Tautan-tautan Akses

Optimisme the Fed Picu Kenaikan Bursa Saham Asia


Yip Wing-keung, manajer perdagangan di perusahan sekuritas Christfund Securities, mengenakan jaket merah berjalan di Bursa Saham Hong Kong, 19 Oktober 2017.

Bursa saham-bursa saham Asia naik pada Kamis (2/11) menyusul pernyataan bank sentral Amerika, Federal Reserve, bahwa pertumbuhan ekonomi solid, optimisme yang akan memperkuat alasan menaikkan suku bunga pada Desember nanti.

Bursa saham Asia tetap mengalami kenaikan bahkan pada saat investor bersiap menghadapi langkah Bank Sentral Inggris untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun.

Para investor masih bersikap waspada sambil menunggu pencalonan guberner bank sentral Amerika dan rancangan undang-undang pajak dari Partai Republik yang masih berdebat di DPR. Hasil dari keduanya diharapkan akan keluar pada saat sesi perdagangan berikutnya.

Bank sentral Inggris, The Bank of England, diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada sesi perdagangan berikutnya untuk menurunkan laju inflasi yang sudah naik ke level tertinggi dalam lima tahun, meski pertumbuhan ekonomi melemah.

Indeks bursa saham MSCI untuk saham-saham di Asia Pasifik, tidak termasuk bursa saham Jepang, hampir tidak bergerak pada perdagangan sore hari, setelah naik ke level tertinggi sejak 2007 pada sesi perdagangan sebelumnya.

Bursa saham Australia menyentuh level tertinggi dalam dua setengah tahun di sesi awal perdagangan, namun membalikkan kenaikan dengan ditutup turun 0.1 persen.

Indeks saham unggulan China, CSI300, turun 0.2 persen, sementara Indeks Saham Gabungan Shanghai turun 0.4 persen.

Indeks Nikkei Jepang ditutup naik 0.5 persen pada level penutupan tertinggi sejak akhir Juni 1996, naik 2.4 persen dalam minggu liburan yang pendek. Bursa saham Jepang akan tutup untuk libur nasional pada Jumat (3/11).

“Ada elemen ketidakpastian mengenai rancangan undang-undang perpajakan Amerika dan gubernur the Fed yang baru. Hal ini berpengaruh pada pasar Amerika, namun bursa saham-bursa saham Asia tampaknya cukup tangguh hari ini,” kata Ayako Sera, ekonom pasar senior dari Sumitomo Mitsui Trust.

Gedung Putih berencana untuk mencalonkan Jerome Powell, salah satu gubernur bank sentral saat ini, sebagai pimpinan the Fed setelah masa tugas Janet Yellen berakhir pada Februari, menurut sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan pada Rabu (1/11).

Pencalonan Powell yang masih harus disahkan oleh Senat, diharapkan akan dilakukan Kamis (2/11), sebelum Presiden Donald Trump meninggalkan Amerika untuk melakukan kunjungan ke Asia. [fw/au]

XS
SM
MD
LG