Tautan-tautan Akses

Mengajarkan Ilmu Politik di Kampus Amerika


Pendukung kampanye demokratik berbaris di jalan menuju Institut Politik New Hampshire di St. Anselm College sebelum debat, 5 September 2018. (Foto: AP/Charles Krupa)

Beberapa pihak menilai kepemimpinan di bawah Presiden Donald Trump telah menghadirkan tantangan bagi para guru besar politik di Amerika. Trump dianggap juga menciptakan pandangan politik mahasiswa yang lebih terpecah.

Sebagian kalangan, terutama di kampus-kampus perguruan tinggi dan universitas di Amerika beranggapan Presiden Donald Trump ikut mendatangkan tantangan bagi para guru besar ilmu politik di Amerika. Mereka menghadapi para mahasiswa yang dianggap lebih terpecah dalam hal pandangan politik mereka. Profesor Jennifer Lucas, yang telah mengajar mata kuliah ilmu politik selama lebih dari satu dekade di St. Anselm College di New Hampshire menceritakan hal itu kepada VOA.

“Saya telah mengajar mata kuliah politik Amerika selama 12 atau 13 tahun terakhir di kampus St. Anselm. Sebagai seorang profesor, saya rasa kadang-kadang kepresidenan Trump sulit disiasati," kata Professor Jennifer Lucas dari St. Anselm College.

"Terlepas dari apa yang saya rasakan tentang presiden atau bagaimana perasaan mahasiswa di kelas saya tentang presiden, pada era yang terpolarisasi ini berbeda dari yang sebelumnya," lanjutnya.

Seseorang berjalan di kampus Saint Anselm College, Jumat, 7 Februari 2020, menjelang debat partai Demokrat di Manchester, N.H. (Foto: AP / Matt Rourke)
Seseorang berjalan di kampus Saint Anselm College, Jumat, 7 Februari 2020, menjelang debat partai Demokrat di Manchester, N.H. (Foto: AP / Matt Rourke)

Jadi, menurut Professor Jennifer Lucas, kadang-kadang sulit bagi dirinya untuk berusaha menjelaskan ketika presiden mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak akurat atau hal-hal seperti itu.

"Sementara kami berusaha mengambil posisi politik tertentu, tetapi juga mencoba untuk mendapatkan kebenaran," ujarnya.

Profesor Lucas mengatakan keberpihakan telah menjadi bagian penting dari identitas sosial kita akhir-akhir ini. Oleh karena itu, ujarnya, identitas gender, identitas ras, dan isu LGBTQ juga menjadi masalah sesuai dengan garis partisan. Jadi, dia mengakui kadang-kadang sulit untuk membahas isu gender, misalnya, tanpa pembahasan yang bersifat partisan atau sesuai pemahaman kelompok-kelompok yang bersangkutan.

Sementara itu, seorang mahasiswi di Saint Anselm College, Ailish Husband, membenarkan pernyataan Profesor Lucas setelah mengikuti kuliahnya.

"Saya mengikuti kuliah Profesor Lucas tentang gender dan politik, dan saya pikir saya merasa, seperti banyak orang di kelas itu, cenderung condong ke kiri. Jadi kami belum pernah bertengkar di kelas," kata Ailish Husband.

Profesor Jennifer Lucas merasa interaksi di antara para mahasiswa di kelas kadang-kadang bisa menjadi lebih memihak dan memanas. Samantha Riley, seorang mahasiswi yang mengambil mata kuliah yang diajarkan oleh Profesor Lucas setuju dengan pendapat guru besarnya itu.

“Kita bisa mengatakan ada dua sisi. Setiap orang memiliki semacam argumen mengenai pendapat yang dipertahankan dengan keras dan kadang-kadang ada mahasiswa yang memiliki pendapat yang tidak dipercaya oleh mahasiswa lain," kata Samantha Riley.

Profesor Jennifer Lucas mengatakan kurikulum yang digunakan umumnya tidak banyak berubah. Ia berpendapat para ilmuwan politik berusaha untuk tetap berpegang pada pandangan jangka panjang, yakni sesuai prinsip-prinsip dalam perspektif sejarah dan perspektif kelembagaan.[lt/ab]

XS
SM
MD
LG