Tautan-tautan Akses

Museum de Arca Singkirkan Patung Hitler

  • Nurhadi Sucahyo

Patung Hitler di Museum de Arca, Yogyakarta yang menuai protes, mulai masuk gudang, Sabtu, 11 November 2017. (Foto courtesy: VOA/Nurhadi).

Gara-gara memajang patung pemimpin Nazi, Hitler, Museum de Arca di Yogyakarta menuai protes. Setelah tiga tahun ada di ruang pamer, patung itu akhirnya masuk gudang, Sabtu (11/11) lalu.

Entah sudah berapa ribu pengunjung yang berfoto bersama patung lilin pemimpin Nazi, Hitler, di Museum de Arca Yogyakarta. Museum itu sudah tiga tahun memajang patung tersebut bersama puluhan patung tokoh dan selebritis internasional di ruang pamernya.

Pada Jumat malam, 10 November lalu, muncul berita di sejumlah media internasional tentang patung Hitler dan bagaimana para pengunjung berfoto dengannya. Sebagian bahkan dengan mengangkat tangan kanan ke atas, seperti yang dilakukan pengikut Nazi. Patung itu sendiri dipajang dengan latar belakang gambar kamp konsentrasi Auschwitz.

Human Rights Watch mengecam pemasangan patung Hitler itu. Sedangkan Simon Wiesenthal Center, organisasi yang berkampanye menentangpenyangkalan Holocaust dan anti-Semitisme, menuntut patung itu untuk tidak dipajang.

Tidak lebih dari 24 jam, pengelola museum merespon tuntutan itu dengan menyingkirkan patung dan latar belakangnya dari ruang pamer. Manajer museum ini, Jamie Misbah kepada VOA menegaskan, mereka tidak pernah bermaksud menyinggung perasaan korban kekejaman Hitler. Pemasangan itu lebih disebabkan karena pria Jerman itu cukup populer.

“Karena kami tidak mau menimbulkan atau membuat pihak terkait menjadi tidak berkenan dengan patung Hitler yang kami pajang di sini. Sehingga lebih baik kami simpan, dan tidak kami pajang untuk pengunjung. Mungkin ada beberapa pihak yang berkepentingan yang tidak berkenan dengan sejarah Hitler sebelumnya. Juga untuk merespon permintaan dari Human Right Watch dan Simon Wiesenthal Center. Sejak awal kami mendirikan Museum de Arca pada Desember 2014, patung ini sudah kami pajang sejak awal, dan belum pernah ada keluhan,” kata Jamie Misbah.

Jamie menyatakan, sampai hari Senin dia belum menerima surat resmi dari lembaga-lembaga yang meminta patung itu tidak lagi dipajang. Namun, protes itu sudah ditindaklanjuti sebagai bentuk tanggung jawab, karena kehadiran koleksi patung mereka tidak memiliki tujuan politis. Bahkan selama ini, patung selebritis jauh lebih populer di kalangan pengunjung di banding pemimpin politik.

Patung Hitler di Musem de Arca tampil gagah dengan seragam militer, berwajah dingin, dan menatap jauh ke depan. Di belakangnya, terbentang foto kamp kerja paksa Auschwitz dan slogan Arbeit Macht Frei yang berarti pekerjaan membebaskan kita. Di kamp seperti itulah, jutaan orang Yahudi dan lainnya dibunuh semasa pendudukan Jerman pada masa Perang Dunia di Eropa.

“Semuanya keliru. Sukar mencari kata-kata untuk menggambarkan betapa hinanya hal ini. Latar belakangnya menjijikkan. Ini mengolok-olok para korban yang masuk ke sana dan tidak pernah keluar lagi,” kata Rabi Abraham Cooper, pimpinan di Simon Wiesenthal Center.

Museum de Arca memang menampilkan patung-patung tokoh nasional dan internasional. Tidak ada standar yang pasti mengapa seorang tokoh dipasang patungnya di sini, namun popularitas menjadi pertimbangan. Mantan Presiden Soekarno, Suharto, SBY, Megawati, Gus Dur, termasuk Presiden Jokowi ada disana. Sedang tokoh dunia yang terpajang mulai dari pesepakbola David Beckham, Ratu Inggris, Bunda Theresa, Michael Jackson sampai Brad Pitt dan tentu saja Obama.

“Kami memajang patung para tokoh di sini lebih untuk pendidikan, mengajak pengunjung kembali memahami kiprah masing-masing tokoh yang patungnya ada di Museum de Arca. Terutama mereka yang populer di masyarakat,” tambah Jamie Misbah.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dr Sri Margana ketika dihubungi VOA meyakini, patung Hitler itu dipajang tanpa maksud politik. Hitler memang populer di Indonesia, tetapi apa yang dilakukannya kepada kaum Yahudi sangat sedikit dipahami masyarakat Indonesia. Dalam pelajaran sejarah di sekolah misalnya, siswa di Indonesia tidak membahas peristiwa itu secara mendalam.

Dikatakan Margana, sejarah yang ditulis di Indonesia tidak pernah sampai pada ideologi anti semitisme. Hitler hanya dikenal sebagai diktator. Tidak ada paparan lebih dalam soal kaum Yahudi yang menjadi korban kekejaman Hitler. Karena itu dia yakin tidak ada sikap anti semitisme di Indonesia. Apa yang terjadi justru karena ketidaktahuan masyarakat terhadap sejarah itu.

“Mereka berpose dengan menunjukkan hormat ala Hitler itu bukan datang begitu saja. Pasti mereka mendapat pengetahuan tertentu, nah itu kita perlu tahu itu dari mana. Mungkin ada semacam orang yang lebih dulu melakukan itu, kemudian yang lain mengikuti. Saya sangat ragu kalau mereka punya pengetahuan akademis dan historis soal itu. Saya kira mereka hanya ikut-ikutan,” kata Sri Margana.

Margana mengaku bisa memahami protes yang disampaikan masyarakat Yahudi terhadap patung Hitler dan foto yang melatarbelakangi keberadaannya. Munculnya foto sejumlah remaja yang menghormat ala Hitler, dinilainya sebagai gambaran perayaan terhadap holokos. Tetapi sekali lagi dia menegaskan, semua terjadi justru karena ketidaktahuan.

Sebagai sejarawan, Margana merekomendasikan agar museum yang memajang patung seorang tokoh, menampilkan penjelasan yang tepat. Penjelasan itu akan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat yang berkunjung. Dalam kasus ini misalnya, museum harus menjelaskan siapa itu Hitler dan apa yang sudah dia lakukan kepada kaum Yahudi.

“Boleh saja membuat patung, tetapi harus ada kuratorial yang memadai untuk mendiskripsikan siapa tokoh itu. Kalau memang tujuannya untuk pembelajaran, agar tokoh tampil lebih utuh dan orang tidak melihatnya dari satu sisi saja,” tambahnya. [ns/ab]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG