.

Ia mengakui, di kawasan ASEAN, Indonesia memang menjadi negara yang memiliki kasus tertinggi kedua setelah Singapura dan Filipina. Namun, berdasarkan prosentase jumlah penduduk, kasus di Indonesia paling kecil.Indonesia memiliki 263 juta jiwa penduduk, sementara Filipina 110 juta, dan Singapura hanya enam juta.

Simulasi penanganan pasien virus corona (COVID-19) di sebuah rumah sakit di Palu, Sulawesi Tengah, 4 Maret 2020. (Foto: AFP)
Simulasi penanganan pasien virus corona (COVID-19) di sebuah rumah sakit di Palu, Sulawesi Tengah, 4 Maret 2020. (Foto: AFP)

“Untuk Singapura pernah sampai di atas 1.400 sehari. Sedangkan Indonesia yang merah tebal. Itu adalah gambaran Indonesia. Kita moderat sekali. Dan ini adalah gambaran profil negara-negara ASEAN. Tidak ada yang terlalu ekstrim seperti yang terjadi di wilayah Eropa maupun Amerika Utara. Dan tentu saja ini kita patut bersyukur,” tambahnya.

Dalam upaya mengatasi pandemi ini, kata Muhadjir, pemerintah telah menetapkan tiga ujung tombak yang diibaratkannya sebagai senjata Trisula. Pertama, adalah sektor kesehatan. Sektor ini bertanggung jawab mencegah meluasnya penularan, memperkecil penyebaran, dan mempercepat penyelesaian COVID-19.

Sektor kedua adalah jaring pengaman sosial. Sektor ini digunakan untuk mengatasi keadaan darurat akibat wabah ini. Sektor ketiga, adalah ketahanan ekonomi. Dalam sektor ini, pemerintah berupaya keras agar roda perekonomian tetap berjalan walaupun dihadang badai COVID-19. Ia mengibaratkan perekonomian Indonesia saat ini sedang mengalami hibernisasi.

“Kita tahu bahwa sekarang ini dunia maupun Indonesia masuk ke dalam apa yang oleh Scot Marisson sebagai hibernitas ekonomi atau economic hibernation. Hibernasi ekonomi ini kita bayangkan seperti beruang kutub memasuki musim dingin yang kemudian harus tidur, menghemat energi yang dia miliki, memperlambat detak jantungnya, kemudian juga menurunkan serendah mungkin panas badannya temperatur badannya. Supaya apa? Supaya dia tetap bertahan hidup tidak mati. Sehingga nanti bisa bangkit lagi setelah musim dingin berlalu,” jelasnya.

Pakar: Belum Ada Tren Penurunan Jumlah Kasus COVID-19 di Indonesia

Ahli Epidemologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono kepada VOA mengatakan sampai saat ini, pihaknya belum melihat terjadinya tren penurunan laju pertumbuhan kasus COVID-19 di Tanah Air.

“Belum. Kurvanya masih fluktuatif dan cenderung masih meningkat,” ujar Pandu.

Ia melihat memang kasus corona di DKI Jakarta sudah mulai melandai. Namun, secara nasional, laju pertumbuhan kasusnya belum menunjukan penurunan, apalagi mengingat kebijakan PSBB tidak diberlakukan di seluruh Indonesia

Pakar Epidemiologi UI, Dr. Pandu Riono. (Foto: VOA/Yudha).
Pakar Epidemiologi UI, Dr. Pandu Riono. (Foto: VOA/Yudha).

“Karena PSBB nya gak nasional, terus penduduk tidak melakukan pembatasan sosial, tidak cukup tinggi. Cuma baru separuh penduduk di Indonesia yang tinggal di rumah saja. Kita pengen tahu PSBB jalan atau engga. Salah satu yang kita pakai, yang kita punya datanya adalah penduduk yang tinggal di rumah saja. Ternyata penduduk yang tinggal di rumah saja gak naik-naik selama PSBB ini, maksudnya jumlahnya melandai, gak berubah-berubah,” jelasnya.

Pandu juga melihat bahwa Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 tidak mengevaluasi dan monitoring kebijakan PSBB yang selama ini berlangsung. Selain itu, katanya, pelaku utama PSBB, yaitu masyarakat, tidak dilibatkan, dimobilisasi, dan diedukasi dengan baik, sehingga kebijakan itu belum menunjukkan dampak signifikan.

“Yang paling dasar adalah masyarakat dilibatkan. Pelaku dari PSBB adalah masyarakat. Bagaimana masyarakat kita gerakan dengan pembatasan sosial berbasis komunitas. Kalau misalnya kamu tinggal di suatu kompleks perumahan, kalau perumahan itu harusnya ada orang yang mengawasi, kalau ada orang yang gak pake masker ditegur. Kalau masih ada yang gak punya masker dikasih masker. Jadinya masyarakat nanti tergerak, nah ini gada sama sekali membangkitkan solidaritas pembatasan sosial berbasi komunitas. Komunitas kita itu kuat, tapi tidak dimobilisasi, tidak dibangkitkan , tidak dipelihara, tidak dimotivasi,” tambahnya.

Angka Kemiskinan Diprediksi Naik Hingga 12 Persen

Menteri Sosial, Juliari Batubara saat menjadi narasumber di diskusi daring "Solidaritas Sosial". Jumat 8 Mei 2020. (Screenshot Anugrah Andriansyah).
Menteri Sosial, Juliari Batubara saat menjadi narasumber di diskusi daring "Solidaritas Sosial". Jumat 8 Mei 2020. (Screenshot Anugrah Andriansyah).

Sementara itu, Menteri Sosial Juliari Batubara memprediksi angka kemiskinan Indonesia akan meningkat sebagai imbas dari COVID-19. Ia mengatakan, berdasarkan prediksi sejumlah lembaga survei, angka kemiskinan bisa naik hingga dua digit atau di atas 10 persen.

“Ada bahkan yang memprediksi agak ekstrem, menjadi 12 persen. Kami belum bisa memberikan angka pasti karena ini masih berjalan. Tapi, kami antisipasi terus agar jumlahnya tidak terus meningkat," ungkap Juliari.

Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan berdasarkan data yang diperolehnya angka kemiskinan di Indonesia berada pada posisi 9,2 persen. Saat ini, ia telah meminta seluruh RT dan RW untuk mendata ulang keluarga miskin di lingkungannya masing-masing.

“Sekarang dalam proses menghimpun data-data langsung dari RT/RW.Kita akan olah untuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS)," jelasnya.

Kasus Corona di Indonesia Capai 13112

Juru bicara penanganan kasus virus Corona Dr Achmad Yurianto melaporkan masih adanya penambahan kasus baru COVID-19. Pada hari Jumat (8/5) tercatat ada 336 kasus baru sehingga total kasus menjadi 13.112.

DKI Jakarta masih menjadi pusat perebakan virus, dengan penambahan 100 kasus baru pada hari ini, sehingga jumlah kasusnya menjadi 4.955. Posisi Jakarta diikuti oleh Jawa Barat dengan 1.404 kasus, dam Jawa Timur dengan 1.284 kasus di Jawa Timur. Sementara itu, di luar Jawa, wilayah yang memiliki kasus terbanyak adalah Sulawesi Selatan dengan 708 kasus.

Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 8 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19. (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)
Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 8 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19. (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)

Lanjutnya, sebanyak 113 pasien juga dilaporkan sembuh hari ini. Total pasien yang telah pulih kini mencapai 2494 orang. Adapun sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak yakni 745, disusul Sulawesi Selatan 251, Jawa Timur sebanyak 215, Bali 195, Jawa Barat 184, dan wilayah lainnya.

Namun 13 orang meninggal dunia hari Jumat (8/5) sehingga menambah jumlah total korban tewas menjadi 943 orang.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terus bertambah menjadi 244.480 sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 29.087. [gi/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG