Tautan-tautan Akses

Media Amerika Kampanye Bersama Menentang Trump


Presiden Donald Trump menunjuk ke arah media saat berbicara di Ruang Kabinet, Gedung Putih, di Washington, 1 Agustus 2018.
Presiden Donald Trump menunjuk ke arah media saat berbicara di Ruang Kabinet, Gedung Putih, di Washington, 1 Agustus 2018.

Hubungan antara media Amerika dengan presiden sejak lama bersifat simbiotik atau saling membutuhkan, walaupun kadang-kadang juga tampak bertentangan. Tapi sejak Presiden Donald Trump masuk ke Gedung Putih, hubungan itu praktis telah menjadi bermusuhan.

Trump berulang kali menyebut media sebagai “musuh rakyat”. Ia juga menyebut wartawan sebagai orang-orang “berbahaya dan sakit”, dan malahan menuduh wartawan bisa menyebabkan timbulnya perang

Sejumlah media Amerika menyatakan sudah muak dengan retorika presiden itu, yang mereka sebut “berbahaya.” Pada hari ini, Kamis (16/8), mereka akan melancarkan kampanye terkoordinasi yang belum pernah terjadi, dipimpin oleh harian Boston Globe, yang menyatakan bahwa “perang kotor melawan pers bebas harus diakhiri.”

Redaktur harian New York Times James Bennet mengatakan, “penerbit kami telah mengambil sikap tegas tentang hal ini, dan kami berpendapat tiba saatnya kita menunjukkan solidaritas, khususnya pada saat banyak surat kabar sedang mendapat tekanan komersial dan politik.”

Menurut Presiden Trump, yang mengumumkan sebuah pertemuan off-the-record bulan lalu dengan penerbit harian New York Times A.G. Sulzberger, mereka membicarakan tentang “banyaknya berita palsu yang dikeluarkan oleh media.”

Sulzberger kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahasa yang digunakan Presiden Trump “bukan hanya memecah belah tapi juga semakin berbahaya.”

Setiap surat kabar Amerika yang ikut dalam kampanye melawan Trump, Kamis, akan menulis tajuk rencana mereka masing-masing.

“Saya suka dengan usaha gabungan ini, bukan hanya karena kami akan memberikan pesan yang sama, tapi mungkin ada surat kabar yang akan mengeluarkan pesan yang lebih agresif,” kata David Plazas, redaktur harian Tennessean.

“Pesan kami konsisten dengan nilai-nilai yang kami anut, yaitu mempertahankan Amandemen Pertama (tentang kebebasan menyatakan pendapat), untuk tetap berlaku sopan dan memberikan suara bagi orang-orang yang tidak punya suara.”

Bukan hanya surat-surat kabar yang ikut dalam kampanye ini. Asosiasi Radio Television Digital News minta pada 1.200 stasiun radio dan televisi anggotanya untuk menyumbang waktu siaran guna menjelaskan sikap bersama, memasang tajuk rencana di internet dan berbagi informasi dalam platform media sosial tentang peran yang mereka jalankan dalam menjaga hak publik untuk mengetahui apa saja yang dilakukan pemerintah.

“Saya sendiri pernah meliput Gedung Putih. Saya telah menyaksikan semua ini sejak lama. Tapi saya belum pernah melihat atau membayangkan situasi dimana terdapat banyak ketegangan dan permusuhan antara wartawan dan presiden, khususnya yang ditunjukkan oleh presiden sekarang,” kata Professor Frank Sesno, mantan koresponden CNN di Gedung Putih. Ia sekarang menjadi direktur School of Media and Public Affairs di Universitas George Washington.

Beberapa kritikus media konservatif menyebut reaksi media atas sikap Presiden Trump itu “berlebihan.”

“Walaupun serangan Trump atas media lebih keras daripada presiden manapun sejak pemerintahan Presiden Nixon, adalah haknya untuk menyatakan pendapatnya,” kata Don Irvine, ketua Accuracy in Media, sebuah organisasi pemantau media. [ii]

XS
SM
MD
LG