Tautan-tautan Akses

Analis: Membela Diri dari Misil Balistik Korut Semakin Sulit dan Mahal


Sebuah rudal terlihat saat pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi latihan sub-unit artileri jarak jauh Tentara Rakyat Korea, di Korea Utara dalam gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) Korea Utara pada 2 Maret 2020 (Foto: KNCA via Reuters)

Para analis keamanan mengatakan misil balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) baru Korea Utara yang dipamerkan pada parade militer pekan lalu, tampaknya dirancang untuk membuat pertahanan misil AS kewalahan. Menurut mereka, ini merupakan suatu perkembangan yang mungkin memacu AS untuk menambah pencegat baru yang mahal.

ICBM raksasa, yang terbesar yang pernah dipamerkan Korea Utara, kemungkinan besar merupakan “senjata strategis baru” yang dijanjikan oleh pemimpin negara itu, Kim Jong Un, pada awal tahun ini.

Misil tersebut belum diuji coba dan jarak jangkauannya tidak diketahui. Namun, kebutuhan Korea Utara kecil saja untuk membuktikan misilnya dapat terbang lebih jauh. Negara itu telah menguji coba sebuah ICBM pada tahun 2017 yang dapat menjangkau daratan Amerika Serikat.

Para analis mengemukakan, Korea Utara kemungkinan besar justru berupaya untuk menunjukkan bahwa beberapa hulu ledak nuklir dapat dipasang pada sebuah ICBM, membuat semakin sulit dan mahal bagi sistem pertahanan misil AS untuk mencegatnya.

“Kalau ada beberapa hulu ledak dari satu misil, kita sekarang harus memiliki beberapa pencegat untuk setiap hulu ledak yang datang,” kata Melissa Hanham, yang mengikuti dengan cermat program senjata Korea Utara. Hanham adalah deputi direktur Open Nuclear Network yang berbasis di Wina.

ICBM baru itu, ujar Hanham, tampaknya cukup besar untuk memuat bukan hanya beberapa hulu ledak tetapi juga umpan, yang dikenal sebagai alat bantu penetrasi, yang dapat membingungkan sistem pertahanan misil.

“Tidak murah untuk membuat misil seperti ini, tetapi ini jauh lebih murah daripada yang Amerika sekarang akan keluarkan untuk pertahanan misil,” lanjut Hanham.

Pertahanan misil selalu berisiko, karena lebih murah dan lebih mudah untuk membangun misil baru daripada membuat sistem pertahanan misil yang melibatkan sensor untuk mendeteksi dan banyak pencegat untuk setiap misil, kata Hanham.

Untuk mengimbangi berbagai perubahan dalam kekuatan Korea Utara yang kian berkembang, AS harus mengeluarkan “ratusan juta dolar untuk menambah pencegat,” kata Ankit Panda, spesialis kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace.

“Korea Utara, sementara itu, meskipun di bawah sanksi-sanksi ekonomi, tampaknya mampu sepenuhnya untuk terus meningkatkan kemampuan ICBM-nya,” lanjut Panda.

PBB memperpanjang sanksi-sanksi terhadap Korea Utara pada tahun 2017 setelah serangkaian uji coba nuklir dan ICBM oleh Pyongyang. AS dan Korea Utara terlibat dalam perundingan nuklir pada tahun 2018 dan 2019, tetapi Korea Utara akhirnya meninggalkan perundingan itu, marah terhadap penolakan AS untuk melonggarkan sanksi-sanksi dan memberikan jaminan keamanan lainnya. [uh/ab]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG