Tautan-tautan Akses

AS

Media Sosial Ikut Berperan Langsung dalam Insiden di Kongres?


Sejumlah pakar mengatakan media sosial ikut memainkan peran dalam insiden penyerbuan dan serangan di Kongres pada 6 Januari lalu. (Foto: AFP/Kirill KUDRYAVTSEV)

Sejumlah pakar mengatakan media sosial ikut memainkan peran dalam insiden penyerbuan dan serangan di Kongres pada 6 Januari lalu. Benarkah demikian? Berikut laporannya.

Dipicu oleh puluhan teori konspirasi di internet tentang pemilu presiden November lalu, para pendukung kuat Presiden Donald Trump menjawab seruan di dunia maya untuk bersama-sama melakukan “perlawanan” di Kongres pekan lalu.

Dalam pesan yang dibagikan dan diberi tanda “suka” ribuan kali, akun-akun media sosial milik kelompok kanan selama berminggu-minggu mengisyaratkan secara terbuka bahwa kerusuhan akan terjadi di Kongres ketika para anggota badan legislatif itu melangsungkan sidang untuk mengesahkan hasil pemilu presiden.

Sejumlah pakar media sosial mengatakan peran media sosial dalam huru-hara dan aksi kekerasan itu tidak dapat dihitung, tetapi signifikan dan langsung.

Seorang pengunjuk rasa pro-Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 di Washington. (Foto: AFP)
Seorang pengunjuk rasa pro-Trump menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 di Washington. (Foto: AFP)

“Apa yang terjadi di gedung Kongres merupakan hasil ketidakpedulian perusahaan-perusahaan media sosial terhadap pesan-pesan kebencian yang merajalela di platform media,” kata Imran Ahmed, CEO Center for Countering Digital Hate.

Lebih lanjut Imran mengatakan bahwa perusahaan media sosial membiarkan para aktor yang sedang memecah-belah untuk memanipulasi masyarakat dengan kebohongan-kebohongan besar. Seperti pernyataan bahwa pemilu telah dicurangi, yang disampaikan oleh puluhan atau ratusan juta orang.

“Ini jelas merupakan kudeta yang gagal. Namun, tindakan terorisme domestik ini ditanamkan, direncanakan dan kemudian dirayakan di platform-platform media sosial yang kita gunakan setiap hari,” imbuhnya.

Penyerbuan ke Kongres Buka Mata Banyak Orang

Peristiwa pada Rabu, 6 Januari itu, membuka mata sebagian orang tentang betapa berbahayanya teori konspirasi, terutama jika dibiarkan tidak terkontrol, ujar Jeff Orlowski, sutradara film “The Social Dilemma,” sebuah film yang dirilis Netflix tahun lalu.

Film “The Social Dilemma” menunjukkan bagaimana algoritma yang menarik perhatian yang dibuat perusahaan-perusahaan media sosial di Silicon Valley, telah memecah-belah dan menyebarluaskannya demi mengejar keuntungan yang berpotensi menjadi ancaman terhadap demokrasi Amerika.

“Saya kira sejumlah peristiwa mengerikan pekan ini merupakan contoh di mana orang-orang mengatakan 'eh tunggu dulu, lihat benang merah informasi yang disampaikan orang yang percaya teori konspirasi Qanon. Bagaimana mungkin teori-teori konspirasi bisa sangat dipercayai seperti ini?” ujar Jeff.

“Maksud saya, ini seperti keyakinan setingkat agama, gagasan dan ide-ide mereka seperti tidak melihat kenyataan yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Seorang pendukung Presiden Donald Trump membawa bendera pertempuran Konfederasi di lantai dua Capitol AS setelah melanggar keamanan, di Washington, 6 Januari 2021. (Foto: Reuters)
Seorang pendukung Presiden Donald Trump membawa bendera pertempuran Konfederasi di lantai dua Capitol AS setelah melanggar keamanan, di Washington, 6 Januari 2021. (Foto: Reuters)

Pengaruh Qanon tampak nyata ketika kerumunan massa memasuki aula Gedung Kongres atau Capitol. Ada foto yang menunjukkan polisi menangkis seorang laki-laki yang mengenakan baju kaos bertuliskan huruf “Q” di majelis Senat. Salah seorang promotor Qanon juga tertangkap kamera mengenakan tanduk banteng dengan wajah penuh cat.

Trump Dorong Pendukungnya Tolak Sertifikasi Hasil Pilpres

Presiden Trump mendorong para pengikutnya di Twitter dan Facebook untuk mengikuti demonstrasi pada Rabu (6/1). Trump sesekali menggunakan foto-foto seperti kondisi perang, untuk mendorong kehadiran pendukungnya.

Beberapa menit sebelum mereka menyerbu Gedung Kongres, Trump menyampaikan pernyataan keputusasaannya untuk mengubah hasil pemilu presiden. Pernyataan yang disampaikan di depan kerumunan massa itu penuh dengan teori konspirasi.

“Kavaleri akan datang Pak Presiden,” demikian salah satu cuitan para pendukungnya, yang diretwit oleh Presiden Trump pada 1 Januari, tentang rincian demonstrasi itu.

Setelah aksi kekerasan itu, Facebook dan Twitter memblokir Trump dari platform mereka. Dalam pernyataannya, Facebook mengatakan telah mencabut isi pesan yang memuji penyerbuan Kongres, seruan untuk membawa senjata dalam protes di seluruh Amerika, juga video dan foto-foto para demonsran di Kongres.

“Ini tidak cukup, tapi ini langkah awal,” ujar Jeff.

“Dibandingkan solusi yang harusnya dilakukan perusahaan-perusahaan media sosial ini dan cara mengubah sistem mereka, langkah ini hanya setetes air di ember,” kata Jeff.

“Yang membuat saya masih optimis adalah orang-orang di perusahaan ini –mungkin bukan para pemimpinnya, tetapi para karyawannya – yang mengatakan 'hei, melihat apa yang terjadi pada 6 Januari lalu, kita memiliki kewajiban moral untuk mengubah apa yang kita lakukan dan tidak membiarkan ini berlanjut,’” imbuhnya.

Jeff berharap peristiwa pekan ini bisa memaksa perusahaan-perusahaan media sosial ini untuk mengubah keadaan.

Pengunjuk rasa pro-Trump menyerbu Capitol AS untuk memperebutkan sertifikasi hasil pemilihan presiden AS 2020 oleh Kongres AS, di Gedung Capitol AS di Washington, 6 Januari 2021. (Foto: Reuters)
Pengunjuk rasa pro-Trump menyerbu Capitol AS untuk memperebutkan sertifikasi hasil pemilihan presiden AS 2020 oleh Kongres AS, di Gedung Capitol AS di Washington, 6 Januari 2021. (Foto: Reuters)

Seruan Lebih Waspada

Sementara Imran Ahmed memaparkan kemampuan masyarakat untuk membangun komunitas berdasarkan informasi yang salah dan membuat komunitas itu menjadi radikal lewat dinamika internal, merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya

“Kami belum pernah melihat hal ini. Kecepatan orang-orang ini untuk percaya pada situasi radikalisasi yang aneh juga mengerikan. Ini yang kami lacak setiap hari,” imbuhnya.

Dia mengatakan ada sejumlah peneliti di lembaganya yang menyaksikan bagaimana orang-orang yang sehari-hari dapat menyesuaikan diri dengan baik, menjadi orang yang bersedia melakukan tindakan ekstremis.

“Kita benar-benar harus melakukan sesuatu! Ruang-ruang media sosial ini tidak dapat ditoleransi lagi, dan juga ruang-ruang lain,” ujar Imran.

“Misalnya tidak ada hotel yang menerima orang-orang yang berencana membawa senjata ke Kongres dan menginvasi kawasan itu. Kita tentu tidak akan membiarkan Nazi berkumpul di hotel Anda. Nah kita seharusnya juga tidak membiarkan mereka berada di platform media sosial,” tegasnya. [em/ft]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG