Tautan-tautan Akses

Museum De Mata di Yogyakarta Picu Kemarahan Karena Tampilkan Latar Belakang Kamp Nazi


Pengunjung menggunakan ponsel untuk mengambil foto lilin angka Adolf Hitler berlatar belakang kamp Auschwitz-Birkenau di Mata De Museum, Yogyakarta, Indonesia, 8 November 2017. (Foto: dok). Kelompok HAM mengecam menyebutnya "memuakkan" dan menuntut tampilan ini agar segera disingkirkan.

Beberapa remaja yang tersenyum sewaktu berswafoto di depan patung Hitler tampaknya tidak menyadari bahwa latar belakang foto mereka adalah gambar kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz-Birkenau, di mana lebih dari satu juta orang dibunuh oleh rezim diktator Nazi.

Ini adalah pemandangan sehari-hari di De Mata, museum patung lilin dan efek visual di Yogyakarta. Pihak museum membela tampilan yang disebutnya “lucu” bagi para remaja itu.

Human Rights Watch mengecam pameran yang disebutnya “memuakkan.” Simon Wiesenthal Center di Los Angeles yang berkampanye melawan penyangkalan terhadap Holocaust dan anti-Semitisme, menuntut agar tampilan ini segera disingkirkan.

“Semuanya keliru. Sukar mencari kata-kata untuk menggambarkan betapa hinanya hal ini,” kata Rabi Abraham Cooper, petinggi di Simon Wiesenthal Center. “Latar belakangnya menjijikkan. Ini mengolok-olok para korban yang masuk ke sana dan tidak pernah keluar lagi.”

Patung lilin Hitler menggambarkannya sebagai sosok yang hebat dan dominan, jauh dari kenyataan bahwa ia seseorang yang fisiknya rusak karena mengonsumsi berbagai obat dan bunuh diri pada 30 April 1945, sewaktu pasukan Rusia menyerbu ibukota Jerman, Berlin.

Di belakang patung itu terbentang foto raksasa Auschwitz dan slogan Arbeit Macht Frei – pekerjaan membebaskan kita– yang terlihat di pintu masuk Auschwitz dan kamp-kamp lain, di mana jutaan orang Yahudi dan lainnya dibunuh secara sistematis semasa pendudukan Jerman pada masa perang di sebagian besar Eropa.

Di sebelah patung Hitler terdapat patung Darth Vader dan berseberangan dengannya adalah patung presiden Joko Widodo.

Warli, petugas pemasaran museum itu mengatakan tahu Hitler bertanggung jawab atas pembunuhan massal. Tetapi ia membela kehadiran patung liling itu, yang ditampilkan sejak 2014, sebagai “salah satu sosok favorit bagi para pengunjung yang ingin berswafoto.” Ia mengatakan tidak ada pengunjung yang mengeluhkan hal ini. Sebagian besar pengunjung bersenang-senang karena mereka tahu ini adalah museum hiburan, ujarnya.

Warli belum pernah mendengar tentang Simon Wiesenthal Center tetapi ia mengatakan akan membahas tuntutan untuk menyingkirkan tampilan tersebut dengan pemilik De Mata, pengusaha Peter Kusuma, serta manajemen museum itu. [uh]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG