Tautan-tautan Akses

Menangkal Benih Radikalisme Melalui Counter Wacana di Media

  • Petrus Riski

Ilustrasi Aksi Jurnalis Surabaya pada Hari Buruh Internasional, 30 Agustus 2017. (Foto: VOA/Petrus)

Gerakan intoleransi dan radikalisme yang marak akhir-akhir ini di Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari penyebaran benih kebencian melalui media sosial, yang dianggap sebagai media alternatif terpercaya sebagian masyarakat. Media massa arus utama memiliki tantangan untuk dapat melawan wacana intoleransi dan radikalisme, yang banyak dilakukan melalui media sosial.

Dosen dan pakar radikalisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Ahmad Zainul Hamdi, menyebut media massa arus utama saat ini telah menjadi salah satu alat penyebaran benih kebencian, intoleransi dan radikalisme.

Hal ini terkait dengan adanya beberapa media massa konvensional seperti televisi, yang dipakai untuk menyiarkan ujaran kebencian yang dapat memicu aksi intoleransi dan radikalisme.

“Ada sesuatu yang hilang dari media mainstream itu adalah, kepekaan terhadap konten-konten yang bisa mengarahkan konsumennya untuk menjadi radikal. Di beberapa TV misalkan, acara-acara pengajian keagamaan itu diisi oleh orang-orang yang pesan-pesannya itu adalah pesan pesan kebencian. Padahal media TV itu secara umum bukanlah media yang secara khusus menyebarkan kebencian, atau media-media mainstream yang menurunkan berita, yang mereka tanpa sadari sebetulnya itu bisa melahirkan kebencian,” kata Ahmad Zainul Hamdi, Dosen dan Pakar Radikalisme UIN Sunan Ampel Surabaya.

Media massa arusutama, kata Ahmad Zainul Hamdi, saat ini juga diwacanakan oleh kelompok tertentu sebagai media penyebar berita bohong. Sementara informasi melalui media sosial menjadi lebih dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

Menyikapi hal itu, Ahmad Zainul Hamdi mendorong media massa arus utama untuk melakukan perlawanan wacana yang merugikan media maupun jurnalisme. Perlawanan itu berupa penyampaian informasi yang benar, akurat dan menarik, bagi masyakat konsumen media.

“Sekarang ini banyak sekali media yang sebetulnya dibangun tidak untuk mencerdaskan, tapi justru untuk membodohkan, menyebarkan hoax, dan kemudian yang paling berbahaya itu adalah menanam kebencian dan permusuhan. Nah kalau kita melakukan counter wacana, sebetulnya kita hendak melakukan perlawanan terhadap fitnah-fitnah melalui media itu, agar masyarakat juga mendapatkan perimbangan informasi. Mungkin tidak semua masyarakat itu melek, tapi setidak-tidaknya kalau mereka memiliki wacana yang berimbang, mereka memiliki kesempatan untuk berpikir kritis, tanpa mereka sendiri menyadari,” kata Ahmad Zainul Hamdi.

Praktisi media sekaligus Direktur TV 9 Surabaya, Ahmad Hakim Zaini mengungkapkan, media massa arus utama harus memikirkan strategi untuk melawan wacana pemanfaatan media sebagai alat penyebar kebencian, khususnya di media sosial. Media massa konvensional seperti televisi, harus mau melakukan konvergensi, dengan membuat tampilan serta konten yang menarik dan dapat dipercaya, untuk disuguhkan kepada konsumen media.

“Bagaimana agar kita tidak kalah menarik, tidak kalah cepat dengan media-media sosial yang kita sebut dengan abal-abal, itu adalah isu utama kita. Konten tentu dengan frame yang sudah kita atur. Jadi kalau kita misalnya melihat sebuah peristiwa, kita kan punya produksi berita, produksi berita kita kan sebenarnya sudah baku. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita memberitakan peristiwa itu dengan standar jurnalistik yang sudah kita miliki, tetapi semenarik fenomena media sosial,” kata Ahmad Hakim Zaini, Direktur TV9 Surabaya.

Hakim menegaskan pentingnya pengawalan dan pengawasan terhadap konten siaran dan pemberitaan, sehingga bila didapati ada pelanggaran, Dewan Pers atau instansi berwenang dapat melakukan tindakan penegakan aturan.

“Kalau memang itu media formal, Dewan Pers harus turun tangan, dan harus punya gigi. Kalau dia bukan media formal, ya kita harus bisa melakukan upaya bahwa itu bukan media yang layak dipercaya, tanpa harus kita menjelekkan mereka, dengan cara counter wacana itu dengan, ini loh berita yang sesungguhnya,” lanjutnya.

Sementara itu, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Eben Haezer mengatakan, saat ini sudah didapati pengkotak-kotakan atau pengelompokan jurnalis dan media yang berpihak pada sentimen agama atau kelompok tertentu. Itu berbahaya bagi demokrasi dan kebebasan pers.

Eben menegaskan pentingnya ideologi yang dimiliki jurnalis tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi dan dasar dalam berbangsa dan bernegara, dan inilah yang digunakan untuk membuat produk berita.

“Ideologi jurnalis ini penting untuk kemudian kita menumbuhkan teman-teman jurnalis yang punya concern bersama, concern terhadap upaya untuk membangun masyarakat yang cinta kedamaian, tidak radikal. Kita bisa menghargai orang lain, apa pun agamanya, tidak kemudian menjadikan ideologi itu sebagai patokan utama untuk membuat produk jurnalistiknya. Itu yang penting. Jadi bagaimana teman-teman jurnalis ini, meskipun dia punya ideologi, apa pun ideologi agamanya juga latar belakangnya, yang paling penting adalah ada sesuatu yang harus kita lindungi bersama, dasar negara, kedamaian, persatuan bangsa. Itu yang sebenarnya kita bisa kejar bareng,” kata Eben Haezer, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG