Tautan-tautan Akses

AS

Menhan Mattis Serukan Pasukan AS Perkuat Tekad kepada Negara


Menteri Pertahanan Amerika Jim Mattis berbicara di Pentagon (foto: dok).

Menteri Pertahanan Amerika Jim Mattis yang akan segera mengundurkan diri, hari Senin (31/12) memberikan nasihat terakhir kepada pasukan dan pegawai negeri sipil di Departemen Pertahanan untuk memperkuat tekad dan tetap berdiri bersama sekutu-sekutu Amerika.

“Kepemimpinan departemen kita – militer dan sipil – akan tetap berada di bawah orang terbaik,” tulis Mattis dalam pesan perpisahan resmi hari Senin, hari terakhir ia memangku jabatan sebagai menteri pertahanan.

“Saya yakin setiap orang di departemen ini tidak akan terganggu dengan misi sumpah kita untuk mendukung dan mempertahankan konstitusi, sambil menjaga kehidupan kita,” ujarnya.

“Jadi perkuat tekad pada bangsa ini dan tetaplah bersama sekutu-sekutu kita, untuk melawan musuh-musuh kita,” tandasnya.

Surat itu dibagikan bersamaan dengan persiapan Mattis untuk menyerahkan jabtannya kepada Wakil Menteri Pertahanan Patrick Shanahan, yang akan menjadi menteri pertahanan sementara pada 1 Januari ini.

Tidak seperti Mattis, yang berada di Pentagon sebagai mantan jendral Angkatan Laut yang dihormati karena pernah berdinas di Afghanistan, Shanahan tidak memiliki pengalaman militer apapun. Sebelum masuk ke Pentagon ia bekerja di perusahaan penerbangan raksasa Boeing, dimana ia menghabiskan waktu selama lebih dari 30 tahun untuk mengawasi program-program militer dan sipil. Shanahan diangkat sebagai wakil menteri pertahanan pada tahun 2017.

Mattis menyampaikan pengunduran dirinya pada 20 Desember lalu setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih, dimana kedua tokoh ini berbeda pandangan tentang keputusan Trump untuk menarik mudnur seluruh pasukan Amerika dari Suriah, dimana mereka selama ini membantu melawan kelompok teror ISIS.

Meskipun ini bukan pertama kali keduanya berbeda pendapat tentang suatu kebijakan, tetapi bagi Mattis keputusan penarikan mundur seluruh pasukan dari Suriah ini merupakan puncak perbedaan pandangannya dengan Presiden Trump. (em)

XS
SM
MD
LG