Tautan-tautan Akses

Belajar Toleransi dari Lasem dan Kudus


Bangunan Pondok Pesantren Kauman di Lasem, Jawa Tengah dengan arsitektur bergaya China. (Foto: VOA/Nurhadi)

Indonesia sebenarnya memiliki sejarah toleransi yang luar biasa. Perlu ditengok kembali, terutama ketika rasa saling menghargai semakin turun seperti saat ini.

Lasem adalah nama kota kecil di wilayah Kabupaten Rembang, Pantai Utara Jawa Tengah. Di Lasem ini terdapat satu obyek wisata yang terkenal dengan pantainya, yaitu Pantai Binangun. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa nama pantai itu diambil dari nama Laksamana Bi Nang Un seorang nahkoda ekspedisi pelayaran Cheng Ho dari China.

Istri laksamana itu bernama Na Li Ni dan ia adalah perintis batik Lasem pada tahun 1479, dan salah satu motif batiknya merupakan salah satu yang terbaik hingga saat ini.

Lasem adalah ikon toleransi, sejak dulu sampai sekarang. Kota ini sering disebut sebagai China Kecil, karena jumlah warga keturunan Tionghoa yang cukup besar. Gang-gang di Lasem, dibatasi dinding tinggi berpintu kayu tebal dengan tulisan kanji. Perumahan di gang-gang itu, didirikan dengan gaya arsitektur China, dan rata-rata penduduknya adalah produsen batik. Sebagian masih memproduksi batik sampai saat ini.

Salah satu toko batik di kota Lasem, Jawa Tengah (Foto: VOA/Nurhadi).
Salah satu toko batik di kota Lasem, Jawa Tengah (Foto: VOA/Nurhadi).

Di kota itulah , KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem mengelola Pondok Pesantren Kauman, Lasem yang tidak menerapkan arsitektur bergaya Timur Tengah. Gus Zaim justru mempertahankan bentuk asli bangunan China itu untuk pesantrennya. Di kampung Kauman, hanya ada empat keluarga yang bukan keturunan Tionghoa. Gus Zaim merasa, sikap toleran dalam kehidupan sehari-hari yang diaplikasikan dalam setiap kegiatan adalah kunci kerukunan mereka.

“Kalau ada tetangga meninggal, saya dan santri juga melayat, bahkan sampai pemberangkatan jenazah. Sebaliknya, kalau ada peringatan meninggalnya leluhur saya, tetangga warga Tionghoa ikut jadi panitia. Ibaratnya mereka ikut menata kursinya,” kata Gus Zaim.

Lasem adalah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pintu masuk pedagang luar negeri selama berabad-abad. Tidak mengherankan apabila kota ini tidak hanya dihuni keturunan Jawa, tetapi juga Arab dan Tionghoa. Gus Zaim bercerita, di masa lalu Lasem pernah menjadi tujuan sebagai tempat berlindung bagi warga Tionghoa dari Batavia yang ditekan penjajah Belanda. Ketika itu, bahkan Lasem dipimpin oleh Bupati keturunan Tionghoa.

“Karena dihimpit dan ditekan oleh Belanda, mereka lari ke Lasem, karena di Lasem sendiri ada pemimpin daerah ketika itu yang bernama Oe Ing Kiat, seorang Tionghoa. Nah yang unik, pemimpin perangnya itu Kyai Ali Badawi, seorang keturunan Arab, tokoh pesantren. Padahal di sini ada tokoh lokal juga namanya Raden Panji Margono. Dari namanya jelas dia orang Jawa. Ini menarik kan, karena dia justru menyerahkan kepemimpinan wilayahnya kepada seorang Tionghoa dan kepemimpinan perangnya kepada seorang Arab. Ini kan luar biasa sebenarnya,” tutur Zaim.

Menurut Gus Zaim, toleransi di Lasem mengalami cobaan berat semasa era Orde Baru. Karena itu, banyak tantangan muncul untuk melestarikan toleransi itu sampai saat ini. Bagi generasi tua, upaya itu lebih mudah karena mereka memiliki ingatan kolektif tentang kehidupan yang toleran. Begitu pula bagi mereka yang sudah cukup dewasa saat ini. Tantangan paling berat adalah bagi kelompok usia muda, karena mereka lahir dan dibesarkan dalam suasana yang kurang toleran semasa Orde Baru.

HM Zaim Ahmad Ma'shoem dan keluarga. (Foto: VOA/Nurhadi)
HM Zaim Ahmad Ma'shoem dan keluarga. (Foto: VOA/Nurhadi)

Bukan tanpa alasan jika Gus Zaim berjuang memelihara toleransi di Lasem dengan pendekatan budaya dan agama. Leluhurnya, lima generasi ke atas, adalah seorang kyai keturunan Arab yang menikah dengan perempuan keturunan Tionghoa.

“Dari kakek itu kalau dirunut mungkin bisa ketemu dengan leluhurnya Habib Rizieq, sementara dari yang putri mungkin saja satu keturunan dengan Ahok,” kata Gus Zaim sambil tertawa lebar.

Toleransi yang kuat di kawasan Pantai Utara Jawa tidak terlepas dari peran sembilan wali, yang kemudian dikenal sebagai Wali Sanga. Para wali ini adalah penyebar agama Islam dan tinggal mulai dari Surabaya di timur hingga Cirebon di barat. Wali Sanga berkiprah mulai tahun 1400-an di kota-kota yang berbeda, dan menggunakan pendekatan budaya yang damai dan toleran.

Salah satu Wali Sanga tersebut adalah Sunan Kudus, yang menurut banyak orang adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Kudus terletak sekitar 60 kilometer dari Semarang, timur ibukota Jawa Tengah, Semarang dan berjarak sekitar 75 kilometer dari Lasem. Sunan Kudus yang namanya sesuai dengan wilayah kewaliannya, merupakan panglima perang di Kesultanan Demak.

Meskipun dia panglima perang, Sunan Kudus berdakwah dengan cara damai. Salah satu bangunan peninggalan yang sangat bernilai adalah Masjid Menara Kudus. Masjid ini menggunakan gaya arsitektur Hindu dan Islam, jadi ada pengaruh candi pada bentuknya.

Namun, warisan yang tidak kalah berharga adalah tradisi memotong kerbau pada hari raya Idul Adha atau Kurban. Tidak seperti di wilayah lain yang mayoritas memotong sapi, Sunan Kudus meminta warga setempat menyembelih kerbau. Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Nur Said kepada VOA mengatakan, Sunan Kudus sangat memahami bahwa sapi adalah hewan suci bagi penganut Hindu. Meski ketika itu penganut Hindu di Kudus kian habis, sikap toleran dan rasa hormat tetap diajarkan. Tradisi itu bahkan dijalankan sampai saat ini.

“Memang ini tidak lepas dari warisan kecerdasan budaya dan kesadaran budaya yang dimiliki Kanjeng Sunan Kudus ketika menyampaikan ajaran Islam. Sapi itu kan sebenarnya halal dalam syariat Islam itu. Tetapi karena pertimbangan melihat konteks masyarakat kudus, kemudian Kanjeng Sunan Kudus memberikan himbauan agar menyembelih kerbau yang lebih netral, tidak ada hubungannya dengan ritual atau tradisi agama lain. Dalam bahasa Jawa, itu adalah semangat tepa selira atau toleransi dalam istilah sekarang,” ujar Nur Said.

Kekayaan ajaran toleransi di masa lalu itu, kata Nur Said menjadi menarik di tengah kondisi Indonesia saat ini. Semua pihak harus mampu menggali kembali nilai-nilai itu. Dia bahkan meyakini, setiap budaya lokal di Indonesia memiliki akar sikap toleransi yang kurang lebih sama. Namun di sisi lain, Nur Said menyayangkan masyarakat mulai lupa modal kultural yang mereka miliki sendiri terkait sikap toleran itu.

“Justru yang penting sistem nilai dibalik tradisi dan sejarah itu. Ada falsafah hidup disana. Itulah yang harus kita gali kembali dengan serius,” imbuhnya.

Belajar Toleransi dari Pantai Lasem dan Kudus
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:40 0:00

Berbeda dengan kondisi masa lalu, kini Jawa Tengah justru masih harus menghadapi banyak persoalan terkait toleransi. Dalam laporan tahunan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, sepanjang 2017 ada banyak insiden terkait persoalan ini. Termasuk di antaranya 8 aksi terorisme yang melibatkan sedikitnya 21 terduga teroris, 4 peristiwa penolakan rumah ibadah, 15 tindakan penghentian kegiatan keagamaan, dan 2 peristiwa terkait isu pindah agama.

Ceprudin, dari eLSA menyatakan dalam laporan itu bahwa agar tidak terus terjadi tindakan intoleran, maka negara harus membatasi gerakan kelompok pelakunya.

“Negara harus bertindak intoleran pada kelompok-kelompok yang berusaha merusak kerukunan, perdamaian, dan kebhinekaan. Aparat pemerintah jangan tertipu dengan kata-kata “demi NKRI dan Pancasila”, padahal sesungguhnya bertujuan merusak NKRI dan Pancasila itu sendiri,” papar Ceprudin. [ns/is]

XS
SM
MD
LG