Tautan-tautan Akses

Oposisi Umumkan Pemogokan Nasional di Belarus


Pemimpin oposisi Belarus, Svetlana Tikhanovskaya di Brandenburg Gate, Berlin, Jerman, 5 Oktober 2020. (Foto: dok).

Oposisi di Belarus menyerukan aksi mogok nasional hari Senin (26/10). Ini yang terbaru dari serangkaian upaya untuk menyingkirkan pemimpin yang telah lama berkuasa Alexander Lukashenko setelah apa yang disebut lawan-lawannya sebagai pemilihan presiden yang curang di bekas republik Soviet itu pada Agustus lalu.

Svetlana Tikhanovskaya, lawan utama Lukashenko dalam pemilu yang melarikan diri dari negara itu karena tekanan negara setelah pemilu, mengancam tentang aksi mogok itu dua pekan silam dalam upaya untuk menghidupkan kembali gerakan protes.

Tuntutannya adalah Lukashenko mengundurkan diri, mengakhiri kekerasan polisi terhadap demonstran, dan membebaskan ratusan tahanan politik atau bila tidak akan menghadapi pemogokan nasional.

Hari Senin, situs media independen Tut.by memposting foto-foto pekerja yang mogok di beberapa pabrik penting, Media itu juga melaporkan puluhan pekerja ditahan di pabrik Grodno Azot karena bergabung dalam pemogokan.

Nexta, platform media sosial, menerbitkan foto-foto mahasiswa di Minsk yang memblokir pintu masuk menuju Belarus State University.

Sejumlah karyawan terlihat berkumpul di luar kantor-kantor perusahaan A-1 I Minsk sambil membawa bendera khas oposisi, Merah dan Putih.

Akan tetapi, juru bicara perdana menteri mengatakan semua perusahaan industri besar negara itu bekerja normal, suatu kenyataan yang diputar balik oleh pemerintah, kata Anna Krasulina, Juru Bicara Tikhanovskaya. Pihak berwenang gelisah, kata Krasulina.

Apa yang disebut Ultimatum Rakyat berakhir sewaktu puluhan ribu demonstran turun ke jalan-jalan Belarus lagi hari Minggu (25/10), protes massal pada akhir pekan ke-11 berturut-turut yang bertujuan untuk mengakhiri seperempat abad masa kekuasaan Lukashenko.

Namun, pasukan keamanan dan polisi antihuru-hara kembali dikerahkan. Stasiun-stasiun kereta sentral ditutup sebelum protes, membuat orang berjalan kaki menuju pusat kota.

Massa yang berseru “Mogok, Mogok, Mogok” dihadapi dengan granat kejut, peluru karet, dan gas air mata sewaktu mereka mendekati kediaman Lukashenko, membuat para demonstran berlarian untuk berlindung. Beberapa orang dilaporkan cedera.

Kementerian Dalam Negeri juga melaporkan demonstran telah melemparkan batu dan memecahkan jendela di luar markas besar polisi di tengah kota Minsk. Kerusakan tampaknya tidak meluas.

Sementara itu, organisasi HAM Vesna melaporkan lebih dari 300 demonstran ditahan, tambahan bagi sekitar 8.000 orang yang ditahan tidak lama setelah pemilu.

Lukashenko telah menolak untuk mundur, dengan alasan ia menang pemilu dengan meraih 80 persen suara. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG