Tautan-tautan Akses

Peluang Asteroid Hantam Bumi Makin Sering Dibandingkan Sebelumnya


ARSIP – Foto bertanggal 29 Desember 1968 yang disediakan oleh NASA menunjukkan kawah di bulan berukuran besar yang dinamakan Goclenius, di latara depan, kurang lebih berdiameter 64 km (foto: NASA via AP, Arsip)

Batu-batu raksasa dari angkasa luar berjatuhan dari langit lebih sering dibandingkan dulu, namun jangan khawatir.

Dalam kurun waktu 290 juta tahun, asteroid berukuran besar lebih sering menghunjam bumi hampir dua kali lebih sering dibandingkan dengan kurun waktu 700 juta tahun yang lalu, menurut sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Science.

Namun tidak perlu khawatir. Peluang asteroid menghunjam bumi terjadi rata-rata setiap satu juta tahun atau beberapa juta tahun, bahkan dengan adanya peningkatan jumlah asteroid yang menghujam bumi tersebut. Daftar batu angkasa luar berukuran besar yang dimiliki NASA yang berpotensi menghujam bumi sama sekali tidak menunjukkan adanya ancaman. Risiko terbesar yang diketahui adalah asteroid selebar 1,3 km dengan peluang untuk luput dari tabrakan dengan bumi sebesar 99,988 persen saat benda itu melesat dekat bumi dalam 861 tahun ke depan.

Tapi coba sampaikan kabar ini ke dinosaurus. Sebagian besar ilmuwan berpikir dinosaurus dan banyak spesies lainnya mengalami kepunahan setelah batu besar dari angkasa luar menghujam Amerika Tengah sekitar 65 juta tahun yang lalu.

“Ini hanya masalah hitung-hitungan probabilitas,” ujar penulis utama studi tersebut, Sara Mazrouei, seorang ilmuwan pakar planet di University of Toronto. “Kejadian ini masih langka dan jedanya jauh sehingga saya tidak terlalu khawatir tentang masalah itu.”

Mazrouei dan para koleganya di Inggris dan AS mengkompilasi daftar kawah yang ada di bumi dan bulan dengan ukuran lebar lebih dari 20 km dan berhasil menghitung tanggal perkiraan kejadiannya. Butuh batu dari angkasa luar selebar 800 meter untuk menciptakan lubang seukuran itu.

Tim tersebut menghitung ada 29 kawah dengan usia tidak lebih tua dari 290 juta tahun dan sembilan lainnya antara 291 juta tahun hingga 650 juta tahun.

Namun kita hanya dapat melihat sedikit kawah dengan ukuran besar di bumi karena planet ini diselimuti oleh lebih dari 70 persen samudra dan gletser telah meratakan beberapa lubang yang terbentuk, ujar ilmuwan pakar keplanetan, Rebecca Ghent, salah satu penulis studi tersebut.

Total diperkirakan ada sekitar 260 kali hantaman dari angkasa luar ke bumi dalam kurun waktu 290 juta tahun. Dengan menyertakan faktor-faktor lainnya, tim ilmuwan tersebut menentukan bahwa laju hantaman benda angkasa yang ada saat ini 2,6 kali lebih banyak dibandingkan 700 juta tahun sebelumnya.

Kawah yang lebih tua dari 650 juta tahun yang berada di bumi sebagian besar telah terhapus oleh kekuatan gletser sehingga kalangan ilmuwan menggunakan kawah yang terbentuk akibat hantaman dari benda angkasa lainnya yang terdapat di bulan yang letaknya tidak jauh dari bumi sebagai pembanding untuk kawah yang berusia antara 650 juta tahun hingga 1 miliar tahun. Bulan dapat menjadi pedoman yang sesuai untuk memperkirakan jumlah benda angkasa yang menghantam bumi, karena jaraknya yang cukup dekat dengan jalur tumbukan dan kawahnya bertahan lebih lama.

Reaksi yang bercampur aduk

Jadi apa yang sebenarnya terjadi hampir 300 juta tahun yang lalu?

“Kemungkinan sebuah keluarga asteroid tercerai berai di sabuk asteroid,” ujar Mazrouei berspekulasi. Batu-batu dari angkasa luar itu kemudian bergerak menuju bumi dan bulan, dan bumi menjadi sasaran yang lebih mudah karena ukurannya lebih besar dengan gravitasi yang lebih tinggi, ujar Ghent.

Pendapat kalangan ilmuwan yang bukan bagian dari tim studi itu terbagi berkaitan dengan hasil studi tersebut berbeda-beda. Jay Melosh dari Purdue mengatakan jumlah kawah terlalu kecil untuk dapat menarik kesimpulan yang masuk akal, namun Avi Loeb dari Harvard mengatakan hasil studi itu cukup meyakinkan.

Umat manusia kemungkinan tidak akan muncul tanpa adanya kepunahan massal akibat hantaman batu dari ruang angkasa sekitar 250 juta tahun dan 65 juta tahun yang lalu, ujar Loeb lewat email, dengan menambahkan, “namun laju tingkat hantaman yang meningkat menjadi ancaman untuk peristiwa kepunahan massal berikutnya, yang harus kita awasi dan upayakan untuk hindari dengan bantuan teknologi.”

“Peristiwa ini menunjukkan seberapa tidak tentu dan rapuhnya kehidupan manusia,” tulis Loeb. [ww]

XS
SM
MD
LG