Tautan-tautan Akses

Dukungan atas Pluralisme, dari Obama untuk Indonesia

  • Patsy Widakuswara

Mantan Presiden AS Barack Obama ketika berpidato di Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Indonesia, Sabtu, 1 Juli 2017.

Barack Obama dan keluarga telah mengakhiri kunjungannya ke Indonesia, meninggalkan sejumlah kenangan bagi warga termasuk apresiasinya atas pluralisme bangsa ini.

Menurut Ahli Komunikasi, Ade Armando saat diwawancara oleh VOA, pidato Obama menunjukan dukungan "yang sangat serius terhadap upaya Indonesia untuk mempertahankan karakter pluralisme, kebhinekaan, dan demokrasi kita." Lebih jauh Ade memandangnya sebagai dukungan Obama terhadap Presiden Jokowi dalam menghadapi ancaman terhadap pluralisme, termasuk radikalisme agama.

Dalam Kongres Diaspora Obama menyebut Jokowi sebagai "tokoh dengan integritas yang pendiam namun tegas."

Dalam pidatonya Obama mengakui bahwa di sebagian negara berkembang "nasionalisme agresif" dan "kebencian meningkat terhadap kelompok minoritas." Menurutnya "penting di Indonesia, Amerika Serikat, Eropa, di manapun, untuk menolak politik kita melawan mereka."

Meningkatnya intoleransi

Reputasi Indonesia sebagai negara pluralis dipertanyakan dunia internasional sejak Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dihukum dua tahun atas tuduhan penistaan agama setelah desakan massa yang dipimpin kelompok Islam. Sejumlah organisasi HAM Internasional termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch mengkritik bahwa intoleransi meningkat di Indonesia belakangan ini terhadap minoritas agama maupun kelompok lain termasuk LGBTQ.

Sementara di Amerika Serikat sendiri, intoleransi dan sentiment anti minoritas meningkat pasca pilpres 2016 dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Data lembaga advokasi Muslim Council on American Islamic Relations (CAIR) menunjukkan selama 2016 ada peningkatan 57% insiden anti Muslim di AS.

Meski Obama sudah tak lagi menjabat presiden namun ia disambut hangat di Indonesia. Ade Armando berpendapat, Obama mewakili masyarakat AS yang menjunjung kebebasan berpendapat dan kehadirannya di Indonesia diyakininya dapat menjadi ‘energizer’ kelompok-kelompok yang risau akan meningkatnya intoleransi di tanah air.

"Support ini akan sangat berarti. Menurut saya jika dibandingkan dia datang ke Indonesia sebagai presiden, sekarang ini tanpa jubah kepresidenannya, orang akan menganggap ia lebih genuine karena meskipun mantan presiden, ia tetap punya posisi dihormati di dunia internasional," tutur Ade.

Obama dan Jokowi

Mantan Presiden Amerika Serikat ini mengawali kedatangannya ke Indonesia dengan berwisata ke Bali dan Yogyakarta bersama keluarganya, dilanjutkan dengan jamuan makan siang dari Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor.

Tak sedikit foto-foto yang beredar saat Jokowi menjamu Obama. Jokowi terlihat sangat akrab dengan Obama terutama saat dirinya ‘mensopiri’ mantan presiden Amerika Serikat ke 44 tersebut. Menurut Ahli Komunikasi Ade Armando, keakraban tersebut memiliki arti positif karena mereka adalah seorang Presiden dan mantan Presiden yang dianggap dianggap sebagai pribadi yang genuine, tulus, dan orisinal.

"Pertemuan mereka adalah hal yang natural, dan bukan by packaging atau by design," tutur Ade Armando. Ia menganggap bahwa hal Jokowi "mensopiri" Obama merupakan sebuah strategi komunikasi yang sejalan dengan positioning atau branding mereka sebagai figur yang populis atau berpihak kepada rakyat.

Pluralisme dan HAM dalam PLN AS

Amandemen Pertama Konstitusi AS yang menjamin kebebasan berpendapat dan beragama menjadi basis pluralisme di negara ini serta merupakan komponen HAM politik luar negeri AS beberapa dekade terakhir. Namun di masa pemerintahan Trump, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menyatakan penegakan HAM bukan lagi menjadi faktor utama politik luar negeri AS.

Dari Jakarta Obama berbicara di Asian Leadeship Conference di Seoul, Korea Selatan di mana ia menekankan komitmen pemimpin global terhadap Perjanjian Iklim Paris meski AS telah keluar dari kesepakatan ini. Juni lalu Presiden Trump menarik diri dari perjanjian internasional 2015 ini yang dimotori oleh Presiden Obama ketika menjabat. Sesampainya di AS, Obama mungkin juga menghadapi pembatalan atas pencapaian legislatifnya yang terbesar yaitu Obamacare, UU jaminan layanan kesehatan rakyat. Presiden Trump dan kubu Republik di Kongres bersumpah akan membatalkan dan menggantikannya. Senat AS dijadwalkan melanjutkan pembahasan RUU baru pengganti Obamacare akhir minggu ini. [ks/pw]

XS
SM
MD
LG