Tautan-tautan Akses

Pengungsi Rohingya Capai 123 Ribu, Menlu Retno Bertemu PM Bangladesh


Menlu Retno Marsudi (kiri) dalam pertemuan dengan Menlu Bangladesh Abul Hassan Mahmud Ali di Dhaka, Selasa 5/9 (Foto courtesy: Kementerian Luar Negeri RI).

Melanjutkan misi diplomatik dan kemanusiaan untuk membantu mengatasi krisis di Rakhine, Myanmar, Menteri Luar Negeri Indonesia hari Selasa (5/9) melanjutkan perjalananannya ke Bangladesh, negara yang kini menjadi tujuan utama warga Muslim-Rohingya untuk mengungsi.

“Kami menyampaikan simpati pada pemerintah Bangladesh yang memiliki beban yang cukup besar karena jumlah pengungsi yang harus diterima cukup banyak. Sebagai arahan dan amanah dari Presiden, kami menawarkan dukungan dan kontribusi kepada pemerintah Bangladesh untuk mengurangi beban dalam menangani krisis ini,” ujar Retno.

Demikian petikan pernyataan Retno Marsudi seusai bertemu Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Wazed, Menteri Luar Negeri Abul Hasan Mahmood Ali, dan beberapa pejabat Badan PBB Urusan Pengungsi UNHCR dan Organisasi Migrasi Internasional IOM di Dhaka, Selasa pagi (5/9).

Pertemuan ini merupakan kelanjutan misi diplomatik dan kemanusiaan Indonesia untuk membantu mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar. Sehari sebelumnya Retno Marsudi juga telah mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat Myanmar, termasuk Menteri Luar Negeri dan State Councellor Aung San Suu Kyi.

“Alhamdulillah Sheikh Hasina menerima niat baik Presiden RI untuk membantu menangani pengungsi di wilayah Bangladesh ini. Detail mengenai apa yang akan kami kontribusikan, besok akan di-follow up oleh Dubes RI di Dhaka dengan Kemenlu dan kementerian lain yang bertanggungjawab pada isu pengungsi ini,” lanjut Retno.

UNHCR: Sudah 123.000 Pengungsi Rohingya Masuki Bangladesh

Badan Urusan Pengungsi PBB UNHCR hari Selasa melaporkan ratusan warga Muslim-Rohingya memasuki wilayah Bangladesh setiap hari sejak berkecamuknya aksi kekerasan pekan lalu. Jumlah pengungsi yang memasuki Bangladesh sudah mencapai 123 ribu orang, namun diperkirakan masih banyak pengungsi yang berada di perbatasan Myanmar-Bangladesh dan belum terdata.

Eksodus besar-besaran ini terjadi sejak 25 Agustus lalu ketika beberapa pemberontak Rohingya menewaskan sembilan polisi, sehingga memicu aksi pembalasan komunitas Myanmar.

Para pengungsi Rohingya yang baru tiba di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia, Bangladesh, Selasa (5/9).
Para pengungsi Rohingya yang baru tiba di kamp pengungsi Kutupalong di Ukhia, Bangladesh, Selasa (5/9).

UNHCR: Banyak Pengungsi Memberi Kesaksian terhadap Kekejaman Militer Myanmar

Juru bicara UNHCR, Duniya Aslam Khan mengatakan pengungsi yang tiba di Bangladesh berada dalam kondisi buruk, sebagian besar telah berjalan kaki selama tiga hari tanpa makan dan minum. Ia mengatakan kepada VOA, beberapa pengungsi menyampaikan kesaksian terhadap kekejaman militer Myanmar.

“Banyak di antara mereka mengatakan rumah dan desa mereka telah dibakar sehingga mereka terpaksa melarikan diri. Sebagian melaporkan anggota keluarga mereka dibakar, digorok, atau ditembak mati. Sebagian di antara mereka ada yang bersembunyi di dalam hutan atau pegunungan, bersembunyi dan berjalan kaki berhari-hari sebelum mencapai daratan atau sungai, dan menyebrangi perbatasan,” ungkap Aslam Khan.

Berbicara pada VOA, Direktur UNHCR untuk Asia Vivian Tan yang kini berada di Bangladesh, mengatakan sedang berupaya mendirikan tempat penampungan baru, karena dua kamp yang ada sudah terlalu padat.

“Jumlah pengungsi yang datang setiap hari meningkat. Dua kamp yang sudah ada, yaitu di Kutupalong dan Nayakara, kini penuh sesak. Kedua kamp ini menerima terlalu banyak pengungsi. Di Kutupalong tidak ada lagi tempat tersisa. Warga terpaksa menampung para pengungsi di rumah mereka. Warga setempat juga membuka sekolah, madrasah dan pusat-pusat komunitas bagi ribuan pengungsi baru yang datang setiap hari. Hampir tidak ada lagi tempat tersisa. Jadi kami sedang berupaya menemukan lokasi baru untuk mendirikan tempat penampungan baru di luar dua kamp tersebut,” ujar Vivian Tan.

Para pengungsi Rohingya harus melewati medan yang sulit dan mengalami kelaparan untuk mencapai Teknaf, Bangladesh (5/9).
Para pengungsi Rohingya harus melewati medan yang sulit dan mengalami kelaparan untuk mencapai Teknaf, Bangladesh (5/9).

IOM: Perlu US$18 Juta untuk Bantu Operasi Penyelamatan Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mengatakan dibutuhkan sekitar 18 juta dolar untuk operasi penyelamatan selama tiga bulan ke depan puluhan ribu pengungsi yang telah tiba di Bangladesh, dan membantu ribuan lainnya yang diperkirakan masih akan tiba. IOM menambahkan prioritas utama saat ini adalah mendirikan tempat penampungan dengan fasilitas sanitasi dan air bersih, menyediakan layanan kesehatan dan makanan, juga layanan konseling dan psikososial bagi mereka yang mengalami trauma atas apa yang telah dialami. [em/al]

XS
SM
MD
LG