Tautan-tautan Akses

Meski Kelulusan Tak Jelas, Mahasiswa AS Ambil Peran Penting di Tengah Pandemi Corona


Trotoar mengarah ke Gedung Selatan di kampus Universitas The North Carolina di Chapel Hill, 20 April 2015. (Foto: AP)

Virus corona menghantam sektor pendidikan dan perguruan tinggi di seluruh dunia termasuk di Amerika. Mahasiswa yang sedianya lulus pada tahun 2020, kini menghadapi ketidakpastian akan masa depan mereka. Namun di balik pandemi global ini para mahasiswa juga memiliki peran penting pada masyarakat.

Warga Amerika belum pernah mengalami isolasi diri, sampai pandemi flu terjadi pada 1918 dan hal ini terjadi lagi selama pandemi COVID-19 yang berawal akhir tahun lalu.

Para mahasiswa di Amerika kini mengalami masa kuliah tanpa penyelesaian yang jelas. Mereka pulang kembali ke rumah orang tua mereka dari pemondokan di tempat mereka menempuh ilmu di seluruh negeri. Kuliah dilaksanakan secara online dan acara wisuda dibatalkan di tengah perebakan virus corona.

"Saya khawatir mereka tidak belajar dalam waktu yang lama. Sebagian akan lulus dan ingin lulus. Yang agak menyedihkan mereka tidak bisa dan mungkin tidak bisa diwisuda," kata Rosemary Kennedy, orang tua pelajar dari sebuah universitas di South Carolina.

Peristiwa penting mahasiswa Amerika kini ditentukan oleh peristiwa global dan juga berdampak pada bulan-bulan pertama mereka mulai menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi.

Pandemi virus corona telah membuat mahasiswa merenungkan kembali peristiwa yang dihadapi senior mereka pada tahun 2008. Saat itu mahasiswa harus menghadapi situasi negara dalam resesi besar setelah diwisuda.

Ashlyn Peter mahasiswa American University di Washington DC mengatakan mahasiswa melewatkan waktu empat tahun di Perguruan Tinggi dengan harapan akan memberi mereka pengetahuan, etos kerja dan tekad yang diperlukan untuk menjalani kehidupan kelak. Harapan itu membuat sebagian mahasiswa bepergian ke luar negeri untuk pertama kalinya, dan belajar tentang dunia di luar kampus.

Seseorang berjalan melewati Gedung Sekolah Tinggi Seni Rupa di kampus Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh Jumat, 7 Juni 2019. (Foto: AP/Gene J. Puskar)
Seseorang berjalan melewati Gedung Sekolah Tinggi Seni Rupa di kampus Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh Jumat, 7 Juni 2019. (Foto: AP/Gene J. Puskar)

Sebagian mahasiswa Amerika mendapat kesempatan belajar dari Kongres dimana mereka menjadi pembuat sejarah, kecil atau besar. Mahasiswa Amerika juga ambil bagian menyampaikan harapan publik, mulai dari demonstrasi perempuan "Woman March" sampai demonstrasi pengawasan senjata "March for Our Lives". Mahasiswa telah menyampaikan aspirasinya dan aspirasi warga bahkan menjelang ujian akhir. Mereka menempuh perjalanan menggunakan transportasi umum kereta menuju tempat-tempat magang.

Ashlyn Peter mengatakan pada tahun ajaran saat ini di tengah pandemi virus corona, semua berubah. Ketika para senior mereka mencari pekerjaan atau mempersiapkan diri untuk kuliah pascasarjana, banyak tempat kerja memberlakukan pembekuan perekrutan. Para pakar kesehatan mengatakan virus corona bisa kembali pada musim gugur, seperti pada tahun 1918, dan berpotensi kembali menghentikan kegiatan universitas.

Semuanya masih belum jelas demikian pula acara wisuda yang telah lama ditunggu-tunggu yang dulu pasti akan terlaksana. Para mahasiswa Amerika kini sulit menerima kenyataan disaat mereka menyambut kelulusan, momen penting yang menjadi akhir masa studi mereka, dibatalkan.

Meski demikian para mahasiswa menurut Ashley kini memiliki banyak waktu untuk merenung. Pada masa isolasi besar-besaran ini, mereka berkesempatan untuk melakukan tindakan pencegahan virus terhadap diri sendiri dan keluarga.

Ditengah-tengah krisis virus, mahasiswa bisa menjadi penentu, menjadi warga yang kreatif dan pemimpin. Sebagian menganggap mereka bukan lulusan tragedi melainkan lulusan tahun yang gigih dan terus berjuang bersama meskipun harus menjaga jarak dengan sesama rekan mereka. [my/jm]

XS
SM
MD
LG