Tautan-tautan Akses

Partai Non-Tradisional Unggul dalam Pilpres Perancis

  • Luis Ramirez

Kombinasi foto dua calon Presiden Perancis, dari kiri: Marine Le Pen, pemimpin Fron Nasional Perancis (FN) dan Emmanuel Macron, pemimpin gerakan politik En Marche! (Onwards!). (REUTERS/Charles Platiau)

Hasil pemilihan Presiden Perancis babak pertama mengukuhkan bahwa Emmanuel Macron yang sentris dan nasionalis, dan penentang imigrasi Marine Le Pen akan maju ke pemilu susulan dua minggu lagi, dan oleh para analis digambarkan sebagai sebuah gempa politik di Perancis.

Hasil akhir hari Senin (24/4) menunjukkan Macron memperoleh 23,8 persen dan Le Pen 21,5 persen suara, dan keduanya lolos ke putaran final presiden pada tanggal 7 Mei.

Sekarang kemungkinannya lebih besar, Marine Le Pen masuk ke babak final dan bisa menjadi presiden Perancis berikutnya.

"Ini saatnya untuk membebaskan orang-orang Perancis dari golongan elit yang sombong, yang ingin mengendalikan apa-apa yang mereka lakukan karena, ya, saya adalah kandidat rakyat," kata Le Pen.

Saingannya memperoleh suara paling banyak, adalah mantan menteri ekonomi, Emmanuel Macron yang berusia 39 tahun, yang memutuskan hubungannya dengan presiden Francois Hollande dari golongan sosialis yang tidak populer.

Macron mengatakan dalam satu tahun terakhir ini, dia dan para pendukungnya telah mengubah seluruh peta politik Perancis. Ini dianggap sebagai sebuah gempa politik di Perancis, dan untuk pertama kalinya di republik ini, kandidat presiden yang melaju ke depan bukan berasal dari partai utama.

Berita bahwa Le Pen bisa menjadi presiden menyebabkan para demonstran sayap kiri marah dan mereka turun ke jalan-jalan Paris, di mana mereka bentrok dengan polisi.

Para analis mengatakan alasan bahwa ada pemilih di kota-kota besar memberikan suara untuk Le Pen adalah, mereka marah dengan keadaan status quo dan kemapanan yang sekarang.

"Beberapa dari mereka hanya untuk ikut meramaikan. Seperti bermain rulet Rusia, tetapi di bidang politik. Lainnya karena mereka sudah jemu dengan kekuasaan elit di Perancis," ujar analis Thomas Guenole.

Le Pen ingin menghentikan sebagian besar imigrasi, terutama golongan Muslim. Dia ingin Perancis keluar dari Uni Eropa, dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan bagi warga Perancis.

Macron adalah pro-bisnis, pro Uni Eropa. Dukungan baginya datang dari kalangan kelas menengah dan atas di kota-kota besar yang diuntungkan oleh globalisme.

Hal ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah Republik Perancis modern, bahwa jabatan presiden akan dipegang oleh seorang anggota partai non-tradisional, yang memberi indikasi sangat kuatnya perasaan anti-golongan mapan atau anti-elit, yang akhirnya mungkin akan menentukan apakah Perancis akan tetap sebagai anggota Uni Eropa atau menempuh jalur independen seperti Inggris pasca-Brexit dan Amerika Serikat di bawah Donald Trump.

Apapun hasilnya, rakyat Perancis pada hari Minggu menuntut perubahan. Tanggal 7 Mei mendatang, akan menjadi hari baru bagi Perancis. [sp/jm]

XS
SM
MD
LG