Tautan-tautan Akses

Mengikis Rasisme dan Kebencian Melalui Perjumpaan yang Jujur dan Terbuka


Diskusi dan bedah buku "Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia" mengajak setiap orang melepas prasangka dan bergaul secara jujur dan terbuka sebagai bangsa Indonesia (Foto: VOA/Petrus Riski).
Diskusi dan bedah buku "Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia" mengajak setiap orang melepas prasangka dan bergaul secara jujur dan terbuka sebagai bangsa Indonesia (Foto: VOA/Petrus Riski).

Berbagai peristiwa konflik di tengah masyarakat, maupun pertentangan di sosial media yang marak akhir-akhir ini, seringkali didasari oleh sentimen terhadap salah satu etnis, keyakinan, hingga golongan masyarakat.

Salah satu hasil survei Wahid Institute menyebutkan bahwa kelompok minoritas, di antaranya etnis Tionghoa, seringkali menjadi sasaran kebencian.

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, mengadakan diskusi dan bedah buku "Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia" tulisan dari banyak orang yang bersinggungan dengan etnis Tionghoa, maupun etnis Tionghoa korban persekusi dan diskriminasi.

Buku berjudul "Ada Aku di Antara Tionghoa dan Indonesia" merupakan karya puluhan orang yang mengalami langsung perjumpaan dengan masyarakat etnis Tionghoa, baik sebagai pelaku diskriminasi, maupun yang memiliki luka batin akibat perilaku warga etnis Tionghoa.

Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori, yang menjadi inisiator serta editor buku ini mengatakan, berbagai cerita yang dirangkum dalam buku ini merupakan cerita nyata mengenai pengalaman, perasaan dan perjumpaan dengan warga etnis Tionghoa. Mayoritas cerita berisi pengalaman pahit dan tidak menyenangkan, sehingga dapat menjadi pelajaran dan tidak sampai terjadi lagi di tengah masyarakat Indonesia, yang sejatinya beragam.

“Ini menimbulkan kegelisahan bagi banyak orang, terutama saya sebagai orang yang di luar Tionghoa untuk berbuat sedikit lebih, yakni dengan cara merangkum cerita-cerita pedih, cerita-cerita duka, kami sebarkan ke publik supaya publik dan semua orang bisa belajar bahwa duka itu tidak enak, itu sebabnya duka tidak boleh lagi terjadi, terutama terhadap kelompok Tionghoa dan kelompok minoritas yang lain,” kata Aan Anshori, koordinator JIAD.

Michael Andrew, seorang pemuda etnis Tionghoa, menuturkan pengalamannya yang diwarnai berbagai stigma negatif tentang etnis Tionghoa. Ia mengajak semua anak bangsa untuk menghapus stigma negatif yang selama ini diajarkan generasi sebelumnya, dan kembali pada semangat awal bangsa Indonesia didirikan.

Mengikis Rasisme dan Kebencian Melalui Perjumpaan yang Jujur dan Terbuka
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:05:03 0:00

“Sebagai etnis Tionghoa atau etnis apa pun, ayo kita sudahi stigma-stigma negatif, stigma-stigma yang memecah belah. Indonesia butuh kita senantiasa bergerak tanpa tahu dari mana, dari etnis apa pun, karena kita, kembali lagi kepada semangat awal, Indonesia for all Indonesian,” kata Michael Andrew, Pemuda Etnis Tionghoa.

Dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Adven Sarbani menuturkan, kebiasaan saling ejek dan menghina antar etnis sudah ia rasakan sejak kecil. Hingga akhirnya pengalaman bergaul dengan teman dari etnis Tionghoa saat di Sekolah Menengah Atas, menjadikannya memahami bahwa perbedaan bukan untuk dijadikan pertentangan dan bahan hinaan. Keterbukaan dan kejujuran menjadi syarat utama menghadapi perjumpaan dengan orang yang berbeda etnis maupun keyakinan.

“Kita sama-sama manusia, dilepas apa pun kulit kita, apa pun latar belakang kita, kita sama-sama manusia. Bahwa ketika saya dihina, saya juga merasa sakit hati. Ternyata saya memposisikan diri saya ke diri mereka, itu juga sama, jangan-jangan saya juga, ketika saya menghina mereka, mereka juga sakit hati. Akhirnya ketika kita saling terbuka seperti itu, membuat kita saling bisa memahami. Akhirnya kita sama-sama, sama-sama manusia, sama-sama punya rasa sakit hati, sama-sama punya keinginan untuk dihargai, dan lain sebagainya. Itu akhirnya kita dikondisikan supaya saling terbuka dan akhirnya menjadi satu sahabat, satu saudara," kata Adven Sarbani, dosen UKWMS.

"Perlu perjumpaan yang jujur, perlu dialog yang jujur, perlu keterbukaan, perlu suasana saling memaafkan dan menerima bahwa kita sama-sama manusia, karena kalau kita masih saling tertutup membangun tembok tidak membangun jembatan, bagaimana kita bisa saling memahami satu dengan yang lainnya,” imbuhnya.

Lembaga pendidikan juga menjadi salah satu tempat terjadinya perilaku diskriminatif terhadap etnis minoritas, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dan ditolak. Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Kuncoro Foe mengatakan, kampus harus menjadi tempat yang melahirkan agen-agen perubahan, yang mengikis habis praktik-praktik diskriminasi etnis, golongan maupun keyakinan.

“Memang menjadi tugas dan kewajiban kami, di kehidupan kampus, karena memang masalah diskriminasi ini sesuatu yang mengerikan, bisa terjadi karena perbedaan yang sedemikian runcing dan dibawa oleh masing-masing pribadi yang ada di dalam kampus. Tapi kami harus, sebagai pimpinan, untuk memastikan, bahwa mereka justru harus menjadi agen-agen yang meretas dan mengubah pola pikir itu,” kata Kuncoro Foe, Rektor UKWMS.

Menurut dosen filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Romo Aloysius Widyawan, tindakan diskriminasi rasial berasal dari ketidaktahuan dan kepentingan politik tertentu. Sementara di Indonesia yang terdiri dari ribuan suku dan ratusan keyakinan, mampu hidup berdampingan sejak jaman dahulu tanpa pertentangan yang berarti.

“Sebenarnya rasisme itu berawal dari ketidaktahuan, jadi kita tidak mau terbuka, ingin tahu lebih dalam lagi, ingin mencoba menggali, kenapa sih akarnya kayak gitu. Ternyata, sebenarnya ini beban sejarah kita, kita enggak benar-benar mengakui bahwa dulu itu sangat cair, sangat bisa saling menerima. Tapi karena ada kepentingan-kepentingan politik tertentu, misalnya di situ ada VOC, mereka membuat segregasi-segregasi yang sampai saat ini kita masih mendapatkan semacam efeknya. Kalau kita enggak tercerahkan oleh itu, kalau kita tidak mau belajar tentang itu, ya sudah kita hanya menerima begitu saja tanpa kritis,” kata Romo Aloysius Widyawan, Dosen Filsafat UKWMS.

Pendiri dan aktivis Roemah Bhinneka, Iryanto Susilo mengungkapkan, setiap orang di Indonesia harus mulai membuka diri dan secara jujur menerima perbedaan sebagai kekayaan bangsa ini. Hal ini menjadi pintu masuk untuk menghilangkan berbagai pertentangan yang terjadi akhir-akhir ini, akibat prasangka buruk antara satu dengan yang lain.

“Ini yang menjadi harapan ke depan bahwa, ada keterbukaan, ada kejujuran, yang menembus batas sekat-sekat yang ada itu. Jujur ini adalah satu langkah awal, langkah awal bahwa bisa menerima, pintu masuk, pintu yang terbuka untuk menerima, meninggalkan prasangka untuk melangkah, bertemu, berjumpa dengan orang yang berbeda. Ini sudah satu langkah yang amat sangat luar biasa,” jelas Iryanto Susilo, Pendiri dan Aktivis Roemah Bhinneka. [pr/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG