Tautan-tautan Akses

Media Pemerintah Rusia Mulai Kecam Trump


Media pemerintah Rusia meyebut Presiden AS Donald Trump (kanan) lebih menakutkan daripada pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (foto: ilustrasi).

Ketika harapan Rusia bagi terbentuknya hubungan hangat saat Presiden Donald Trump berkuasa tidak menjadi kenyataan, media pemerintah yang menyambut secara meriah kemenangannya dalam pemilu yang lalu, kini berubah. Pada hari Minggu (16/4), mereka mengatakan Trump lebih menakutkan daripada pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Keputusan Trump untuk melancarkan serangan rudal terhadap Suriah, sekutu Rusia, menjatuhkan bom raksasa di Afghanistan, dan mempertahankan kebijakan era Obama di Krimea, menunjukkan harapan Rusia bahwa Trump bisa bersahabat dengan Kremlin telah redup untuk sementara waktu ini.

Kalau siaran TV pemerintah Rusia bisa dijadikan panduan, nada bicara keras dari Trump tentang program nuklir Korea Utara dan keputusannya untuk mengerahkan gugus tugas angkatan laut ke kawasan tersebut tampaknya telah melenyapkan setiap harapan Rusia, bahwa Trump akan lebih sedikit terlibat dalam urusan luar negeri dibandingkan pendahulunya.

Dmitry Kiselyov, penyiar TV Rusia untuk acara berita mingguan "Vesti Nedeli," oleh banyak kalangan dinilai sebagai pembawa acara pro-Kremlin. Dia sudah mulai mengurangi pujiannya terhadap Trump dan mulai mengecam pedas presiden AS itu.

"Perang bisa meletus sebagai akibat dari konfrontasi antara dua kepribadian; Donald Trump dan Kim Jong-un. Kedua-duanya berbahaya, tetapi siapa yang lebih berbahaya? Sudah tentu Trump."

Kiselyov melanjutkan dengan mengatakan bahwa Trump "lebih impulsif dan tidak bisa diramalkan" dibandingkan pemimpin Korea Utara dan mengatakan, kedua pria itu sama-sama mempunyai beberapa ciri negatif: "Pengalaman internasional yang terbatas, ketidakpastian, dan kesediaan untuk berperang".

Berbicara di depan gambar pemimpin dan komandan militer Korea Utara yang dipasang bersebelahan dengan gambar Trump, Kiselyov mengatakan, Kim Jong-un tidak sebegitu menakutkan dibanding presiden AS, karena ia siap untuk melakukan pembicaraan, tidak menyerang negara-negara lain, dan tidak mengirim sebuah armada angkatan laut ke pantai AS.

"Kim Jong-un tetap bertahan di dalam wilayah negaranya. Dia tidak merencanakan untuk menyerang siapapun," kata Kiselyov, yang dari dulu sudah bersikap anti-Amerika semasa pemerintahan Obama, dan pernah mengatakan Moskow bisa mengubah Amerika menjadi abu radioaktif.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov pada hari Senin mengecam Korea Utara karena melakukan "tindakan nuklir sembrono", tetapi memperjelas bahwa Rusia ingin Trump meredakan ketegangannya dengan Korea Utara itu. [ps/jm]

XS
SM
MD
LG